IPM Jakarta Tertinggi di Indonesia

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jakarta mencapai 80,06 poin pada 2017, lebih tinggi dari capaian nasional yang sebesar 70,81 poin.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 16 April 2018 20:31 WIB
Wisatawan mengunjungi kawasan Monumen Nasional atau Monas. - JIBI/Veronika Yasinta

Bisnis.com, JAKARTA -- Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jakarta mencapai 80,06 poin pada 2017, lebih tinggi dari capaian nasional yang sebesar 70,81 poin.

IPM merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup masyarakat dalam jangka waktu tertentu. IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup layak (decent standard of living).

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menuturkan capaian IPM DKI Jakarta pada 2017 menggambarkan bahwa pencapaian pembangunan kualitas hidup manusia di tempat tersebut memiliki status sangat tinggi. Sementara itu, nilai IPM di rentang 70--80 poin menandakan pencapaian pembangunan manusia berada dalam status yang tinggi, sedangkan nilai sebesar 60--70 pointberada di status sedang.

Adapun IPM di bawah 60 poin dinilai dalam status yang rendah. Provinsi yang memiliki nilai tersebut adalah Papua.

"IPM Jakarta naik menembus batas kategori tinggi [pada 2016] menjadi sangat tinggi [2017]," kata Kepala BPS DKI Jakarta Thoman Pardosi kepada Bisnis, Senin (16/4/2018).

Menurutnya, DKI Jakarta merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang bisa mencapai angka di atas 80 poin. Capaian pada 2017 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 79,6 poin atau naik 0,46 poin.

"IPM [berguna] untuk melihat pembangunan itu berdampak atau tidak dengan manusianya," ujar Thoman.

Dia menjelaskan ada tiga indikator untuk menyusun IPM. Pertama, Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH), yakni jumlah tahun yang diharapkan tercapai oleh bayi yang baru lahir untuk bertahan hidup.

Kedua, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS) untuk mengukur serapan pengetahuan yang bisa didapatkan oleh masyarakat dalam satuan waktu. Ketiga, pengeluaran per kapita, yakni biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi seluruh anggota rumah tangga.

Menurut data BPS DKI Jakarta, UHH Ibu Kota pada 2017 mencapai 72,55 tahun atau lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional selama 71,06 tahun. Adapun HLS DKI Jakarta 2017 mencapai 12,86 tahun atau lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional selama 12,85 tahun.

Sementara itu, RLS DKI Jakarta berada pada 2017 mencapai 11,02 tahun atau lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional yang selama 8,10 tahun. Adapun pengeluaran per kapita DKI Jakarta pada 2017 mencapai Rp17,7 juta per tahun atau jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional senilai Rp10,66 juta per tahun.

IPM DKI Jakarta secara umum mengalami pertumbuhan pada 2017 dibandingkan dengan 2016 dilihat dari seluruh indikatornya. UHH DKI Jakarta pada 2017 naik 0,06 tahun dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

HLS DKI Jakarta pada tahun lalu naik mencapai 0,13 tahun dibandingkan dengan 2016, sedangkan RLS DKI Jakarta pada 2017 naik 0,14 tahun dibandingkan dengan 2016. Selain itu, pengeluaran per kapita masyarakat DKI Jakarta pada 2017 naik sebesar Rp239.000 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, IPM secara nasional meningkat dari 66,53 poin pada 2010 menjadi 70,81 poin pada 2017. Selama periode tersebut, IPM Indonesia rata-rata tumbuh sebesar 0,89% per tahun dan meningkat dari status sedang menjadi tinggi pada 2016.

Khusus pada periode 2016–2017, IPM Indonesia tumbuh 0,9%.

Tag : dki jakarta
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top