Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Alasan Sopir Angkot Tanah Abang Tolak Skema OK-Otrip

Sopir angkot Tanah Abang akhirnya angkat bicara terkait penolakan mereka atas skema OK-Otrip yang ditawarkan oleh Pemprov DKI.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 07 Maret 2018  |  18:57 WIB
Ini Alasan Sopir Angkot Tanah Abang Tolak Skema OK-Otrip
Sopir angkutan kota berunjuk rasa di depan Balaikota, Jakarta, Rabu (31/1). Dalam aksinya mereka meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan agar mengevaluasi kembali kebijakannya yang menutup satu jalur Jl. Jatibaru untuk lokasi berjualan Pedagang Kaki Lima (PKL). ANTARA FOTO - Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA--Sopir angkot Tanah Abang akhirnya angkat bicara terkait penolakan mereka atas skema OK-Otrip yang ditawarkan oleh Pemprov DKI.

Perwakilan Sopir Angkot Tanah Abang Abdul Rosyid mengatakan sebagian besar pemilik keberatan dengan target yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu para sopir harus bisa beroperasi sepanjang 190 kilometer setiap hari.

"190 km itu target. Sementara, trayek saya enggak sampai segitu. Satu kali jalan paling 10 km. Kalau setengah hari 5 keliling ya 50 km, seharian mentok di 100 km. Gimana cara mencapainya?" ujar pemilik angkot M08 jurusan Tanah Abang Kota, Rabu (6/3/2018).

Dia menilai target yang ditetapkan pemerintah tidak masuk akal dan menyulitkan pemilik angkot untuk mencapainya. Padahal, jika mengikuti skema tersebut, angkot-angkot itu akan dipasang alat GPS sehingga bisa terpantau berapa km yang telah ditempuh.

Lebih lanjut, Abdul Rosyid mengatakan sudah menceritakan kesulitan tersebut kepada Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI serta PT Transjakarta. Pemerintah juga telah menurunkan target operasi dari 190 km menjadi 170 km.

Namun, dia berkilah hal itu tetap tak dapat diterima oleh pemilik angkot.

"Sejago-jagonya sopir angkot M08 paling maksimal di 110km-120km. Uang pembayaran Rp/km dipotong gaji sopir dan BBM Rp150ribu. Kami mana bisa dapat untung?" ungkapnya.

Bukan itu saja, dia juga mempertanyakan syarat diajukan, yakni total armada yang bisa bergabung hanya 90 unit. Padahal, jumlah angkot yang ada di trayek M08 mencapai 260 unit kendaraan.

"Sisanya dikemanakan? Pemerintah kalau mau kasih solusi jangan setengah-setengah dong," ucapnya.

Karena tak tercapai kata sepakat, dia meminta Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno untuk segera membuka Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang untuk kendaraan, termasuk angkot.

Jika tidak, perwakilan sopir angkot sudah menunjuk kuasa hukum untuk menyeret permasalahan ini ke pengadilan.

"Buka jalan itu. Kami sudah lama menunggu. Kalau tidai digubris, kami akan bawa masalah ini ke pengadilan," kata Abdul Rosyid.

Seperti diketahui, Anies-Sandi menutup Jalan Jatibaru sebagai bagian dari proyek penataan kawasan Tanah Abang. Jalan tersebut lantas digunakan untuk pedagang kaki lima (PKL) menjajakan dagangannya.

Penutupan jalan tersebut berimbas pada turunnya pendapatan sopir angkot yang melintasi Tanah Abang hingga 50%. Pemerintah sudah menawarkan skema OK-Otrip kepada pemilik angkot, tetapi ditolak karena tarif rupiah per kilometer yang ditawarkan tak bisa menutup ongkos operasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

angkot
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top