Aetra Gencarkan Penetrasi ke Pelanggan Komersial

PT Aetra Air Jakarta (Aetra) membidik penambahan sambungan baru dari pelanggan komersial (key account) di wilayah DKI Jakarta.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 29 Agustus 2018  |  20:49 WIB
Aetra Gencarkan Penetrasi ke Pelanggan Komersial
Seorang karyawan PT Aetra Air Jakarta mengecek meteran melalui fitur Global Positioning System (GPS) di sebuah perumahan di sekitar Rawamangun, Jakarta, Selasa (14/6). PT Aetra Air Jakarta saat ini memiliki 332 perangkat genggam GPS untuk pembacaan meter air real time online yang mampu mengirimkan data, rekam gambar dan data lokasi melalui alat tersebut. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT Aetra Air Jakarta (Aetra) membidik penambahan sambungan baru dari pelanggan komersial (key account) di wilayah DKI Jakarta.

Direktur Planning and Development Aetra Hari Yudha Hutomo mengatakan saat ini jumlah konsumen komersial baru mencapai 6.373 pelanggan dari total 450.000 pelanggan.

"Kami menargetkan penambahan sambungan baru untuk kategori pelanggan komersial lebih dari 84 pelanggan di semua area pelayanan Aetra," katanya dalam acara Sosialisasi Pengendalian dan Pemanfaatan Air Tanah, Rabu (29/8/2018).

Meski jumlahnya sedikit, pelanggan komersil justru berkontribusi 60%-70% dari total pendapatan (revenue) perusahaan setiap tahun.

Dia menuturkan jumlah kubikasi pemakaian air oleh pelanggan komersial terhitung Januari-Juli 2018 lebih dari 33 juta m3. Jumlah tersebut lebih besar dibanding target Aetra yakni 32 juta m3 yang ditetapkan saat mengesahkan rencana bisnis (business plan) akhir tahun lalu..

Menurutnya, total konsumsi pelanggan komersial saat ini dan calon konsumen baru masih dapat dipenuhi oleh Aetra.

"Kapasitas produksi kami saat ini berkisar 10.500 liter/detik yang berasal dari IPA [instalasi pengolahan air] Buaran dan Pulo Gadung. Jumlah ini sangat cukup meng-cover pelanggan baru," jelasnya.

Adapun, cakupan layanan operator air yang mendapat konsesi di Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan sebagian Jakarta Pusat tersebut saat ini berkisar 62%.

Meski demikian, Hari menuturkan sambungan pipa Aetra sudah mencapai 70%. Selisih perpipaan 8% belum dialiri oleh air bersih ke lokasi karena banyak pelanggan yang masih menggunakan air tanah.

Dia pun mengimbau agar para pelaku bisnis di Jakarta beralih dari air tanah ke air perpipaan. Manfaatnya bukan sekadar menjaga penurunan muka tanah Jakarta, tetapi keberlangsungan bisnis perusahaan.

"Kalau dibandingkan tarif air PAM dengan air tanah lebih murah PAM. Sudah 10 tahun tarif air PAM tak naik, hanya Rp12.500/m3 sementara air tanah lebih dari Rp20.000/m3," imbuhnya.

Asep Jatnaka, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Energi DKI mengatakan penurunan muka tanah yang terjadi saat ini disebabkan karena beberapa faktor, yaitu pengambilan air tanah secara masif, beban bangunan, konsolidasi ilmiah, dan faktor tektonik.

"Dari faktor-faktor tersebut yang paling bisa kami kendalikan itu pengambilan air tanah

Masyarakat harus setop ambil air tanah dan beralih ke perpipaan," jelasnya.

Untuk itu, Dinas Perindustrian dan Energi terus melakukan razia penggunaan air tanah, khususnya yang dilakukan oleh institusi atau perusahaan, di Jakarta. Razia tersebut telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu yang dipimpin langsung oleh Gubernur DKI Anies Baswedan.

Petugas di lapangan, lanjutnya, tak hanya melakukan razia. Jika perusahaan atau institusi kedapatan menggunakan air tanah secara ilegal maka yang bersangkutan dapat dikenai sanksi berupa teguran, peringatan, hingga penyegela sumur tak berizin.

"Razia dan pengawasan terus kami lakukan hingga saat ini. Kami berharap perusahaan di Jakarta segera menutup sumur deep well dan menjadi pelanggan PAM," kata Asep.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aetra

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top