Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Meski Kawasan Merokok Dibatasi, KNPK Puji DKI Tetap Dukung Industri Tembakau

Ketua Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK) Zulvan Kurniawan menyatakan sikap Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang menentang pelarangan pameran mesin produksi rokok oleh sekelompok masyarakat sudah objektif.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 April 2016  |  20:27 WIB
Buruh mengerjakan proses pelintingan rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Kudus, Jawa Tengah, Jumat (22/5). - Antara/Yusuf Nugroho
Buruh mengerjakan proses pelintingan rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Kudus, Jawa Tengah, Jumat (22/5). - Antara/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK) Zulvan Kurniawan menyatakan sikap Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang menentang pelarangan pameran mesin produksi rokok oleh sekelompok masyarakat sudah objektif.

Menurut Zulvan, sikap tegas Ahok menunjukkan dia memberikan keadilan bagi masyarakat. “Ini hanya pameran mesin dan tak ada hubungannya dengan apa pun. Yang paling penting, rokok hingga saat ini masih menjadi barang legal di Indonesia,” katanya dalam keterangan pers yang diterima, Rabu (13/4/2016).

Saat ini, ucapnya, sudah ada Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 88/2010 tentang Kawasan Dilarang Merokok, yang telah menetapkan pembatasan kegiatan merokok. DPRD dan Pemprov DKI Jakarta bahkan juga tengah merumuskan Rancangan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok.

Sejalan dengan Zulvan, Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia, Muhaimin Moefti mengaku setuju dengan pendirian Ahok. "Ahok sudah menunjukan sikap objektifnya terhadap kepentingan perlindungan kesehatan masyarakat dan kelangsungan industri tembakau nasional. Saya berharap sikap objektif yang sama juga akan terefleksikan dalam perumusan Raperda Kawasan Tanpa Rokok," ujar Moeftie.

Menurut Moeftie, pihak-pihak yang selalu memojokkan industri rokok seyogyanya lebih bijaksana dalam menyikapi isu pameran mesin rokok.

Pasalnya, di pameran tersebut yang ditampilkan hanyalah mesin-mesin produksi. "Lagi pula, rokok adalah produk legal yang keberadaannya dilindungi oleh hukum. Tuntutan mereka sangat berlebihan. Yang harusnya menjadi pertanyaan adalah, siapa yang menjadi motor dibalik gerakan ini?" katanya.

Ekonom dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengatakan saat ini banyak dana asing dari berbagai lembaga internasional mengucur deras ke berbagai kelompok kepentingan di Indonesia. "Mereka justru berkeinginan untuk mempengaruhi kebijakan nasional industri tembakau, termasuk dana-dana asing untuk kelompok antitembakau itu," jelas Salamudin.

Dengan bantuan dari lembaga-lembaga internasional, para LSM anti tembakau semakin memojokkan keberadaan industri tembakau nasional yang merupakan sumber mata pencaharian bagi lebih dari 6 juta masyarakat Indonesia.

Sebelumnya, Ahok menentang permohonan sekelompok mahasiswa untuk melarang penyelenggaraan pameran mesin rokok bertajuk World Tobacco Process and Machinery.

“Asing tidak perlu terlalu mengatur Indonesia dengan bilang rokok enggak boleh segala macam. Rokok boleh cuma dibatasi. Berarti orang mau pameran mesin, kenapa enggak boleh?” ungkap Ahok, Kamis (7/4/2016).

Bagi Ahok, yang penting rokok bukanlah komoditas untuk dilarang tetapi dibatasi konsumsinya agar tidak merugikan kesehatan masyarakat umum. “Kecuali ada resolusi PBB yang menyatakan bahwa rokok di seluruh dunia dilarang, baru saya ikut,” jelas Ahok.

Menurutnya, yang harus diatur dan dibatasi itu justru adalah para perokok yang masih merokok di dalam ruangan tertutup. “Dan itu saya tentang. Pemprov DKI juga sudah cukup tegas untuk hal ini,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri tembakau

Sumber : Antara

Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top