Potret Senja Kala dan Penantian Asa Terminal Blok M

Suasana Terminal Blok M seakan menggambarkan perkembangan kota Jakarta dari masa ke masa. Tak hanya menjadi hub transportasi, kawasan ini turut berkontribusi terhadap perekonomian ibu kota.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 02 Agustus 2019  |  08:53 WIB
Potret Senja Kala dan Penantian Asa Terminal Blok M
Metro Mini S69 rute Ciledug-Blok M menunggu penumpang di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (30/7/2019). Terminal yang dulu selalu dipenuhi penumpang dan bus berbagai rute pada setiap waktu itu, kini terlihat lebih lengang. - Bisnis/Feni Freycinetia Fitriani

Bisnis.com, JAKARTA -- Berjalan kaki di sekitar Terminal Bus Blok M, Jakarta Selatan tepat pukul 12.00 WIB seperti uji nyali. Kaos katun lengan panjang pun rasanya tak akan mampu menahan teriknya sinar mahatari.

Soal polusi udara jangan ditanya lagi. Paru-paru tubuh sepertinya sudah kenyang menghirup asap Kopaja dan TransJakarta.

Terminal Blok M merupakan salah satu tempat pemberhentian bus dalam kota yang masih bertahan hingga saat ini. Kawasan bisnis dan terminal Blok M dioperasikan pada 1992, tepatnya di era kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto.

Kala itu, Terminal Blok M menjadi salah satu ikon ibu kota. Muda-mudi hingga orang tua, baik yang berasal dari Jakarta maupun luar kota, pasti pernah menunggu bus atau berbelanja di sana.

Sejumlah penumpang menunggu angkutan Metro Mini di jalur bus di Terminal Blok M, Jakarta, Senin (21/12/2015)./ANTARA

Selang 27 tahun, kondisi Terminal Blok M berubah drastis. Lajur yang dulu dipenuhi oleh puluhan perusahaan otobus seperti Mayasari Bakti, Kopaja, dan Metro Mini kini terasa sunyi dan sepi. Hanya ada 1-2 kendaraan besi tua yang masih berjuang menggantungkan haluan agar tak diterjang ombak modernisasi transportasi Jakarta.

Besi berkarat Kopaja dan Metro Mini harus bertekuk lutut kepada "kuda besi" bermerek Scania, Mercedez-Benz, dan Volvo yang berada di bawah kendali PT Transjakarta. Bus-bus modern dengan cat putih biru atau putih oranye kini sukses mendominasi jalur di Terminal Blok M.

Kondisi tak kalah miris terjadi di pusat perbelanjaan di bawah tanah atau yang dikenal dengan Mal Blok M. Sekitar 10 tahun lalu, hampir semua toko yang berada tepat di bawah Terminal Blok M tersebut dipenuhi oleh penyewa yang menjual berbagai jenis barang.

Kini, kios-kios tersebut ditutup rolling door yang dilengkapi dengan kertas bertuliskan "Disewakan". Banyaknya toko yang tutup tak pelak membuat jumlah pengunjung yang berbelanja di kawasan tersebut berkurang.

Direktur Pelayanan dan Pengembangan PT Transjakarta Achmad Izzul Waro mengatakan pihaknya memiliki keterikatan historis dengan Terminal Blok M sejak dulu hingga sekarang.

"Terminal Blok M merupakan bagian dari koridor I, yang pertama beroperasi di Jakarta. Itu sudah menggambarkan betapa strategisnya rute Blok M-Kota," ujarnya dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Revitalisasi Terminal Blok M, Senin (29/7/2019).

Suasana pusat perbelanjaan di bawah Terminal Blok M, Jakarta Selatan yang kini sepi pengunjung, Selasa (30/7/2019)./Bisnis-Feni Freycinetia Fitriani

Izzul Waro menyampaikan pada awal beroperasi, TransJakarta hanya berada di satu jalur terminal. Kini, dari 6 jalur yang tersedia, Transjakarta telah menguasai 3 jalur penuh dan 1 jalur untuk beberapa moda.

Adapun angkutan umum lain seperti Kopaja, Metro Mini, Mayasari Bakti, dan Damri hanya yang dulu menjadi mayoritas kini tersisih di jalur 4, 5, dan 6. (Lihat Infografik).

Bukan itu saja, dia mengungkapkan Blok M merupakan salah satu wilayah penting (important hub) bagi keseluruhan bisnis TransJakarta. Pasalnya, saat ini, arus penumpang dari Terminal Blok M mencakup lebih dari 110.000 penumpang per hari dari total 800.000 penumpang per hari.

"Bisa dibayangkan kalau halte ini ditutup, bisa-bisa anjlok hingga 25 persen. Blok M sangat sentral untuk TransJakarta," imbuhnya.

Meningkatnya cakupan layanan TransJakarta menjadi faktor pendorong bertambahnya okupansi jalur bus-bus milik pemerintah di Terminal Blok M. Menurut Izzul Waro, hal itu terjadi lantaran TransJakarta menggunakan sistem Bus Rapid Transit (BRT) sehingga berbeda dengan angkutan umum lainnya.

Sayangnya, bertambahnya rute TransJakarta tidak berbanding lurus dengan perbaikan fasilitas penunjang yang ada di Terminal Blok M. Berdasarkan pantauan Bisnis, pintu masuk (tap in) serta loket penjualan tiket TransJakarta yang terletak di area bawah tanah terlihat sudah usang.

Anak tangga yang sempit membuat antrean penumpang mengular sepanjang jam sibuk. Tidak adanya lift membuat Halte TransJakarta Terminal Blok juga tidak ramah dengan kaum disabilitas.

Izzul Waro pun mengamini segala kekurangan yang dirasakan penumpang di sana.

"Tidak banyak yang bisa kami lakukan untuk mengubah Terminal Blok M. Kewenangan [memperbaiki terminal] ada di Dinas Perhubungan DKI, yaitu UP Terminal. TransJakarta hanya user di sana," ungkapnya.

Proyek BOT
Perwakilan UP Terminal Dinas Perhubungan DKI Jakarta A. Syarif menerangkan Terminal Blok M merupakan proyek kerja sama antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan pihak ketiga, yaitu PT Langgeng Ayom Lestari (LAL). Proyek tersebut dibangun dengan konsep Built Operate Transfer (BOT).

"Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan PT LAL diteken untuk 30 tahun setelah operasional pada 1992. Dengan demikian, kerja sama tersebut akan berakhir pada 2022 atau 3 tahun lagi," sebutnya.

Syarif mengungkapkan hal itu yang membuat pemerintah kesulitan untuk merevitalisasi fisik Terminal Blok M. Pemprov DKI Jakarta baru bisa masuk setelah PKS berakhir dan PT LAL sudah menyerahkan semua aset kepada pemerintah ibu kota.

Dia tak menampik bahwa suasana senja kala sudah terjadi di kawasan Blok M, baik terminal maupun Mal Blok M. Meski demikian, Syarif berharap waktu 3 tahun dapat dioptimalkan untuk menyusun rencana ke depan terkait pengelolaan Terminal Blok M.

Meski kerja sama BOT sudah berlangsung selama 27 tahun, geliat bisnis di kawasan Blok M mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir.

"Selama 30 tahun melaksanakan BOT, bisnis kami mengalami penurunan drastis dalam 2-3 tahun terakhir. Okupansi toko yang tadinya 98-99 persen turun tajam menjadi hanya 15 persen. Titik nadir Mal Blok M sudah terjadi pada 2016," ungkap perwakilan PT LAL yang enggan disebutkan namanya.

Pihak PT LAL menuturkan turunnya tingkat okupansi sewa kios Mal Blok M terjadi setelah PT Transjakarta menambah rute-rute bus yang melewati terminal. Seperti diketahui, pusat perdagangan Mal Blok M berada tepat di atas terminal bus.

Dia melanjutkan bus-bus TransJakarta memiliki tonase besar sehingga menimbulkan getaran di kawasan pertokoan underground. Semenjak itu, para penyewa toko satu per satu "kabur". Sudut di Mal Blok M yang tadinya dipenuhi oleh berbagai tenant kini berubah layaknya bangunan tak berpenghuni.

PT LAL yang merasa terusik dengan adanya getaran dari bus TransJakarta lantas mengontak konsultan arsitek yang membangun Terminal Blok M, yaitu PT Arkonin.

"Alhamdulillah, kami akhirnya menemukan perhitungan struktur Terminal Blok M. Setelah dicek, mereka menyatakan perhitungan struktur tidak ada masalah dan kuat. Jika ditotal, maka tonase bus Transjakarta itu sampai 36.000 kilogram (kg) atau 3,6 ton. Sekarang tinggal mengedukasi penyewa toko soal faktor berisik saja, faktor bahaya sudah diantisipasi," terangnya.

Soal perawatan dan peremajaan kawasan terminal, dia mengatakan perbaikan tersebut pasti membutuhkan investasi yang tak sedikit. Sementara itu, sisa waktu yang dimiliki PT LAL tidak lebih dari 3 tahun.

Oleh karena itu, pemerintah diminta dapat memaklumi kondisi perusahaan. Apalagi, saat ini, jumlah penyewa toko tidak sebanyak beberapa tahun lalu.

"Sampai Oktober 2022, masih di bawah pengelolaan kami [PT LAL]. Namun, siapapun yang dapat mendapat tugas untuk mengelola semoga bisa membangun terminal terintegrasi yang kita banggakan," ucapnya.

Suasana pusat perbelanjaan di bawah Terminal Blok M, Jakarta Selatan yang kini sepi pengunjung, Selasa (30/7/2019)./Bisnis-Feni Freycinetia Fitriani

Rencana TOD Blok M
Kepala Bidang Perhubungan Asisten Perekonomian Sekretaris Daerah DKI Jakarta Kusbiantoro mengatakan salah satu langkah pemerintah untuk merevitalisasi kawasan Blok M yakni dengan mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) No. 140/2017 tentang Penugasan PT MRT Jakarta Sebagai Operator Utama Pengelola Kawasan Beroritentasi Trasit TOD Koridor Fase 1 MRT Jakarta.

Beleid tersebut menyebutkan PT MRT Jakarta mendapatkan tugas untuk mengelola beberapa kawasan Transit-Oriented Development (TOD) MRT fase 1 mulai dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI, termasuk kawasan Blok M.

"Pada praktiknya, Pergub 140/2017 dikeluarkan agar MRT garap pendapatan di luar tiket atau non-fair box. Pengembangannya TOD. Dari sisi pembiayaan, BUMD, swasta, KPBU [Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha]," jelasnya.

Ditemui terpisah, Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menyatakan pihaknya sedang menyusun masterplan pengembangan TOD untuk kawasan bisnis di sepanjang rute fase I. Beberapa wilayah yang menjadi fokus pengembangan kawasan berorientasi transit antara lain Lebak Bulus, Dukuh Atas, dan Blok M.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Citieslab Adriadi Dimastanto menilai segera berakhirnya PKS BOT Pemprov DKI Jakarta dan PT LAL seharusnya menjadi momentum untuk merevitalisasi kawasan Blok M.

"Terminal Blok M jangan diihat dari simbol transportasi, tetapi interplay atau simpul aktivitas pergerakan di sekitarnya. Kawasan ini bisa lebih tertata dan tertib," ungkapnya.

Senada dengan Dimastanto, Founder Urban+ Sibarani Sofyan menyebutkan ada tiga pendekatan untuk membangun TOD, yaitu visi, bisnis, dan regulasi.

Dia menilai Terminal Blok M memiliki potensi yang sangat besar ketimbang TOD lain yang berada di sepanjang fase I MRT Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia. Pasalnya, saat ini, luas lahan Terminal Blok M mencapai 9.000 m2 dan lebih luas dibandingkan terminal lain.

"Yang susah di Jakarta itu tanah. Dukuh Atas sangat strategis dan terletak di daerah Central Business District (CBD), tetapi lahannya enggak ada. Value Blok M terbaik karena lahannya masih luas dan berada di tengah kota," ujar Sibarani.

Suasana di salah satu sudut Terminal Blok M, Jakarta Selatan terlihat lengang, Selasa (30/7/2019)./Bisnis-Feni Freycinetia Fitriani

Sementara itu, Anggota Organda DKI Jakarta Daryono meminta agar pemerintah memastikan nasib stakeholders swasta sebelum memutuskan untuk merevitalisasi terminal Blok M.

Pasalnya, beberapa proyek peremajaan terminal seperti Terminal Rawamangun dan Terminal Pulogebang perlahan menggerus keberadaan angkutan kota. Apalagi, Blok M bisa dibilang sebagai salah satu terminal di tengah kota yang masih berjalan hingga saat ini.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta juga diminta tidak mematikan trayek bus atau minibus dan menggantinya dengan TransJakarta secara sepihak.

"Dulu itu ada Kopaja Blok M-Senen, Mayasari Bakti tujuan Bekasi dan Cikarang. Sekarang perlahan habis semua. Jalur juga dikuasai TransJakarta. Saya khawatir kalau revitalisasi jalur sudah diambil TransJakarta. Kami bukan berarti tidak mendukung [revitalisasi], tetapi seharusnya bisa mempertahankan pengguna," tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fokus, blok m

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top