Warga Jakarta Harus Mulai Kelola Sampah Dari Sumbernya

Salah satu masalah yang dihadapi Jakarta untuk menjadi salah satu smart city tingkat dunia adalah pengelolaan sampah langsung dari sumbernya atau membangun tempat pengelolaan sampah community level.n
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 19 September 2015  |  20:52 WIB
Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu masalah yang dihadapi Jakarta untuk menjadi salah satu smart city tingkat dunia adalah pengelolaan sampah langsung dari sumbernya atau membangun tempat pengelolaan sampah community level.
 
Hal tersebut dijelaskan Ova Candra Dewi, Solid Waste Strategy Manager dari Bina Ekonomi Sosial Terpadu (BEST) dalam Seminar Internasional SMART CITIES: Sustainable City Development and Urban Mobility System di Aula William Soerdjajaja, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI), Sabtu (19/9/2015).
 
Menurut Ova saat ini warga Jakarta perlu merefleksikan dirinya, sudahkah menjadi smart people jika ingin menggiring Jakarta sebagai smart city. Untuk menyelesaikan persoalan sampah di Jakarta, salah satu upaya yang bisa dilakukan ialah membangun tempat pengelolaan sampah terpadu untuk community level atau memulai mengklasifikasi sampah rumahan.
 
"Saat ini kita tak bisa lagi mengurangi sampah. Kami mengantisipasinya dalam bentuk mengurangi emisi sampah," jelas Ova.
 
Lembaga swadaya masyarakat ini lalu melakukan program Kita Pro Sampah (KIPRAH) yang mencoba mengurangi emisi langsung dari sumber penghasil sampah.
 
"Saya sudah membandingkan, ternyata lebih efektif mengurangi emisi sampah di sumbernya ketimbang di TPA. Karena yang dibuang dari sumber lebih banyak, masih bisa di separate lagi," imbuhnya.
 
Saat ini program pengurangan emisi sampah dari sumber sudah direalisasikan BEST di banyak tempat. Ova mengakui sebagai LSM pihaknya tak memiliki daya untuk membangun infrastrukur. Segala kebutuhan infrastruktur untuk mengolah sampah menjadi tugas pemerintah.
 
"Pemerintah sudah bangun sekitar 500 an TPS di seluruh Indonesia namun yang terpakai baru 35%. Itu berdasarkan data 2014. Maka kami masuk dalam tugas merumuskan bagaimana membangun investasi program ini," ungkapnya.
 
Dana investasi infrastruktur pengolahan sampah Ibu Kota diproyeksikan bisa mencapai Rp500 juta hingga bisa Rp1 triliun. Ova mengaku BEST terbuka untuk semua pihak yang ingin berinvestasi dan mendukung program KIPRAH tersebut dengan persyaratan pengolahan sampah sumber harus sesuai metode yang dibuat oleh BEST.
 
"Sekarang kita masuk untuk yang bisa memanfaatkan ini. Hanya saja kita punya modulnya, modul A, B, sampai C," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sampah

Editor : Bastanul Siregar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top