Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KEMACETAN JAKARTA: Kemenhub Sarankan DKI Pilih ERP

JAKARTA- Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susanto lebih menganjurkan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih baik menerapkan sistem Electronic Road Pricing dibandingkan dengan sistem genap ganjil.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Desember 2012  |  17:28 WIB

JAKARTA- Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susanto lebih menganjurkan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih baik menerapkan sistem Electronic Road Pricing dibandingkan dengan sistem genap ganjil.

Menurutnya, penerapan sistem ERP di yakini bisa mendongkrak retribusi daerah yang besar.

Bambang mengatakan pemberlakuan ganjil genap yang otomatis membatasi akses kendaraan pribadi dan memperluas penggunaan angkutan umum itu jangan dijadikan kebijakan yang permanen, karena menurutnya sistem (electronic road pricing/ERP) yang lebih efektif untuk diterapkan di Jakarta.

"Sebetulnya yang paling efektif adalah langsung menerapkan ERP, karena dengan ERP itu semuanya lebih terkontrol, selain itu ada pemasukan yang dapat digunakan untuk memperbaiki angkutan umum kembali," jelas Bambang dalam diskusi mengurai kemacetan, di Hotel Four Season, Jumad (14/12).

Bambang juga mengingatkan bahwa penerapan sistem ganjil genap yang rencananya berjalan  pada 2013 mendatang diyakini tidak akan berjalan efektif apabila tidak ditunjang dengan kebijakan lain yang menyertainya.

Menurutnya, penerapan ganjil genap di Jakarta tidak dapat berdiri sendiri. Untuk itu dibutuhkan sebuah kebijakan lain agar warga yang hendak berpindah dari angkutan pribadi ke angkutan umum nantinya tidak terlantar dan menjadi korban dari penerapan kebijakan tersebut.

"Tentu harus dipersiapkan dengan baik, karena ganjil genap itu tidak bisa berdiri sendiri, kebijakan ini akan terkait dengan penyediaan angkutan umum, penyediaan sarana bagi orang yang hendak berpindah dari angkutan pribadi ke angkutan umum. Jadi, istilahnya satu kebijakan yang terintegrasi," ujar Bambang.

Mengenai kegagalan di sejumlah negara yang pernah menerapkan sistem ganjil genap, Bambang menjelaskan jika hal tersebut bukan dikarenakan sistemnya, melainkan adanya pilihan mengurai kemacetan bisa dilakukan dengan berbagai cara.

"Saya kira mereka pasti melakukan studi lebih lanjut, karena varian mengurai kemacetan banyak, tidak hanya ganjil genap," lanjut Bambang. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono mengaku jika rencana penerapan pembatasan kendaraan dengan ganjil genap sudah tepat. Pasalnya setelah melalui kajian yang dilakukan selama ini, penerapan ganjil genap akan dapat mengurangi jumlah kendaraan hingga 49%.

 "Sudah dihitung melalui kajian lalu lintas. Karena angka ganjil dan genap itu jumlahnya hampir sama, seimbang sekitar 51:49%. Jadi, jika dalam 1 hari kita bisa membatasi kendaraan genap maka otomatis telah mengurangi jumlah mobil genap sekitar 49%," jelas Pristono, Jumad (14/12/2012). 

Pristono juga  berjanji akan menyediakan sarana dan infrastruktur yang cukup sebelum penerapan ganjil genap benar-benar dilakukan. Adapun yang akan dilakukan antara lain penambahan jumlah armada bus Transjakarta serta revitalisasi angkutan umum yang beroperasi di Ibukota.

"Kalau genap ganjil diterapkan, tentunya kami akan perbaiki publik transport menjadi lebih baik. Saat ini tengah dipersiapkan penambahan armada bus Transjakarta bertahap hingga akhir tahun 2013. Selain itu juga memperkuat angkutan reguler yang sudah ada contohnya metromini dan Kopaja yang akan direvitalisasi," jelas Pristono.

Pristono mengatakan akan mendengar masukan dari masyarakat mengenai rencana penerapan ganjil genap ini. Hal ini dilakukan agar penguraian masalah kemacetan ini dapat diterima dan didukung oleh seluruh masyarakat.

"Kami ingin melihat masukan dari masyarakat seperti apa jika sistem genap ganjil diterapkan. Karena kebijakan ini perlu kepedulian. Kalau kita tidak bersama benahi maka kita akan macet bersama-sama," katanya. (spr)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Emanuel Tome Hayon

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top