Jokowi Hampiri Pabrik Metro Kapsul di Subang

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengunjungi pabrik pembuatan Metro Kapsul di Subang Jawa Barat, hari ini Rabu (2/4/2014).
Yanita Petriella | 02 April 2014 20:39 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, SUBANG - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengunjungi pabrik pembuatan Metro Kapsul di Subang Jawa Barat, hari ini Rabu (2/4/2014).

Jokowi mengunjungi pabrik tersebut untuk menindaklanjuti penawaran konsorsium Metro Kapsul.

PT Perkakas Rekadaya Nusantara (PRN) yang berpengalaman dalam bidang permesinan khusus komponen mobil ini membawahi empat perusahaan yang akan membuat Metro Kapsul.

Konsorsium tersebut sudah terbiasa dan lama bergelut dibidang tersebut.

"Saya tertarik, karena ini produk kita sendiri, dalam negeri. Saya lihat para konsorsium sudah membuat mesin-mesin.

Ada yang untuk dalam negeri dan diekspor. Saya kira pengalaman itu penting sehingga tidak perlu ragu," ujarnya, Rabu (2/4/2014).

Jokowi berharap Metro Kapsul ini dapat dibuat oleh perusahaan dan komponen dalam negeri.

"Jadi punya angan-angan besar ingin memiliki sebuah produk yang merk-nya, Indonesia. Semangatnya ke sana," tuturnya.

Walaupun Jokowi tertarik dengan Metro Kapsul, dia tetap berhati-hati dan meminta businnes plan pembangunan transportasi tersebut agar tidak mangkrak di tengah jalan. Pasalnya, proyek Metro Kapsul menelan Rp114 miliar per kilometer.

"Sekarang tinggal lihat, barangnya bisa jalan tidak? Kalau dari pengalaman, harusnya bisa. Karena kita punya di sini. Kami juga akan hitung-hitungan lebih murah mana dengan monorel," kata Jokowi.

Dirut PP Precast Abdul Haris Tatang mengklaim biaya pembangunanMetro Kapsul jauh lebih murah dibandingkan Monorel dan Mass Rapid Transit.

Menurutnya, jika satu kilometer Monorel menelan dana sebesar Rp400 miliar dan MRT Rp900 miliar, Metro Kapsul hanya Rp114 per kilometernya dan tidak ada seperempat nilainya dari jumlah anggaran tersebut.

"Ini jauh lebih murah dan tidak ada semperempatnya lagi," ucapnya.

Pembangunan Metro Kapsul, lanjutnya, juga lebih efisien karena pondasi setinggi 4 meter hingga 5 meter itu hanya ditancapkan saja di tanah setelah dilakukan pengujian [sistem knock down].

"Kerja dari jam 22.00 WIB malam hingga 05.00 WIB pagi itu sudah siap. Sistemnya precast. Satu tiang enggak sampai 24 jam. Jadi kami sudah siapkan tiangnya dari pabrik, tinggal ditancapkan sesuai keadaan tanah," terangnya.

Selain itu, pembangunan tiang pondasi itu, lanjutnya, tidak memiliki beban sosial yang besar sebab diameter pondasi tidak lebih dari  2 meter dan dapat menggunakan lahan di ruang terbuka hijau yang berada di tengah jalan.

Metro Kapsul sendiri bisa mengangkut sebanyak 50 penumpang per gerbongnya.

Per kapsulnya, dapat mengangkut 19.000 penumpang dengan kecepatan maksimal 80 kilometer, sedangkan monorel hanya dapat mengangkut 16.000 per jam.

Dalam satu keberangkatan, moda transportasi ini dapat berjalan beriringan sebanyak 10 gerbong kapsul sekaligus dengan jarak tempuh antar rangkaian selama 10 menit.

Metro Kapsul berbentuk seperti mainan mobil Tamiya dengan delapan roda dan menggunakan daya listrik sebanyak 18 kilowatt per kapsul.

Cadangan baterai berkapasitas 5 jam juga diberikan pada Metro Kapsul untuk mengantisipasi listrik yang padam ketika beroperasi.

Nantinya, Metro Kapsul tersebut akan dibangun dari Parkir Timur Senayan hingga Bandara Soekarno Hatta sepanjang 30 kilometer (Km) dan membutuhkan daya 15 megawatt.

Konsorsium pembangun Metro Kapsul, antara lain PT Surya Gemilang sebagai pembuat sasis, PT Karsa Kerja Mekanotama sebagai pembuat body, PT Treka sebagai perekayasa mesin, dan pembuat jalurnya adalah PP Precast.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Metro Kapsul

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top