Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BAKSO DAGING BABI: Pemprov DKI diminta cepat ambil tindakan

JAKARTA: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diminta segera bertindak secara cepat dan tegas menangani isu daging sapi oplosan dengan daging babi yang beredar di pasar karena dampaknya sangat merugikan para pedagang bakso karena omsetnya anjlok mencapai
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Desember 2012  |  19:07 WIB

JAKARTA: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diminta segera bertindak secara cepat dan tegas menangani isu daging sapi oplosan dengan daging babi yang beredar di pasar karena dampaknya sangat merugikan para pedagang bakso karena omsetnya anjlok mencapai lebih dari 50%.Sarman Simanjorang, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia DKI Jakarta, mengatakan penurunan omzet pedangan bakso dan penjual makanan berbahan dasar daging sapi mulai terasa sejak beredar isu ditemukan daging oplosan dalam satu razia di sejumlah pasar."Untuk itu Pemprov DKI harus bertindak cepat dan tegas, merazia daging sapi oplosan itu, kemudian memastikan kasus tersebut tidak ada lagi dan segera mensosialisaskannya kepada masyarakat luas sehingga tidak ragu membeli daging sapi," katanya di Jakarta, Minggu (16/12/2012).Menurutnya, Pemprov melalui Dinas Perikanan dan Peternakan DKI Jakarta bersama seluruh instansi terkait di tingkat provinsi dan kotamadya menggelar razia secara menyeluruh untuk mencegah jangan sampai terjadi lagi kasus daging oplosan itu dan menindak oknum pelakunya.Sebab, lanjutnya, tindakan tidak terpuji sekitar 2-3 orang nakal yang mengoplos daging sapi dengan daging babi atau celeng tersebut telah merugikan hampir seluruh pedagang bakso dorong, warung dan sejenisnya berjumlah mencapai sekitar 17.000 orang di Jakarta."Omzet para pedagang bakso dorong, warung dan usaha makanan berbahan dasar daging sapi mengalami penurunan omset sejak isu daging oplosan beredar. Penurunan omzet yang paling besar dirasakan para pedagang bakso yang anjlok mencapai lebih dari 50%," ujarnya.Sarman menegaskan, bagi pemerintah peristiwa ditemukan daging sapi oplosan dapat menjadi bahan introspeksi, bahwa secara riil pasokan daging sapi di pasar terus merosot dengan indikasi harganya terus bergerak naik dari Rp65.000-Rp70.000 per kg menjadi Rp85.000-Rp100.000 per kg.Dampak dari keterbatasan pasokan tersebut, menyebabkan para pelaku usaha skala mikro dan kecil yang berjualan bakso, berada dalam situasi sangat sulit, akan mengurangi komponen daging sapi dalam bakso tidak bisa karena rasanya nanti tidak enak dan tidak sukai para pelanggannya.Demikian halnya, jika harga jual bakso dinaikkan sesuai dengan perkembangan harga daging sapi yang terus bergerak naik tinggi. Tentu, lanjutnya, para pelanggan dan konsumennya juga tidak menginginkan harga bakso yang terlalu mahal atua kualitas rasanya yang merosot.Sarman yang juga sebagai Ketua Komite Asosiasi Pedagang Daging Sapi Jakarta Raya, menjelaskan pihaknya sudah berulang kali mendesak pemerintah yaitu sejak 7 bulan yang lalu agar volume impor daging sapi ditambah guna memenuhi permintaan pasar domestik.Namun, imbuhnya, pemerintah melalui Kementrian Pertanian selalu berdalih pasokan daging sapi lokal sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri sehingga tidak perlu ada tambahan impor."Pemerintah tidak melihat realitas pasar yang masih kekurangan pasokan daging sapi, sehingga harganya terus bergerak naik, sementara produksi bakso dan makanan berbahan dasar daging sapi mengalami penurunan volume produksi karena kesulitan bahan baku," tegasnya. (arh)

 

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Nurudin Abdullah

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top