Banten Deflasi -0,64%

Badan Pusat Statistik (BPS) Banten mencatat kawasan ini mengalami deflasi sebesar -0,64% pada April 2016, tak berbeda dari capaian deflasi secara nasional pada periode yang sama.
Amanda Kusumawardhani | 02 Mei 2016 22:04 WIB
Pedagang daging ayam. - Antara/Zabur Karuru

Bisnis.com, TANGERANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Banten mencatat kawasan ini mengalami deflasi sebesar -0,64% pada April 2016, tak berbeda dari capaian deflasi secara nasional pada periode yang sama.

Adapun, indeks harga konsumen (IHK) turun dari 130,38 pada Maret 2016 menjadi 129,54. Deflasi kali ini lebih banyak disebabkan oleh penurunan harga yang signifikan dari sejumlah komoditas yakni bensin, cabai, tarif angkutan dalam kota, tarif listrik, dan beras.

“Jika dirinci, deflasi Banten pada April 2016 disumbangkan oleh dua komoditas utama yakni kelompok bahan pangan dan administered price,” kata Kepala BPS Banten Agoes Soebono, mengutip keterangan resminya, Senin (2/5/2016).

Pada Maret tahun ini, kawasan ini mengalami inflasi 0,10%, lalu Februari 2015 terjadi deflasi sebesar -0,2%, dan inflasi 0,88%.

Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, tingkat inflasi di Banten mencapai 0,71% akibat kenaikan harga bensin, daging ayam, dan bawang merah. Kenaikan inflasi di Banten masih lebih banyak oleh komoditas bahan pangan (volatile foods).

Berdasarkan Kajian Ekonomi Regional yang dirilis Bank Indonesia (BI) Banten, inflasi provinsi ini masih didominasi oleh komponen volatile foods. Sejumlah faktor ditengarai menjadi akibat dibalik dominasi inflasi volatile foods yakni biaya pupuk, logistik, dan gangguan cuaca.

Hal tersebut diperparah dengan posisi Banten sebagai wilayah defisit pangan, sehingga bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain.

Sementara itu, dua kota yang mewakili Banten yakni Serang dan Tangerang menempati peringkat deflasi terbesar masing-masing mencapai -0,7%, dan -0,66% se-Indonesia. Tak hanya itu, laju inflasi year-on-year (yoy) dipegang oleh Serang (4,79%), Tegal (4,44%), Cilegon (4,36%), Tangerang (4,16%), dan Kudus (3,95%).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
banten

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top