Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pejalan kaki melintas di pinggir bekas tebangan pohon di Trotoar Cikini, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Senin (4/11/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah merevitalisasi trotoar di berbagai kawasan ibu kota. - ANTARA FOTO/Reno Esnir
Premium

Bersabar Menghadapi Macetnya Ibu Kota

09 Desember 2019 | 17:58 WIB
Revitalisasi trotoar dituding menjadi penyebab kemacetan di sejumlah kawasan ibu kota.

Bisnis.com, JAKARTA — Teguh Hendratno mengurangi kecepatan motornya setelah memasuki Jalan Prof. Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan.

Teriknya panas matahari dan padatnya kendaraan yang memenuhi jalanan tersebut membuat pengemudi ojek daring (online) tersebut menghela napas sambil sesekali menggelengkan kepala.

"Saya sudah enggak paham lagi kalau lewat sini. Mau jam berapa pun pasti macet. Ini belum seberapa, coba kalau jam sibuk berangkat atau pulang kerja. Bukan macet lagi, tapi berhenti," ujar Teguh kepada Bisnis, Jumat (6/12/2019) siang.

Dia mengaku kemacetan akut yang melanda kawasan tersebut terjadi setelah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memulai proyek revitalisasi trotoar beberapa bulan lalu. Dinas Bina Marga DKI membongkar dan membangun ulang seluruh trotoar di beberapa wilayah di ibu kota, salah satunya Jalan Prof. Dr. Satrio.

Kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Casablanca Raya, Tebet, Jakarta, Jumat (12/1)./ANTARA FOTO-Aprillio Akbar

Teguh mengatakan kawasan tersebut sudah macet sebelum pembangunan trotoar. Banyaknya perkantoran dan pusat perbelanjaan, seperti mal Kuningan City, mal Ambassador, ITC Kuningan, dan mal Lotte Shopping Avenue, membuat banyak kendaraan yang memadati jalan tersebut.

Menurutnya, kemacetan semakin parah setelah adanya proyek revitalisasi trotoar.

"Saya setuju niat pemerintah membenahi trotoar, tetapi bukan memperlebar. Sekarang satu lajur dipakai buat pejalan kaki. Lama-lama trotoar lebih lebar dari jalan raya. Imbasnya macet dari pagi sampai malam," imbuh Teguh.

Tak hanya Teguh yang merasakan macet. Presiden Joko Widodo pun ternyata pernah mengalami hal serupa.

Jokowi dan rombongan terjebak kemacetan saat hendak menghadiri acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) di Raffles Hotel, Kamis (28/11). Kejadian tersebut disampaikan Presiden saat berpidato di acara tersebut.

"Di Casablanca ya itu kan tiap hari seperti itu, sejak saya jadi Gubernur [DKI Jakarta] sudah seperti itu," ucapnya.

Kawasan Casablanca bukan satu-satunya daerah yang menjadi macet parah akibat pembangunan trotoar. Revitalisasi trotoar di wilayah Cikini, Jakarta Pusat, dan Kemang, Jakarta Selatan juga menjadi sorotan.

Haris Prabowo, salah satu karyawan swasta di kawasan Kemang, mengaku sangat terdampak proyek pembangunan trotoar. Dia menilai kemacetan yang terjadi di sebagian besar kawasan Kemang sudah tidak wajar dan benar-benar menganggu aktivitas warga.

"Bayangkan saja, saya sempat stuck di Jalan Kemang Selatan sampai 45 menit. Ternyata macetnya gara-gara pembangunan trotoar di Jalan Kemang Raya. Efeknya domino, sampai jalan-jalan kecil saja sekarang macet," ungkap Haris.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Bina Marga DKI Hari Nugroho menyatakan proyek pembangunan trotoar di Jalan Prof. Dr. Satrio, Jalan Kemang Raya, dan Jalan Cikini akan segera selesai.

"Tanda tangan kontrak Juli [2019], lalu persiapan sampai Agustus [2019]. Targetnya Desember ini selesai," paparnya ketika dikonfirmasi Bisnis, Minggu (8/12).

Hari tak membantah kemacetan tak bisa dihindari di titik-titik tersebut karena adanya revitalisasi trotoar. Dia juga mengakui kemacetan di Kemang makin parah lantaran ada beberapa pekerjaan yang dilaksanakan secara bersamaan.

Selain revitalisasi trotoar, di daerah itu memang sedang dilakukan relokasi jaringan PT PLN (Persero), perbaikan pipa air bersih, dan peningkatan level jalan. Oleh karena itu, Hari meminta warga untuk bersabar dan maklum atas dampak pembangunan tersebut.

"Ya sabar saja. Lagi pula daerah Kemang sudah macet di semua titik meski enggak ada perbaikan trotoar, ya kan?" sambungnya.

Revitalisasi trotoar memang menjadi salah satu program unggulan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Kegiatan perbaikan jalur pejalan kaki sudah masuk dalam Rencana Jangka Menengah Pemerintah Daerah (RPJMD) 2017-2022.

Berdasarkan data Dinas Bina Marga, Pemprov DKI menargetkan menata trotoar sepanjang kurang lebih 60 kilometer (km) selama 5 tahun. Revitalisasi yang sudah dikerjakan pada 2016 adalah 47,9 km dan pada 2020, ditargetkan sepanjang 103,74 km. (lihat infografis)

Standar teknis trotoar yang dibangun Pemprov DKI memiliki spesifikasi berupa elevasi maksimal +/- 20 cm dari permukaan jalan, lebar minimal 1,5 meter dan luas minimum 2,25 m2.

Dinas Bina Marga DKI juga mengimplementasikan 4 standar desain trotoar, yaitu tipe 1 (lebar lebih dari 5,5 m); tipe 2 (lebar 5,5 meter-3,5 meter); tipe 3 (3,5 meter-2 meter); dan tipe 4 (2 meter-1 meter).

Untuk membenahi fasilitas bagi para pejalan kaki ini, Pemprov DKI mengajukan anggaran sebesar Rp1,2 triliun untuk 2020. Namun, angka itu menyusut menjadi Rp1 triliun dalam pembahasan dengan Komisi D DPRD DKI.

Pemangkasan dilakukan karena adanya potensi defisit di APBD DKI 2020. Selain itu, juga karena Ketua Komisi D DPRD DKI Ida Mahmudah dan sebagian besar anggota dewan mempertanyakan urgensi pembangunan trotoar.

Menurut Ida, revitalisasi sekaligus pelebaran trotoar justru akan merugikan masyarakat karena membuat jalanan makin macet.

"Kami dapat laporan langsung dari masyarakat. Mereka protes trotoar di Cikini, Kemang, dan Mega Kuningan diperlebar. Tujuannya apa? Itu jalanan sekarang makin sempit. Imbasnya macet enggak karuan," ucap politisi PDI Perjuangan tersebut.

Growing Pain
Anies pun sebenarnya mengakui terjadi kemacetan di sepanjang Jalan Prof. Dr. Satrio, Jalan Cikini, dan Jalan Kemang Raya. Namun, dia menilai kemacetan tersebut adalah sesuatu hal yang harus dihadapi oleh masyarakat ibu kota.

Warga melintas di samping jalur sepeda yang dibongkar di kawasan Cikini, Jakarta, Selasa (19/11/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membongkar jalur sepeda yang baru diresmikan tersebut untuk perlebaran trotoar./ANTARA FOTO-Galih Pradipta

Anies memandang kemacetan yang terjadi di beberapa ruas Jakarta akibat pembangunan adalah proses atau derita yang harus dilalui. Pasalnya, setiap pembangunan memiliki fase untuk menunggu dan mengalami dampak yang negatif, tak terkecuali macet.

"Sebetulnya begini, soal bahwa sebuah kawasan mengalami kemacetan karena proses pembangunan itu proses growing pain. Yang namanya juga tumbuh pasti ada fase di mana itu karena ada kegiatan pembangunan," terangnya.

Meski demikian, Anies percaya setiap pembangunan akan berbuah manis saat pengerjaan selesai dilakukan. Kawasan Kuningan dan Kemang pun diyakini bakal menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat setelah revitalisasi trotoar selesai dilakukan.

Dia juga menuturkan kemacetan di kawasan Kuningan terjadi lantaran ada pekerjaan pembangunan proyek Light Rail Transit (LRT) Bekasi - Dukuh Atas yang dibangun oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

"Saat ini, Kuningan sedang dalam proses finalisasi LRT. Nanti ketika kegiatan di tanah sudah selesai, kegiatannya lebih banyak di elevated, maka trotoar akan segera dikerjakan," ucapnya.

Gubernur mengaku sudah berkomunikasi intensif dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono terkait pembangunan proyek infrastruktur di Kuningan.

Dalam kesempatan terpisah, Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna menyarankan metode pembangunan trotoar mengacu pada Rencana Induk Ruang Pejalan Kaki.

Dia berpendapat penentuan kawasan prioritas penataan trotoar seharusnya memang telah diolah sedemikian rupa sebagai kawasan padat transportasi massal, bukan kendaraan pribadi. Harapannya, pengerjaan proyek tak justru kontraproduktif dengan mobilitas warga.

"Kalau sekarang banyak kemacetan akibat pembangunan trotoar, itu karena rata-rata kondisi jalan di Jakarta dulunya adalah jalan lingkungan permukiman, yang tiba-tiba berubah menjadi pusat bisnis, jasa, dan perdagangan. Akibatnya, daya tampung jalan makin terbatas dan sempit, sehingga menimbulkan kemacetan. Apalagi sekarang dengan trotoar yang semakin lebar," jelas Yayat kepada Bisnis, Minggu (8/12).

Oleh sebab itu, kebijakan pembatasan kendaraan pribadi yang ketat dipandang mesti diterapkan sebelum proyek revitalisasi trotoar dikerjakan. Kebijakan seperti Electronic Road Pricing (ERP), kenaikan tarif parkir, dan pembatasan usia kendaraan di ruas jalan tertentu adalah hal-hal yang seharusnya lebih dulu diberlakukan.

"Jadi nanti jalan-jalan yang macet akan berkurang karena kendaraan dibatasi dan penggunaan angkutan umum makin besar," sambungnya.

Penentuan lebar trotoar pun mesti dipikirkan secara matang oleh Pemprov DKI. Jangan sampai pembangunannya tak mempertimbangkan daya dukung kawasan, di samping kewajiban agar ruang pejalan kaki nyaman, aman, teduh, bersih, mudah menjangkau fasilitas publik, dan punya daya tarik, sehingga tidak membuat para pejalan kaki cepat lelah.

Pejalan kaki berjalan di trotoar MH Thamrin, Jakarta, Rabu (26/6/2019)./ANTARA FOTO-Nova Wahyudi

Luas dan lebar trotoar akan sangat tergantung pada lokasinya. Di kawasan ramai seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, bisnis, stasiun bus atau kereta api, dan wilayah pusat wisata, maka ukurannya harus cukup luas serta mampu menampung pejalan kaki dalam jumlah besar.

Senada dengan Yayat, pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menekankan penjadwalan proyek yang terpadu demi menghindari masa pembangunan yang tumpang-tindih.

Selain itu, koordinasi dengan sesama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan pihak-pihak terkait lainnya harus betul-betul diperhatikan Bina Marga. Pasalnya, proyek revitalisasi trotoar berkaitan erat dengan utilitas, saluran air, dan lalu lintas kawasan.

"Revitalisasi trotoar harus terpadu dengan penataan saluran air dan jaringan utilitas di bawah trotoar. Harus sekaligus dan ditata bersamaan, sehingga tidak akan ada lagi bongkar pasang trotoar ke depan. Selain itu, juga harus didukung dengan rencana rekayasa lalu lintas sehingga tidak mengganggu kelancaran kendaraan dan perlindungan keselamatan pejalan kaki selama proyek pembangunan berlangsung," paparnya kepada Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pemprov DKI Premium Content Trotoar
Penulis : Aziz Rahardyan & Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com
Editor : Annisa Margrit
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top