BPS DKI Optimistis Laju Inflasi Tahunan Ibu Kota di Bawah 5,5%

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta optimis laju inflasi Jakarta pada 2014 tidak akan melebihi target dari Bank Indonesia sebesar 5,5%.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 02 Oktober 2014  |  06:09 WIB
BPS DKI Optimistis Laju Inflasi Tahunan Ibu Kota di Bawah 5,5%
BPS DKI Jakarta optimis laju inflasi Jakarta pada 2014 di bawah 5,5%. -

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta optimistis laju inflasi Jakarta pada 2014 tidak akan melebihi target dari Bank Indonesia sebesar 5,5%.

Laju inflasi Ibu Kota pada bulan September mencapai 0,16%, lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,49%. Apabila dilihat laju inflasi tahunan atau dari Januari hingga September 2014 mencapai 4,12% dan secara year on year (YoY) atau dua belas bulan ke belakang laju inflasi Ibu Kota mencapai 4,84%

Dody Rudyanto, Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS DKI, menuturkan inflasi pada September mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,27%.

Kota Jakarta menempati urutan ke-50 dari seluruh kota yang mengalami inflasi. Dari 82 kota yang teliti, sebanyak 64 kota mengalami inflasi dan inflasi tertinggi berada di Pangkal Pinang sebesar 1,29%.

Pihaknya berharap inflasi di Jakarta dalam tiga bulan ke depan dapat mengalami penurunan dari inflasi bulan September mengingat laju inflasi hingga bulan September sudah mencapai 4,12%.

"Saya berharap inflasi Jakarta tetap terjaga mengingat Bank Indonesia menargetkan inflasi tahunan sebesar 5,5%," katanya kepada Bisnis, Rabu (1/10/2014).

Dody optimis inflasi tahunan Jakarta pada 2014 ini tidak melebihi dari target inflasi yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.

"Kami optimis inflasi tahunan kurang dari itu meskipun dalam waktu 3 bulan ada hari raya Iduladha dan Natal serta banjir yang kerap kali melanda Jakarta," ujarnya.

Pengendalian inflasi saat ini, lanjutnya, lebih dilakukan kepada komoditas bahan pangan di Jakarta, yaitu dengan menjamin ketersediaan stok bahan pangan Ibu Kota.

"Jakarta kan tidak menghasilkan produk bahan pangan. Semua kami impor dari daerah lain sehingga agar tidak terjadi kelangkaan kami kerja sama dengan daerah lain untuk menjaga pasokan bahan pangan," tutur Dody.

Pemprov DKI telah bekerja sama dengan Provinsi Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Selatan untuk memperkuat stok bahan pangan Ibu Kota, seperti beras, daging ayam, daging sapi, dan ikan.

"Nantinya tidak hanya itu saja tetapi bahan pangan lainnya seperti bawang, buah-buahan juga akan kami lakukan kerjasama dengan daerah luar," ucapnya.

Dody menambahkan adanya Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Jakarta berfungsi dalam pengendalian inflasi Jakarta.

Pasalnya, PIHPS ini membantu menginformasikan harga dan stok pangan di pasar tradisonal ke masyarakat sehingga tidak ada lagi penimbunan stok pangan oleh pelaku pasar baik pedagang maupun konsumen.

"PIHPS ini membantu dalam mengendalikan inflasi. Kalau banyak masyarakat yang menimbun bahan pangan akan menyebabkan kelangkaan dan harga yang tinggi sehingga berpengaruh pada inflasi. Bulan September bahan pangan malah deflasi. Ini bagus sekali, coba kalau Lebaran bahan pangan tidak menyumbang paling tinggi inflasi," terang Dody.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi

Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top