Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Seorang penumpang sedang menuju ke Halte TransJakarta - Youtube DKI Jakarta.
Premium

Adu Kuat Telkom Cs vs Jatelindo di Proyek JakLingko

29 April 2021 | 15:19 WIB
Konsorsium Merah Putih (Telkom Cs) kalah bersaing dengan Jatelindo Cs dalam lelang Sistem Tarif Terintegrasi dan Solusi Mobility as a Service (MaaS) Jabodetabek. Padahal, Telkom Cs sempat diumumkan sebagai pemenang lelang proyek pada 12 Maret 2021 lalu.

Bisnis.com, JAKARTA — Sepi tak terendus publik, lelang proyek Sistem Tarif Terintegrasi dan Solusi atau Mobility as a Service (MaaS) Jabodetabek menuai polemik.

Salah satu pemicunya adalah batalnya penunjukkan konsorsium Merah Putih PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) dan NEC dalam lelang proyek tersebut.

Usut punya usut, pembatalan itu terjadi menyusul sanggahan yang diajukan oleh pemenang lelang cadangan yakni Konsorsium Jatelindo selama masa sanggahan pada tanggal 15 hingga 19 Maret 2021 lalu. Konsorsium ini terdiri dari PT Jatelindo Perkasa Abadi, PT Aino Indonesia dan PT Thales Indonesia.

Meski demikian, PT Jaklingko Indonesia (Jaklingko) selaku panitia lelang menampik rumor pembatalan Konsorsium Merah Putih sebagai pemenang lelang proyek Maas Jabodetabek. 

Pihak Jaklingko menyatakan keputusan panitia belakangan sudah berdasar pada proses pelelangan yang transparan dan akuntabel. 

jak lingko

Pengumuman lelang proyek Sistem Tarif Terintegrasi dan Solusi. /Jaklingko 

Direktur Utama PT Jaklingko Indonesia Muhamad Kamaluddin mengatakan batalnya konsorsium Merah Putih sebagai pemenang berangkat dari proses due diligence atau uji tuntas akhir yang dilakukan oleh konsultan pendamping perusahaan. 

“Istilahnya bukan pembatalan ya, tetapi ada proses yang dilalui bersama dengan konsultan yang pada akhirnya menyatakan bahwa Konsorsium Merah Putih tidak lolos due diligence final,” kata Kamaluddin melalui sambungan telepon kepada Bisnis, Kamis (22/4/2021). 

Meski demikian, Kamaluddin enggan menuturkan alasan gugurnya Konsorsium Merah Putih sebagai pemenang dalam proses due diligence akhir tersebut.

Menurut Kamaluddin, alasan gagalnya Konsorsium Merah Putih sebagai pemenang tender sepenuhnya menjadi informasi internal perusahaan. 

“Untuk saat ini alasan dari gagalnya Konsorsium Merah Putih dalam proses due diligence final itu belum dapat kami sampaikan karena proses pengukuhan pemenang lelang masih berjalan. Nanti akan kami sampaikan jika sudah selesai seluruh proses lelang ini,” kata Kamaluddin. 

Padahal, Konsorsium Merah Putih sempat diumumkan sebagai pemenang lelang proyek Sistem Tarif Terintegrasi dan Solusi Mobility as a Service (MaaS) Jabodetabek pada 12 Maret 2021 lalu. 

Rencananya, Jaklingko bakal menerbitkan surat keputusan pemenang untuk mengukuhkan status Konsorsium Merah Putih pada pekan berikutnya yakni 19 Maret 2021. 

Rentang waktu itu juga merupakan periode masa sanggah terhadap hasil pengumuman pemenang lelang awal. Belakangan kesempatan ini digunakan oleh Konsorsium Jatelindo untuk melayangkan sanggahan terhadap keputusan penetapan pemenang lelang awal tersebut. 

Hanya saja, hingga 19 Maret 2021, Jaklingko belum juga menerbitkan surat keputusan pemenang tersebut. Pada akhirnya, surat keputusan pemenang itu baru terbit pada 26 Maret 2021 atau mundur satu pekan dari rencana awal. 

Surat keputusan yang molor itu malah menganulir status Konsorsium Merah Putih sebagai pemenang lelang. Belakangan, Jaklingko kemudian mengukuhkan Konsorsium Jatelindo sebagai pemenang lelang. 

Alasannya, Konsorsium Jatelindo dinilai lolos proses due diligence akhir bersama dengan konsultan perusahaan. 

“Jaklingko Indonesia menyatakan bahwa Konsorsium Jatelindo lulus proses due diligence final dan dikukuhkan sebagai pemenang tender sehingga Jaklingko Indonesia menerbitkan surat pengukuhan pemenang kepada yang bersangkutan,” tutur Kamaluddin.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, jangka waktu proyek MaaS Jabodetabek adalah 7 tahun dan tidak menggunakan uang negara dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pihak pemenang lelang mesti mengeluarkan investasi senilai Rp200 hingga Rp400 miliar. 

Terkait nilai investasi yang diserahkan kepada pemenang lelang, Kamaluddin enggan memberikan jumlah anggaran spesifiknya. Dia berdalih saat ini masih terjadi diskusi di antara Jaklingko bersama dengan Konsorsium Jatelindo. 

“Untuk Capex-nya belum bisa kami sampaikan, tunggu 40 hari lagi setelah pengukuhan pemenang lelang, kalau sudah selesai, baru bisa kami sampaikan kepada masyarakat,” tuturnya. 

Ihwal pengembalian investasi kepada pihak swasta itu, menurut catatan Bisnis, pihak investor bakal menarik biaya jasa berupa fee yang dikenakan per transaksi oleh pelanggan. 

Besaran fee diperkirakan mencapai Rp100 hingga Rp150 per transaksi. Sedangkan, jumlah pelanggan diproyeksikan menyentuh di angka sekitar 4 juta penumpang per hari. Artinya jumlah fee yang diperoleh boleh investor senilai Rp400 juta – Rp600 juta per hari.

“Terkait mekanisme bisnisnya bersama dengan swasta nanti akan kami sampaikan. Saat ini, kami sedang berfokus untuk membangun infrastuktur integrasi pembayarannya yang akan diluncurkan pada 17 Agustus 2021 mendatang,” kata dia. 

Sesuai Ketentuan 

Pihak Konsorsium Merah Putih yang terdiri dari PT Telkom Indonesia (persero) Tbk. (TLKM) tak banyak berkomentar ihwal kegagalannya dalam lelang proyek Maas.

Kendati demikian, Vice President Corporate Communication Telkom Pujo Pramono menuturkan pihaknya sudah mengikuti rangkaian seleksi sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang ditetapkan oleh Jaklingko.

“Sejak awal diadakannya tender Sistem Tarif Terintegrasi dan Solusi MaaS untuk Jabodetabek, Konsorsium Merah Putih yang beranggotakan Telkom, Gojek dan NEC telah mengikuti rangkaian seleksi sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang ditetapkan Jaklingko Indonesia,” kata Pujo melalui keterangan tertulis, Kamis (22/4/2021).

Menurut Pujo, Konsorsium Merah Putih telah memenuhi kriteria yang diminta panitia dan telah mengikuti seleksi hingga tahap akhir. Hanya saja, Bisnis belum memperoleh jawaban dari salah satu anggota Konsorsium Merah Putih ihwal latar belakang pembatalan pengukuhan pemenang lelang tersebut. 

Sejumlah pertanyaan tertulis dan panggilan telepon terkait permohonan informasi alasan pembatalan lelang itu tidak memperoleh jawaban.

“Terkait dengan pengukuhan pemenang, Telkom menghormati keputusan Jaklingko Indonesia selaku pemilik tender,” tutur Pujo.

Rencana Anies

Pertengahan tahun lalu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menunjukkan ketertarikannya menggandeng perusahaan teknologi yang bergerak di bidang transportasi untuk mempercepat integrasi sistem pembayaran moda transportasi yang ada di Jabodetabek. 

Ketertarikan itu disampaikan Anies dalam acara penandatanganan share holder agreement PT Jaklingko Indonesia, di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (15/7/2021). Acara itu turut dihadiri oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo.

“Dengan adanya Jak Lingko Indonesia maka potensi untuk mengintegrasikan moda transportasi apa pun menjadi terbuka dan bisa dilakukan karena ada clearing house ini. Termasuk Ojek Online, Taksi dan moda transportasi lainnya yang di bawah Kementerian Perhubungan,” kata Anies.

anies baswedan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan seusai menghadiri Rapim Polda Metro Jaya di Gedung Promoter Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan pada Kamis (18/2/2021). JIBI/Bisnis-Nyoman Ary Wahyudi

Dia berpendapat langkah untuk menggandeng pihak swasta justru lebih mudah karena sudah ada sejumlah perusahaan yang memiliki sistem pembayaran moda transportasi tersebut.

“Kalau sudah ada satu perusahaan [swasta] yang mengelola sistem pembayarannya maka jauh lebih mudah untuk mengintegrasikan dengan yang lainnya,” ujarnya. 

Anies menuturkan Jaklingko sebagai hasil peleburan empat Badan Usaha Milik Daerah atau BUMD DKI Jakarta bakal dibebaskan untuk mencari mitra dalam upaya pengintegrasian sistem pembayaran layanan antarmoda di wilayah Jabodetabek.

Adapun, keempat BUMD itu meliputi PT MRT Jakarta, PT Transportasi Jakarta, PT LRT Jakarta (Jakpro Group), dan PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ). Tiga BUMD yang disebut terdahulu memiliki porsi saham sebesar 20 persen dalam perusahaan patungan itu sementara MITJ memiliki porsi saham sebanyak 40 persen.

“Sebagai sebuah institusi berbentuk PT, maka dia [Jaklingko] memiliki keleluasaan untuk mencari partner. Kami berharap nantinya untuk bisa segera mendapatkan partner karena institusi yang terlibat ini memang berada di wilayah transportasi semua,” kata Anies. 

Dia berharap Jaklingko bisa menjadi perusahaan teknologi dan data berbasis pada kekayaan informasi yang diperoleh dari pergerakkan penduduk melalui upaya penyederhanaan pembayaran antarmoda transportasi di wilayah Jabodetabek.

Bisnis telah menghubungi salah satu petinggi PT Jatelindo, Armanto Idham Hadju melalui akun media sosialnya, termasuk kantor PT Jatelindo untuk meminta konfirmasi seputar proses lelang tersebut. Namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan resmi dari pihak Jatelindo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telkom Anies Baswedan Premium Content Gojek PT Jaklingko Indonesia
Penulis : Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com
Editor : Edi Suwiknyo

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top