Jakarta Jadi Tuan Rumah Formula E : Demi Gengsi atau Ekonomi?

Ajang balap memang menyimpan potensi besar untuk mendongkrak perekonomian. Namun, semua keuntungan sangat tergantung dengan strategi pengelolaan serta segmen penonton dari ajang balapan yang dibidik.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 19 Juli 2019  |  08:38 WIB
Jakarta Jadi Tuan Rumah Formula E : Demi Gengsi atau Ekonomi?
Laga Formula E di jalanan Brooklyn, New York, AS pada Minggu (14/7/2019). Berbeda dengan ajang Formula 1, balapan ini menggunakan mobil bertenaga listrik dan digelar di jalanan kota. - USA Today Sports via Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Belum juga terwujud rencana menggelar MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok, ada kabar baru datang dari New York pada pekan lalu. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berhasil melakukan negosiasi dengan prinsipal penyelenggaraan balap Formula E.

Dalam unggahan di akun resmi Instagram milik Anies, disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sukses melobi pemegang prinsip Formula E. Hasilnya, pada 2020, Jakarta diklaim menjadi kota penyelenggara salah satu seri balapan mobil supercepat bertenaga listrik tersebut.

Balapan Formula E berdurasi lebih singkat dari ajang balapan Formula 1 (F1) yang lebih populer. Hanya sekitar 45 menit di atas trek pendek. Karena itu, balapan ini pun cocok untuk diselenggarakan di sirkuit jalanan.

Kabarnya lagi, Pemprov DKI Jakarta telah memutuskan rute trek di jantung ibu kota, seperti sekitaran Monas. Calon rute balapan pun disebut telah menjalani survei sekaligus penilaian selama 3 bulan.

Lihat postingan ini di Instagram

Berdiri di sisi kiri adalah Alejandro Agag, CEO FIA Formula E, dan yang di sisi kanan Alberto Longo, Co-Founder dan CCO FIA Formula E. Kami berfoto bersama di lintasan balap Formula E di Brooklyn, New York, sesaat sebelum bendera start dikibarkan. Pembahasan tentang Jakarta cukup panjang. Bukan karena alot, tapi karena sama-sama semangat. Bahkan, tak terasa waktu berjalan cepat: kita berdiskusi dan saling lempar ide hingga lebih dari 3 jam dan baru berhenti karena sudah ada aba-aba bahwa pertandingan akan dimulai. Kitapun lalu bergegas ke lintasan balap. Ini momen 13 Juli kemarin, usai mencapai kesepakatan untuk menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota host Formula E 2020, kami bersama meninjau lintasan balap dan diakhiri kita foto bersama itu. Sepanjang menyusuri lintasan, mereka mengenalkan dengan tim peserta dan pembalapnya. Beberapa pembalap kenamaan ada disana. Saat kami menyapa, mereka semua sudah berjajar siap masuk ke mobil. Formula E adalah ajang balap mobil elektrik (E-Prix) pertama di dunia. Dengan tujuan memperkenalkan mobil listrik dan mengurangi emisi karbon melalui balapan yang serupa Formula 1, dilakukan di jalur jalanan dalam kota. InsyaAllah Jakarta akan menjadi tuan rumah untuk seri kejuaraan #FormulaE musim berikutnya, di tahun 2020. Ini akan menjadi Kejuaraan E-Prix pertama di Indonesia. Dari kajian awal atas rencana ini, E-Prix Jakarta berpotensi menghadirkan manfaat ekonomi di ibu kota senilai 78 juta Euro. Diperkirakan 35 ribu penonton baik internasional dan domestik akan menghasilkan transaksi ekonomi sekitar 1,6 juta Euro selama E-Prix berlangsung, baik di industri konsumsi, transportasi maupun akomodasi. Secara tidak langsung akan berdampak di sektor pariwisata kita juga ikut terangkat. Total nilai liputan media tentang Jakarta setara dengan 15 juta Euro. Jakarta akan menjadi sorotan dunia, liputan media asing menggaungkan nama Jakarta, Indonesia ke masyarakat dunia. Kita sejajar dengan kota-kota maju megapolitan lainnya. InsyaAllah, semua persiapan bisa berjalan lancar.....

Sebuah kiriman dibagikan oleh Anies Baswedan (@aniesbaswedan) pada

Anies mengungkapkan ajang Formula E akan menarik perhatian dunia. Selain itu, ajang tersebut diperkirakan mampu menghasilkan transaksi bisnis yang bakal dinikmati masyarakat sebesar Rp1,2 triliun.

Tiada yang salah terhadap segala harapan tersebut. Hanya saja, potensi ekonomi yang diperkirakan itu mesti ditelisik lebih jauh.

Anies menyatakan perkiraan itu muncul dari studi pendahuluan yang telah dilakukan. Namun, justru persoalan awalnya adalah berapa besar dana yang mesti digelontorkan demi memboyong ajang balap Formula E itu ke Jakarta.

Apalagi, mengutip jadwal Formula E untuk musim 2019/2020, hanya ada satu slot kosong yang belum disebutkan di mana balapan akan digelar. Slot tersebut adalah untuk balapan tanggal 14 Desember 2019.

Kisah Hong Kong pun bisa jadi pelajaran untuk membesut balapan Formula E. Pada 2016, secara perdana, Hong Kong jadi tuan rumah salah satu seri balap.

Sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Hong Kong menerima tawaran sebagai tuan rumah seri Formula E pada Oktober 2016. Tetapi, selama rencana itu bergulir, pemerintah setempat dibanjiri kritik.

Warga memprotes aktivitas bisnis yang tersendat yang membuat mereka kehilangan potensi ekonomi dan ada pula kekhawatiran bahwa ajang balapan yang masih kurang populer itu malah merugikan kas pemerintah.

Apalagi, akses warga pun turut dibatasi terhadap sirkuit yang sebelumnya diharapkan jadi hiburan penduduk Hong Kong. Mereka harus puas menonton balapan di jalanan kotanya melalui layar yang terpancang di trotoar.

Sebastien Buemi (tengah) merayakan keberhasilannya finis di peringkat ketiga dalam balapan Formula E di jalanan Brooklyn, New York, AS, Minggu (14/7/2019)./USA Today Sports via Reuters

Bahkan, terdapat perkiraan bahwa kerugian yang didera bakal mencapai 50 juta dolar Hong Kong pada tahun pertama penyelenggaraan. Namun, pihak Formula E Operation (FEO) berkukuh bahwa semua pengorbanan itu merupakan investasi awal demi menyukseskan ajang balapan mobil masa depan tersebut.

Ketakutan warga Hong Kong sangat mendasar. Pasalnya, selama 4 tahun digelar, ajang Formula E telah menelan investasi sebesar US$900 juta pada 2017.

Sebaliknya, secara keuangan, ajang tersebut masih terengah-engah karena selalu menimpakan kerugian bagi penyelenggara, yang tercatat sebesar US$140 juta selama periode 2014-2017. Informasi itu dituliskan Kontributor Senior Forbes Christian Stylt pada 25 Oktober tahun lalu.

Dia menyinggung laporan keuangan FEO, yang hanya berasal dari tuan rumah seri balapan serta sponsor.

Bahkan, informasi teranyar dari The Guardian yang dirilis pada Mei 2019, memberitakan bahwa ajang Formula E masih tercekik persoalan pendanaan. Laporan itu mengutip laporan keuangan yang berakhir pada 31 Juli 2018, yang menunjukkan adanya kenaikan pendapatan sebesar 33,5 juta pounds dibandingkan periode sebelumnya, menjadi 114,5 juta pounds. Kenaikan pendapatan dijaring dari sponsor baru, ABB Swiss.

Persoalannya, pada saat bersamaan, terjadi kenaikan biaya sebesar 38,4 juta pounds karena Formula E menambahkan lebih banyak staf dan mengembangkan mobil baru yang dapat bertahan di seluruh balapan.

Hingga saat ini, sebanyak 78 persen dari pendapatan Formula E berasal dari lisensi dan biaya untuk yang dikeluarkan tuan rumah. Ada 13 penyelenggara balapan seperti New York, Paris, Roma, dan Monako pada 2019.

Berdasarkan laporan keuangan tersebut, terdapat kenaikan dalam pos kewajiban bersih perusahaan sebesar 12,8 persen, dengan nominal 132,5 juta pounds. FEO juga masih menyusu kepada induk perusahaan yang berbasis di Hong Kong, yaitu Formula E Holdings.

Di sisi lain, Formula E memang masih menjanjikan keuntungan jangka panjang. Hal itu diharapkan datang dari tren kenaikan jumlah penonton, yang naik dari 220.000 orang pada 2017 menjadi 476.000 pada tahun lalu.

Persiapan Matang
Untuk menjaring laba dari ajang olahraga, memang dibutuhkan strategi dan persiapan matang. Indonesia harus banyak belajar kepada Malaysia dan Singapura.

Dalam International Journal of Consumer Policy (2016), Tim Peneliti dari Mara University of Technology Malaysia (UTM) meriset kebijakan dan preferensi para pengunjung kegiatan olahraga yang diselenggarakan Negeri Jiran.

Laga Formula E di jalanan kota Paris, Prancis pada Sabtu (27/4/2019)./Reuters

Mereka melakukan survei terhadap 736 para pengunjung atau penonton kegiatan seperti MotoGP dan Formula 1 di Malaysia. Para penonton itu berasal dari mancanegara dan domestik.

Sejak era 1990, Malaysia mengebut mega proyek untuk memfasilitasi kegiatan olahraga kelas internasional. Hasilnya seperti bangunan komplek olahraga Sepang, yang juga dilengkapi dengan sirkuit berkelas.

Lewat tawaran kegiatan olahraga berkelas internasional itu, Malaysia berhasil mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB). Bahkan, pada 2006, kontribusi paling besar terhadap PDB negara tersebut berasal dari sektor jasa, di mana kegiatan olahraga dan pariwisata menyumbang 12,5 persen terhadap PDB.

Dalam riset itu, ditemukan bahwa untuk menyaksikan F1, setiap penonton menghabiskan waktu 5 hari di Malaysia. Rata-rata, wisatawan membelanjakan sekitar 3.300 ringgit, atau setara Rp10 juta.

Malaysia memang sejak lama menggulirkan konsep Sport Tourism. Sehingga, para penonton yang semula berniat hanya menikmati laga olahraga, ikut kepincut dengan pesona ragam wisata. Hasilnya, jutaan rupiah dibelanjakan selama beberapa hari saja.

Untuk menggenjot pemasukan dari sektor tersebut, sebagaimana riset yang dilakukan Tim UTM, sangat tergantung dengan ekosistem yang dibangun. Hal paling krusial adalah akomodasi, kemudahan akses, serta kepuasan para wisatawan dalam menjelajah.

Marc Marquez dari Repsol Honda Team berlaga di ajang MotoGP yang digelar di Sepang International Circuit, Malaysia pada Minggu (4/11/2018)./Reuters-Lai Seng Sin

Secara khusus, Malaysia juga mengincar kalender penyelenggaraan olahraga yang banyak peminat. Tak pelak, ajang seperti F1, MotoGP, ataupun turnamen golf kerapkali mengundang penonton yang lebih banyak dari negara tetangganya, termasuk Indonesia.

Dari sudut pandang tersebut, ajang Formula E memang masih kategori rintisan. Seluruh dana yang dikeluarkan merupakan investasi jangka panjang, tak seperti ajang balapan lain yang dibesut Malaysia maupun Singapura.

Sehingga pada akhirnya, Pemprov DKI Jakarta pun harus siap jika belum bisa memanen hasil dari ajang perdana kelak pada 2020. Oleh karena itu, konsistensi pembenahan infrastruktur, akomodasi, serta ekosistem wisata berbalut ajang olahraga sangat menentukan keberhasilan memerah manfaat ekonomi dari ajang Formula E pada masa mendatang.

Paling tidak pada gelaran perdana Formula E di Jakarta nanti, Pemprov DKI Jakarta juga bisa membanggakan diri berhasil menjadi tempat rangkaian balapan internasional mobil bebas polusi tersebut. Ya, walau ibu kota masih pekat dengan polusi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dki, fokus, Formula E Championship

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top