PERBAIKAN JALAN DI TANGERANG: Warga Minta Rekayasa Lalin

Warga mengaku terganggu dengan aktivitas perbaikan jalan di sejumlah titik di Kota Tangerang yang berlangsung serentak. Mereka berhadap rekayasa lalu lintas diterapkan merata di semua lokasi.\n
Dini Hariyanti | 24 September 2015 05:00 WIB
Perbaikan jalan - Antara

Bisnis.com, TANGERANG—Warga mengaku terganggu dengan aktivitas perbaikan jalan di sejumlah titik di Kota Tangerang yang berlangsung serentak. Mereka berhadap rekayasa lalu lintas diterapkan merata di semua lokasi.

Hadi Saputra, 22, warga Tangerang, berpendapat semestinya perbaikan jalan diiringi dengan rekayasa lalu lintas yang baik. Tidak peduli itu jalan protokol atau sekadar jalan lingkungan tetap saja perlu diberlakukan saat dibutuhkan.

 “Rekayasa lalu lintas sebetulnya kan untuk memecah konsentrasi antrean kendaraan supaya macetnya pelan-pelan terurai,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (22/9/2015).

Kini setiap kali permukaan jalan berkerikil tersapu putaran ban, serpihan debu langsung menyeruak ke lubang hidung. Ditambah terik matahari musim kemarau yang selalu asik memancarkan diri di atas ubun-ubun.

Belum lagi ketidaknyamanan saat laju kendaraan tersendat. Pengendara mesti sabar jalan bergiliran karena satu jalur dipakai dua ruas berlawanan. Status “senggol bacok” bisa-bisa langsung on di kepala ibu-ibu atau perempuan pengendara motor dan penumpang angkot yang sedang datang bulan.

Namun ketidaknyamanan itu tidak semata bisa dinikmati dengan merutuk tetapi juga menelisik hikmahnya. Setelah pengerjaan perbaikan jalan di sejumlah titik di Kota Tangerang rampung toh akhirnya masyarakat sendiri yang menikmati.

Sebagai contoh, ada tiga titik perbaikan jalan yang jadi sumber kemacetan di wilayah Perumnas Kota Tangerang. Pertama adalah ruas Jalan Borobudur di Perumnas II, kedua di Jalan Prambanan Perumnas III, satu lagi di Perumnas I tepatnya mulai perempatan Pasar Malabar sampai sebagian Jalan Cemara.

Masyarakat yang hendak menuju Cikokol, harus bersabar menghadapi macet di satu lokasi perbaikan jalan lagi. Pada pagi hari antrean bisa sampai 100 meter mengular di ruas Jalan Teuku Umar, Cimone, Kota Tangerang selepas perempatan lampu merah Plaza Shinta.

Hadi bukan warga Kota Tangerang, tempat tinggalnya di BSD, Tangerang Selatan. Tapi saat melintas di salah satu titik jalan Kota Tangerang  yang sedang diperbaiki dia turut merasakan kejengkelan ratusan bahkan ribuan pengguna jalan lain.

“Perbaikan jalan seperti di Perumnas perlu banget rekayasa jalan. Tapi ini balik lagi kepada keterbatasan aparat, jumlah polisi untuk melaksanakannya saja minim,” ujarnya.

Terlepas dari segala kekurangan yang ada, kegiatan perbaikan jalan yang dilakukan sebetulnya bagian dari upaya Pemerintah Kota Tangerang sendiri mengambil hikmah. Lebih tepatnya, memetik manfaat dari cuaca terik nan kering kerontang untuk akselerasi perbaikan infrastruktur publik.

“Dengan pengerjaan yang hampir bersamaan [antarlokasi] tentu menimbulkan macet di mana-mana, saya harap masyarakat bisa paham dan sabar,” kata Wali Kota Tangerang Arief R.

Rerata perbaikan jalan sudah menyelesaikan tahap pembetonan. Tapi ini baru berlaku untuk satu jalur. Kebanyakan jalan lingkungan hanya berisi dua jalur, dengan perbaikan di satu jalur otomatis tinggal tersisa satu untuk dipakai dua ruas berlawanan arah.

Wali Kota mengaku sudah menginstruksikan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait, seperti Dinas Perhubungan, agar tetap menjaga kenyamanan masyarakat. Tapi kenyataan di lapangan sering kali tak semanis omongan.

Arief bilang dirinya telah kemukakan kepada Dinas Perhubungan Kota Tangerang agar membuat rekayasa jalan di titik-titik yang sedang diperbaiki. Selain itu juga diminta agar Dishub menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka tahu jalur mana saja yang akan ditutup.

Kenyataannya, masyarakat pengguna jalanlah yang bikin rekayasa jalur alternatif sendiri. Khususnya pada pagi hari, mereka akan berduyun-duyun menyesaki jalan perumahan terdekat supaya bisa memotong jalan. Walhasil gang-gang perumahan yang memang sempit semakin sesak bahkan macet.

Padahal amanat wali kota, "buat spanduk atau papan informasi yang memberi info seputar pengalihan dan penutupan jalan, infokan jam berapa buka dan tutupnya jalan, serta jalan alternatifnya mana saja”.

Pemkot sekarang punya 81 paket pembangunan jalan, 188 jalan lingkungan, dan sepuluh jembatan. Pengerjaannya, termasuk pembetonan bantaran Sungai Cisadane, berawal pada bulan lalu. Proyek perbaikan infrastruktur bernilai Rp200 miliar sekarang ini butuh waktu dua bulan sejak awal sampai tunggu coran beton kering.

Tag : tangerang
Editor : Bastanul Siregar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top