BUMN Karya Perlu Lebih Selektif Memilih Proyek dan Sumber Pendanaan

Sejumlah pihak menyarankan agar kontraktor pelat merah lebih selektif dalam memilih sumber pendanaan dan menyeleksi proyek infrastruktur yang ddikerjakan untuk menjaga posisi arus kas.
M. Nurhadi Pratomo | 14 Maret 2018 01:46 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek yang dikerjakan PT Adhi Karya. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah pihak menyarankan agar kontraktor pelat merah lebih selektif dalam memilih sumber pendanaan dan menyeleksi proyek infrastruktur yang ddikerjakan untuk menjaga posisi arus kas.

Managing Director Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LM FE UI) Toto Pranoto menyarankan agar kontraktor badan usaha milik negara (BUMN), yang masih membukukan arus kas negatif, memilih sumber pendanaan dengan tepat. Hal tersebut khususnya untuk pembangunan proyek infrastruktur yang bersifat jangka panjang.

Selain skema pembiayaan, sambungnya, kontraktor BUMN perlu lebih selektif dalam menerima proyek infrastruktur. Artinya, apabila kapasitas produksi sudah berlebih maka sebaiknya mengerem pekerjaan baru.

“Kalau kapasitas sudah overload sebaiknya fokus bereskan proyek outstanding,” jelasnya saat dihubungi, Selasa (13/3/2018).

Di sisi lain, Toto menjelaskan bahwa PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT PP (Persero) Tbk., dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., memiliki segmentasi pasar yang berbeda. Untuk emiten yang saat ini banyak mengerjakan proyek infrastruktur, diharapkannya mampu mengembangkan pekerjaan dari lini pendapatan lain.

“Adhi Karya dan Waskita Karya supaya mulai meningkatkan segmentasi pasar di luar infrastruktur sehingga punya basis pendapatan yang lebih terdiversifikasi,” paparnya.

Head of Research Ekuator Swarna Sekuritas David Sutyanto menilai arus kas sejumlah emiten pelat merah negatif akibat pembayaran sejumlah proyek yang baru masuk baik pada kuartal IV/2017 maupun kuartal I/2018. Dengan adanya pembayaran yang diterima, menurutnya para investor tidak perlu mengkhawatirkan arus kas BUMN karya.

“Jadi beberapa BUMN karya sudah menerima pembayaran tetapi beda tahun buku saja. Saham-saham mereka masih prospektif,” ujarnya.

Sementara itu, Frankie Wijoyo Prasetio, Branch Manager Phintraco Sekuritas Medan menilai emiten kontraktor BUMN akan mendapatkan katalis positif dengan membukukan arus kas positif. Pasalnya, permasalahan arus kas kerap menjadi penahan laju saham empat emiten tersebut.

“Kalau masalah arus kas negatif bisa diselesaikan saya kira saham emiten kontraktor BUMN malah akan naik cukup signifikan ke depannya. Apalagi, pergerakan harga saham sudah mulai menuju uptrend,” tuturnya.

Tag : bumn karya
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top