Car Free Day Belum Efektif Kurangi Polusi di Jakarta

Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) sudah dilaksanakan sejak 2005 di DKI Jakarta, namum pelaksanaannya belum efektif untuk meningkatkan kualitas udara di Ibukota.
Nirmala Aninda | 23 September 2017 17:29 WIB
Suasana Car Free Day di Jalan Thamrin, Jakpus. - jakarta.go.id/Shinta

Bisnis.com, Jakarta -- Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) sudah dilaksanakan sejak 2005 di DKI Jakarta, tetapi pelaksanaannya belum efektif untuk meningkatkan kualitas udara di Ibukota.

Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), menyayangkan pelaksanaan car free day belum bisa mengubah kecenderungan masyarakat dari penggunaan kendaraan bermotor.

"HBKB dianggap berhasil jika terlihat ada perubahan gaya hidup di kota-kota besar dengan kecenderungan untuk menggunakan moda transportasi umum atau non motorized," ujarnya dalam konferensi pers 15 tahun HBKB di Balai Kota, Jumat (22/9/2017).

Dia mengatakan kenyataan di lapangan saat ini masih sangat sedikit jumlah masyarakat yang menggunakan kendaraan umum sehingga masih jauh dari harapan pelaksanaan CFD.

Meskipun kegiatan CFD sudah dilakukan selama lebih dari 10 tahun di kawasan Sudirman - Thamrin, pengaruhnya terhadap penurunan polusi hanya berlaku di kawasan itu saja.

Pengukuran road side tidak bisa mewakili kualitas udara DKI Jakarta secara keseluruhan.

"Di Sudirman - Thamrin menurun tapi di Casablanca polusinya meningkat karena selama CFD orang yang biasa lewat Sudirman pindah ke jalur alternatif," tukasnya.

Diah Ratna Ambarwati, Kepala UPT Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, mengatakan pelaksanaan HBKB merupakan tindak lanjut dari Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

Saat ini di DKI Jakarta sudah ada sejumlah stasiun pemantau udara yang terletak di lima wilayah.

Alat pengukur tersebut dapat menganalisa kandungan Partikulat PM 10, partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron), Nitrogen Oksida, dan Karbon Monoksida.

"Kita menganalisa kondisi udara pada jam tertentu, kemudian kita samakan. Pada saat tidak ada kendaraan sama sekali dan pada saat jam-jam sibuk," ujarnya.

Dia mengklaim dengan adanya HBKB penurunan pencemaran udara sangat signifikan hampir 70% tetapi fluktuasi karena pencemaran udara disebabkan oleh banyak faktor.

Selain dari kendaraan bermotor, ada juga faktor teknologi yang menyebabkan perubahan suhu, radiasi global serta perubahan arah dan kecepatan angin yang berpengaruh dengan kondisi polutan di udara.

Pada 2016 walaupun masih memberikan pengurangan pencemaran udara tetapi tidak sebagus 2015 yang penurunan pencemaran udara saat HBKB itu sampai 75%.

"2016 pengurangannya hanya 65% karena peningkatan jumlah pembangunan, jumlah kendaraan bermotor," ujarnya.

Tag : car free day
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top