Pedagang di Blok G Pasar Tanah Abang Menolak Direlokasi, Ini Alasannya

Pedagang di Blok G Pasar Tanah Abang Menolak Direlokasi
Newswire | 11 Mei 2018 19:30 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Para pedagang di Blok G Pasar Tanah Abang menolak direlokasi ke lahan parkir belakang gedung Blok G. Mereka khawatir lokasi tersebut akan sepi pengunjung. "Kami menolak dipindah ke belakang, maunya ke depan semua," kata pedagang kelontong Blok G, Maman, kepada Tempo di Blok G Pasar Tanah Abang, Kamis, 10 Mei 2018.

Pemerintah DKI Jakarta berencana merelokasi pedagang Blok G Tanah Abang ke lahan parkir bagian depan dan belakang bangunan tersebut. Pedagang kering akan ditempatkan di bagian depan, sedangkan pedagang basah di bagian belakang gedung.

Relokasi dilakukan karena Pemerintah DKI Jakarta akan merevitalisasi Blok G dengan merobohkan dan membangun kembali gedung itu. Revitalisasi ini juga merupakan bagian dari konsep penataan Tanah Abang tahap kedua.

Maman menuturkan, keengganan pedagang dipindahkan ke area parkir bagian belakang itu sudah disampaikan kepada pihak Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya dalam pertemuan pada Senin, 7 Mei 2018. Pertemuan itu terselenggara lantaran diminta Ombudsman Perwakilan Jakarta Raya.

"PD menampung aspirasi, kemarin belum deal. Mungkin nanti ada pertemuan lagi," kata Maman. Selain itu, Maman menambahkan, pedagang mengkhawatirkan keamanan lokasi berjualan saat pembangunan Blok G berlangsung. “Kami berkaca pada kecelakaan konstruksi rusunawa Pasar Rumput beberapa waktu lalu,” ujar Maman.

Maman berujar, pedagang justru ingin dipindah ke lahan bongkaran milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang terletak di Jalan Jembatan Tinggi. Lahan itu sebelumnya digunakan oleh pedagang Pasar Tasik.

Namun, kepolisian menyegel tempat itu lantaran kini statusnya bersengketa antara PT KAI dan PT Padimas Realty yang menjadi pengelola sebelumnya. "Kalau bisa, mayoritas pedagang inginnya ke situ (bongkaran) karena tempatnya strategis," ujar Maman.

Pedagang sayur Blok G Tanah Abang, Sumarno, mengatakan pedagang merasa sebagai satu kesatuan pasar tradisional dan tak ingin dipisah-pisah lokasi berjualan. "Yang di belakang otomatis enggak mau, maunya di depan semua," ujar Sumarno.

Sumber : Tempo

Tag : tanah abang
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top