Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Djarot : Saya Prihatin

Wakil Gubernur DKI Jakarta nonaktif Djarot Saiful Hidayat prihatin atas kasus dipecatnya pembina Masjid Darussalam, Pondok Pinang, Rasyidin Nawi, pada Februari 2017. Djarot menganggap, pemecatan itu berlebihan.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 16 Maret 2017  |  11:48 WIB
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (kedua kanan) didampingi calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (tengah), calon Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat (kedua kiri) dan istri Happy Farida (kiri) melihat menu makanan dan dapur umum sebelum menyampaikan pidato politik di Posko Rumah Lembang, Menteng, Jakarta, Rabu (15/3). - Antara
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (kedua kanan) didampingi calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (tengah), calon Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat (kedua kiri) dan istri Happy Farida (kiri) melihat menu makanan dan dapur umum sebelum menyampaikan pidato politik di Posko Rumah Lembang, Menteng, Jakarta, Rabu (15/3). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Jakarta nonaktif Djarot Saiful Hidayat prihatin atas kasus dipecatnya pembina Masjid Darussalam, Pondok Pinang, Rasyidin Nawi, pada Februari 2017. Djarot menganggap, pemecatan itu berlebihan.

"Saya bukan sedih, saya prihatin, kok bangsa ini mundur ke belakang ya," kata Djarot saat kampanye ke Pasar Kedip, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (15/3/2017).

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Masjid Darussalam Abdul Ghafur membenarkan telah memecat Rasyidin Nawi lantaran mendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Menurutnya, keputusan Rasyidin berseberangan dengan keputusan pengurus lain yang sepakat memilih pemimpin muslim.

Meski begitu, Djarot mengaku belum mengetahui pemecatan Rasyidin. Menurut Djarot, perbedaan adalah hal yang wajar. Tingkat toleransi di Jakarta pun sebenarnya tak rendah.

Hal itu tampak pada tingginya indeks demokrasi Jakarta. Hanya saja, lanjut Djarot, ada beberapa orang yang memaksakan kehendaknya sendiri.

"Kita berbeda-beda it's oke lah asalkan kita bisa bertoleransi satu sama lain," tutur Djarot.

Djarot merasa kasus seperti itu hanya terjadi di pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta. Ia khawatir bila hal ini masih terjadi di Jakarta akan membahayakan pilkada serentak 2018 yang diikuti 171 wilayah.

"Kenapa sih hanya Jakarta doang, yang lainnya enggak," ucap Djarot.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pilkada DKI 2017

Sumber : Tempo

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top