Aksi Main Hakim Sendiri Ciri Warga Tak Percaya Aparat

Kriminolog dari Universitas Padjajaran Yesmil Anwar mengungkapkan aparat kepolisian harus benar-benar menjadi pengayom masyarakat.
Miftahul Khoer | 02 Maret 2015 18:17 WIB
Ilustrasi-Tersangka begal ditangkap di Depok - Antara

Bisnis.com, BOGOR— Kriminolog dari Universitas Padjajaran Yesmil Anwar mengungkapkan aparat kepolisian harus benar-benar menjadi pengayom masyarakat.

Menurut dia, aksi main hakim sendiri yang dilakukan terhadap pelaku kejahatan dinilai sebagai kekesalan bahwa aparat kepolisian tidak melakukan tugasnya melindungi masyarakat.

“Saya pikir ketika warga menghukum penjahat dengan cara mereka sendiri, itu adalah kesan bahwa polisi sudah tidak lagi berhasil melaksanakan tugas perlindungan pada masyarakat,” ujarnya pada Bisnis.com, Senin (2/3/2015).

Dia memberikan contoh, pelaku upaya perampasan motor di Tangerang beberapa waktu lalu yang dihakimi dan dibakar warga adalah tindakan yang harus diluruskan.

Pasalnya, hukum di Indonesia memiliki aturannya sendiri. Oleh karena itu, polisi harus menjadi yang terdepan menangani kasus tersebut.

Menurut Yesmil, penegakan hukum terhadap kejahatan seharusnya tidak hanya melalui cara pemberantasan di tempat, tetapi juga harus dilakukan pembinaan.

“Intinya, yang penting dalam kejahatan remaja ini harus ada pembinaan, bukan hanya terhadap para pelaku, tetapi semua pihak agar tidak terjadi kasus serupa,” paparnya.

Tindakan kejahatan perampasan motor akhir-akhir ini marak terjadi di kawasan Bodetabek. Aksi begal motor tersebut memakan korban jiwa baik dari pelaku maupun korban.

Aparat kepolisian kerap menggelar razia di sejumlah titik yang dianggap rawan kejahatan pasca peristiwa terjadi.

Hal tersebut beberapa waktu lalu dikritik sebagian aktivis dari Universitas Guna Darma dengan unjuk rasa di depan Polresta Depok. Mereka menilai polisi setempat lambat bergerak. []

Tag : Aksi Begal Motor
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top