Menjajal Mulusnya Kereta LRT Jakarta 

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui PT Jakarta Propertindo tengah melakukan finalisasi untuk memastikan agar moda transportasi umum berbasis rel tersebut dapat beroperasi pada Desember 2018. 
Feni Freycinetia Fitriani | 04 September 2018 10:30 WIB
Sebanyak 8 set yang terdiri dari 16 kereta LRT DKI sudah tiba di ibu kota dan siap digunakan pada saat Asian Games 2018. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sempat menjajal LRT tersebut ketika meninjau progres proyek ini, Minggu (15/7). - Bisnis/Feni Freycinetia Fitriani

Bisnis.com, JAKARTA -- Tak lama lagi, warga Ibu Kota akan memiliki kereta ringan (Light Rail Transit/LRT) untuk pertama kalinya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui PT Jakarta Propertindo tengah melakukan finalisasi untuk memastikan agar moda transportasi umum berbasis rel tersebut dapat beroperasi pada Desember 2018. 

LRT Jakarta Fase I rute Velodrome-Depo Pegangsaan II sebenarnya dibuat untuk perhelatan Asian Games 2018. Namun, beberapa kendala  di lapangan membuat proses pembangunan prasarana atau fisik, yakni stasiun dan jalur layang, belum rampung hingga sekarang.

Padahal, 16 kereta (cars) yang diproduksi oleh perusahaan asal Korea Selatan (Korsel), Hyundai Rotem Korea, seluruhnya telah tiba di Jakarta. 

Apapun yang terjadi, Jakpro memastikan LRT Jakarta siap melayani warga Ibu Kota yang berada di kawasan Rawamangun, Kelapa Gading, dan sekitarnya. Untuk itu, BUMD DKI yang bergerak di bidang properti dan utilitas tersebut melaksanakan uji coba atau trial operation guna mengecek sinkronisasi antara kereta, sistem, dan rel secara nyata. 

Tampilan luar LRT Jakarta./Bisnis-Feni Freycinetia

Direktur Utama PT LRT Jakarta Allan Tandiono mengatakan uji coba masih dilakukan terbatas dan berdasarkan undangan. 

"Kami memilih beberapa institusi pemerintahan, swasta, komunitas, dan media untuk merasakan sensasi naik LRT Jakarta. Uji coba ini dilakukan dengan pengawasan full dari tim teknis," ujarnya di Stasiun Velodrome, Rabu (28/8/2018). 

Bisnis Indonesia merupakan salah satu media yang terpilih mengikuti uji coba. Meski rute fase I dimulai dari Velodrome hingga Depo Pegangsaan II, selama uji coba, kereta hanya melaju dari Stasiun Velodrome hingga Stasiun Mall Kelapa Gading.

Opsi tersebut dipilih karena Jakpro masih merampungkan pembangunan infrastruktur di depo. 

Siang itu, puluhan orang yang berasal dari berbagai latar belakang menunggu di peron Stasiun Velodrome. Berbeda dengan Kereta Commuterline Jakarta (KCJ), peron LRT Jakarta berada di lantai 2 sehingga penumpang harus menaiki eskalator atau anak tangga.

Perbedaan lainnya, stasiun LRT milik Pemprov DKI tersebut dilengkapi dengan pintu pengaman (secure door) yang terbuat dari kaca tersebut dan membuka serta menutup secara otomatis mengikuti pergerakan kereta. Masyarakat pun tak perlu khawatir terjatuh jika berdiri terlalu dekat dengan rel karena benar-benar aman.

Setelah mendengar pengumuman dari pengeras suara, kereta LRT akhirnya datang. Rolling stock-nya terlihat sangat modern.

Kombinasi warna merah-putih serta sentuhan cat hitam dan emas membuat filosofi Indonesia terekam jelas dari luar. Sesuai namanya, LRT Jakarta juga terkesan compact dan tidak berat seperti kereta pada umumnya. 

Bagian dalam kereta pun tak kalah menarik. Warna putih mendominasi dinding dan lantai sehingga membuat interiornya terlihat luas.

Interior LRT Jakarta./Bisnis-Feni Freycinetia

Percikan warna merah pada pegangan tangan atau handle dan tiang di tengah kereta membuat tampilan makin kontras. Kesan modern-minimalis hadir pula di dudukan kereta.

Alih-alih menggunakan busa, LRT Jakarta justru melapisi kursi penumpang dengan material besi stainless sehingga mudah dibersihkan. 

Tak lama setelah pintu tertutup, kereta pun melaju menuju stasiun Mall Kelapa Gading. Berbeda dengan kereta yang umumnya ada "gujlak-gajluk", gerakan kereta terasa sangat halus dan mulus.

Hampir tidak ada goncangan sama sekali. Bukan itu saja, tidak ada suara yang dihasilkan dari kereta atau lingkungan sekitar membuat penumpang seakan berada di ruang kedap suara. 

Allan menerangkan selama uji coba kereta tidak melaju dengan kecepatan penuh. Hal ini dilakukan karena teknisi harus memastikan sinkronisasi antara kereta, rel, aliran listrik, pintu peron, dan lainnya. 

"Kecepatan di tikungan dan menuju stasiun berkisar 15-25 km/jam. Sementara itu, di jalur lurus baru bisa 40 km/jam," imbuhnya. 

Jakpro menegaskan siap mengintegrasikan stasiun LRT Velodrome dengan Halte Transjakarta menggunakan jembatan layang.

Allah menuturkan pembangunan skybridge akan membuat pelanggan nyaman berpidah dari Transjakarta ke LRT atau sebaliknya. Selain nyaman, warga juga akan merasa aman karena tak perlu menyebrang menggunakan zebra cross.

"Kebetulan halte Transjakarta Pemuda Rawamangun letaknya hanya 100 meter dari stasiun ini. Pasti kami integrasikan dengan membangun skybridge misalnya," ucapnya.

Interior LRT Jakarta./Bisnis-Feni Freycinetia

Transjakarta yang berada di sekitar kawasan Rawamangun, Jakarta Timur merupakan koridor 4A dengan rute Grogol-TU Gas. Di rute tersebut, Transjakarta mematok waktu tempuh hanya 35 menit pada jam-jam sibuk di pagi hari saat orang berangkat kerja.

Adapun rute LRT Velodrome-Mall Kelapa Gading ditempuh hanya dalam waktu 10 menit saja.

"Teman-teman Transjakarta sangat yakin waktu tempuh dari Pemuda ke Dukuh Atas bisa 35 menit. Kalau ditambah naik LRT 10 menit, berarti warga Kelapa Gading, Kayu Putih, Pulo Mas akan sampai ke Dukuh Atas dalam 45 menit saja," ungkap Allan.

LRT ditargetkan dapat mengangkut 10.000 penumpang pada pagi hari ketika awal beroperasi. Dengan adanya integrasi dengan Transjakarta, jumlah penumpang diperkirakan makin banyak.

Satu rangkaian yang terdiri dari empat kereta dapat menampung maksimal 560 penumpang sekali jalan dengan rute Stasiun Velodrome menuju Mall Kelapa Gading.

"Jika integrasi antarmoda telah terlaksana, saya yakin LRT DKI dapat mengangkut hingga 20.000 penumpang setiap hari," jelasnya.

Tag : Jakarta, LRT
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top