Pemilu 2019: Pemilih di Jakarta Timur Paling ‘Toleran’ dengan Praktik Politik Uang?

Mayoritas pemilih di Jakarta Timur dapat menerima praktik politik uang dan pemberian hadiah dalam pemilihan umum legislatif, sedangkan di Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu berpandangan sebaliknya.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 12 Februari 2019  |  00:47 WIB
Pemilu 2019: Pemilih di Jakarta Timur Paling ‘Toleran’ dengan Praktik Politik Uang?
Mahasiswa melakukan teatrikal ketika menggelar aksi Lawan Politik Uang di Jalan Urip Sumoharjo Solo, Jawa Tengah, Selasa (26/6). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Mayoritas pemilih di Jakarta Timur dapat menerima praktik politik uang dan pemberian hadiah dalam pemilihan umum legislatif, sedangkan di Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu berpandangan sebaliknya.

Fenomena itu terekam dalam laporan survei Charta Politika Indonesia bertajuk Menerka Wajah Wakil Rakyat Ibu Kota 2019-2024. Pengambilan sampel dilakukan di tiga daerah pemilihan (dapil) Pileg 2019.

Pemilih di Jakarta Timur, yang merupakan Dapil DKI Jakarta I, tercatat paling ‘toleran’ dengan praktik politik uang. Sebanyak 58,2% penduduk setempat dapat memaklumi pemberian uang atau hadiah, sementara 31,3% lainnya menentang.

Tingkat penerimaan politik uang juga dominan di Dapil Jakarta II yang meliputi Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Namun, selisih antara pemilih yang memaklumi dengan yang menolak tidak sebesar di Jakarta Timur. Bila pemilih yang memaklumi sebanyak 47,0%, pemilih yang menolak politik uang 41,0%.

Bertolak belakang, pemilih Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu yang masuk Dapil DKI Jakarta III tidak memaklumi praktik tersebut. Hanya 42,6% pengguna hak pilih yang dapat menerima politik uang, sedangkan 47,6% pemilih tidak dapat memaklumi.

Charta Politika menemukan sembako dan kaos merupakan hadiah yang paling disukai pemilih di tiga dapil tersebut. Kalender, mug, dan mukena juga diminati meski persentase yang menyukai hanya di bawah 10%.

Survei Charta Politika dilaksanakan sepanjang 18-25 Januari 2019 melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan kuisioner terstruktur terhadap 800 responden di setiap dapil. Usia minimum responden adalah 17 tahun atau sudah memenuhi syarat sebagai pemilih.

“Dengan jumlah sampel sebanyak 800 responden, marjin kesalahan +/- 3.46% pada tingkat kepercayaan 95%,” kata Direktur Riset Charta Politika Muslimin dalam keterangan tertulis, Senin (11/2/2019).

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jakarta, Pemilu 2019, Pilpres 2019

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top