NOVEL BARU: Penulis Prancis Rilis Babad Ngalor Ngidul

Institut Prancis di Indonesia (IFI) menggelar peluncuran dan pembacaan novel Babad Ngalor Ngidul oleh penulis Prancis, Elizabeth D Inandiak, di auditorium IFI Jakarta, Sabtu (4/6) mendatang. Peluncuran buku ini merupakan rangkaian Festival Printemps Francais 2016
Azizah Nur Alfi | 01 Juni 2016 07:37 WIB
Ilustrasi - www.gla.ac.uk

Bisnis.com, JAKARTA- Institut Prancis di Indonesia (IFI) menggelar peluncuran dan pembacaan novel Babad Ngalor Ngidul oleh penulis Prancis, Elizabeth D Inandiak, di auditorium IFI Jakarta, Sabtu (4/6) mendatang. Peluncuran buku ini merupakan rangkaian Festival Printemps Francais 2016.

Inandiak menjelaskan novel terbarunya ini berawal dari cerita Pohon Gajah yang ditulis pada Juni 1991 untuk menyambut kelahiran anaknya. Kemudian cerita itu berkembang sejak terjadinya letusan gunung Merapi di Jogja pada 2006.

"Buku ini membawa kita ke sepuluh tahun silam, sekitar Mei 2006, ketika gempa menimpa selatan Jogja sampai saat-saat terakhir Si Juru Kunci Merapi. Letusan itu kita namakan bencana alam, padahal mereka tidak lain dari percakapan lama yang terlupakan antara yang di utara (lor) dan yang selatan (kidul), antara Laut Selatan dan Gunung Merapi: ngalor-ngidul," tutur Inandiak melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis.

Dalam penulisan novel Babad Ngalor Ngidul ini, Inandiak terinspirasi gaya menulis sastrawan Indonesia seperti Ahmad Tohari, Sindhunata, Ayu Utami, Dee Lestari, Gunawan Maryanto dan alm. Rongowarsito. Dia telah menerjemahkan novel Saman karya Ayu Utami ke dalam bahasa Prancis dan diterbitkan oleh penerbit Flamarion pada 2008. Di masa depan Inandiak berambisi menerjemahkan puisi-puisi Rongowarsito yang ia sebut sebagai Victor Hugo dari Indonesia.

Editor Kepustakaan Populer Gramedia Christina M Udiani menuturkan Inandiak memiliki gaya menulis yang berbeda dari orang kebanyakan. Inandiak memperhatikan kata yang dipilih, ada rima tersendiri dan percakapannya terkesan seperti sedang berpuisi, namun tetap terasa wajar jika diucapkan sehari-hari.

"Tak banyak penulis kita yang mampu melakukan hal seperti itu disini,” ujar Christina yang ikut mendampingi untuk penyuntingan novel karya Inandiak sebelumnya, Serat Centhini.

Hal lain yang membuat Babad Ngalor Ngidul berbeda dari Serat Centhini adalah keleluasaan untuk bergerak dan mengalir dalam pemilihan dan pengolahan kata atau kalimat yang dipakai.

"Mungkin hal ini terasa demikian karena ada banyak hal yang patut dipertimbangkan ketika menerjemahkan dan menulis ulang sebuah karya sastra kuno yang legendaris seperti Serat Centhini. Sementara Babad Ngalor Ngidul terasa lebih luwes dan akrab karena berasal dari khayalan dan interpretasi personal yang bersumber dari pengalaman pribadi dan kenyataan sekitar," imbuhnya.

Inandiak berkewarganegaraan Prancis namun berjiwa Indonesia. Datang ke Indonesia 25 tahun lalu sebagai seorang jurnalis. Ketertarikannya pada karya sastra pujangga Jawa, Centhini, berawal dari membaca sebuah disertasi doktor mahasiswa Indonesia di Universitas Sorbonne, Paris, yang ditulis Menteri Agama RI pertama, Mohammad Rasyidi, berjudul Critique et Consideration du Livre Centhini (Kritik dan Pemikiran atas Serat Centhini).

Karyanya Centhini: Les chants de l'île à dormir debout setebal 500 halaman mengantarnya meraih penghargaan dari Association des Ecrivains de Langue Française (2004).

Tag : buku
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top