Sandiaga Uno Sebut Pelaporan Dirinya ke Polisi Siklus Berulang

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan pelaporan dirinya ke polisi merupakan siklus yang berulang terjadi.
JIBI | 11 Januari 2018 10:35 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (kanan) bersama Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo (tengah) dan Kepala Perum Bulog Drive DKI Jakarta Mansur (kiri) memeriksa kualitas beras saat meninjau aktivitas perdagangan di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Rabu (27/12). Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan stok beras untuk wilayah Jakarta lebih dari 36 ribu ton sehingga persediaan beras dan distribusi akan lancar dan aman. ANTARA FOTO - Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan pelaporan dirinya ke polisi merupakan siklus yang berulang terjadi.

Hal tersebut terkait atas dugaan penipuan dan penggelapan atas penjualan lahan seluas satu hektar di jalan Curug Raya, Desa Kadu, Tangerang.

"Pertama yang kasus dulu saya pribadi, saya tidak akan menanggapi masalah hukum dan ini sudah menjadi siklus. Temen-teman sendiri (tahu), begitu saya memulai sesuatu yang...., udah tidak usah diterusin," kata Sandiaga di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (10/1/2018).

Pelapor bernama Fransiska Kumalawati Susilo mengatakan, kejadian bermula pada 2012. Saat itu, Sandiaga Uno dan rekan bisnisnya bernama Andreas Tjahyadi menjual satu hamparan lahan seluas hampir 1 hektar seharga Rp 12 miliar.

"Satu hamparan tersebut ada tiga Sertifikat," kata Fransiska saat dihubungi, Rabu (10/1/2018).

Dari tiga lahan di satu hamparan tersebut, kata Fransiska, ada satu bidang lahan seluas 3.000 meter milik Djoni Hidayat, yang ikut dijual oleh perusahaan milik Sandiaga dan Andreas, yakni PT Japirex.

Sandiaga dan Andreas membalik nama sertifikat lahan milik Djoni ke perusahaan mereka tersebut. Padahal, menurut Fransiska, jika suatu PT ingin membeli lahan harus ada rapat umum pemegang saham (RUPS). Namun, hal itu tidak terjadi. PT Japirex menguasai lahan tanpa melalui RUPS.

"Kalau jual beli juga harus ada AJB (akte jual beli). Ini tidak ada. Kok bisa balik nama ke PT lalu dijual, kan Aneh," kata Fransiska, mempertanyakan proses kepemilikan lahan dan proses penjualannya.

"Pasti ada yang dipalsukan."

Lebih lanjut, ia menuturkan, PT Japirex awalnya milik Edward Soeryadjaya. Lahan tersebut lalu diserahkan kepada istrinya bernama Happy Soeryadjaya, yang telah meninggal pada 1992.

Dari Happy, lahan seluas 3.000 meter tersebut diserahkan kepada Djoni. Selain itu, Edward telah menyerahkan PT Japirex kepada Sandiaga dan Andreas, empat hari setelah kepergian istrinya.

Sandiaga pemegang saham 40 persen PT Japirex sejak tahun 2001, sedangkan Andreas 60 persen sejak 1992.

"Sebab, Sandiaga dan Andreas adalah rekan bisnis almarhum Edward. Jadi, dipercaya untuk menguasai perusahaan," ujarnya.

Sejauh ini, Fransiska sudah mencoba untuk mempertanyakan masalah ini secara kepada Sandiaga Uno. Namun, Sandiaga tidak merespons.

"Bahkan, handphone saya diblok," ujarnya.

Juru bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono membenarkan laporan yang telah dilayangkan Fransiska ke polisi untuk Sandiaga Uno tersdebut.

"Sudah masuk," ujar Argo.

Sumber : Tempo

Tag : sandiaga uno
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top