REKOMENDASI SAHAM: ADHI Berpotensi Melambung

Emiten konstruksi pelat merah PT Adhi Karya Tbk. memiliki skema pembayaran baru untuk proyek light rail transit atau LRT Jabodetabek, yakni pembayaran tiga bulanan oleh PT Kereta Api Indonesia. Hal ini menjadi sentimen positif yang berpotensi mengerek harga saham perseroan tahun ini.
Emanuel B. Caesario | 14 Januari 2018 23:56 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek yang dikerjakan PT Adhi Karya. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten konstruksi pelat merah PT Adhi Karya Tbk. memiliki skema pembayaran baru untuk proyek light rail transit atau LRT Jabodetabek, yakni pembayaran tiga bulanan oleh PT Kereta Api Indonesia. Hal ini menjadi sentimen positif yang berpotensi mengerek harga saham perseroan tahun ini.

Tahun lalu, kinerja saham emiten dengan kode ADHI ini tidak cemerlang, tetapi justru ditutup di zona merah, atau turun dibandingkan posisi akhir 2016. Secara umum, sentimen negatif memang membayangi emiten kontraktor tahun lalu, terutama karena isu arus kas yang terhambat.

Namun, dengan adanya kejelasan skema pembayaran bagi proyek terbesar ADHI ini, investor boleh berharap kinerja perseroan akan cukup sehat tahun ini. Pembayaran pertama akan diterima ADHI pada 18 Januari 2018 mendatang senilai Rp4 triliun berdasarkan pengembangan proyek LRT hingga September 2017.

Maxi Liesyaputra, Analis BNI Sekuritas, mengatakan bahwa kepastian pembayaran tersebut akan memberikan sentimen positif terhadap arus kas ADHI, teruma karena proyek LRT butuh investasi besar.

Maxi mengatakan, pihaknya masih yakin terhadap pertumbuhan positif kinerja ADHI ke depan. BNI Sekuritas memperkiraan pendapatan dan laba bersih ADHI pada 2017 masing-masing Rp14,6 triliun dan Rp512,6 miliar.

Sepanjang tahun ini, BNI Sekuritas memperkirakan ADHI akan mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih masing-masing 17% YoY menjadi Rp17,1 triliun dan 26,6% YoY menjadi Rp649,2 miliar pada 2018 dibandingkan estimasi 2017 tersebut.

Marjin laba operasi dan laba bersih tahun ini diperkirakan masing-masing 9,3% dan 3,8%, sementara tahun lalu masing-masing sebesar 9,1% dan 3,5%. Di samping itu, perusahaan diperkirakan dapat mencatat ROE sebesar 10,2% dan ROA sebesar 2,9% pada 2018 dibandingkan perolehan ROE sebesar 8,8% dan ROA sebesar 2,6% pada 2017.

Saat ini, saham ADHI diperdagangkan dengan PER dan PBV masing-masing 11,1x dan 1,1x berdasarkan proyeksi kinerja 2018. Ini masih lebih rendah dibandingkan rata-rata industri dengan PER sebesar 13,1x dan PBV sebesar 1,8x.

“Kami merekomendasikan beli untuk ADHI dengan target harga sebesar Rp2.800 per saham untuk 12 bulan ke depan,” ungkap Maxi dalam risetnya yang terbit pekan lalu.

Adrianus Bias Prasuryo, Analis UOB Kay Hian, sepakat bahwa kepastian metode pembayaran tersebut menghilangkan ketidakpastian dari keberlanjutan mega proyek LRT di Jabodetabek serta masalah arus kas ADHI.

UOB Kay Hian memberi rekomendasi beli dengan target harga lebih tinggi, yakni Rp3.200. Target harga ini merefleksikan potensi imbal hasil hingga 57,63% dari harga penutupan saham ADHI akhir pekan lalu di level Rp2.030 per saham.

Seperti diketahui, pemerintah telah memutuskan bawha PT KAI tetap menjadi pemegang konsesi, operator dan investor LRT dengan total invests RP25,7 triliun. Kesepakatan konsesi telah ditandatangani bersama Menteri Perhubungan pada 19 Desember 2017 lalu.

Di sisi lain, ADHI hanya akan mengembangkan fasilitas depo dan stasiun dengan total investasi Rp4,2 triliun dan ini akan disewa oleh KAI untuk waktu tertentu dengan komitmen pembelian setelah masa sewa berakhir.

Pada hari yang sama, ADHI juga menandatangani kontrak konstruksi yang direvisi untuk proyek ini dengna total nilai RP20,7 triliun dan ini tidak termasuk nilai reimbursement bunga selama konstruksi (Interest During Construction/IDC).

Tag : adhi karya
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top