Anies Harap Jajarannya Terapkan Ekonomi ala Bung Hatta

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berharap jajarannya menerapkan ilmu dari workshop bertema Ekonomi Berbasis Pasar, Sosial, dan Ekologi di Balai Agung, Gedung Balai Kota, Senin (26/8/2019).
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  21:05 WIB
Anies Harap Jajarannya Terapkan Ekonomi ala Bung Hatta
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjawab peryanyaan wartawan selepas memberikan jawaban atas tanggapan DPRD terkait Raperda Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2019 di Ruang Paripurna DPRD DKI Jakarta, Senin (19/8/2019) petang. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berharap jajarannya menerapkan ilmu dari workshop bertema Ekonomi Berbasis Pasar, Sosial, dan Ekologi di Balai Agung, Gedung Balai Kota, Senin (26/8/2019).

Workshop ini merupakan buah kerja sama pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Konrad Adenaur Stiftung (KAS) Jerman dan Universitas Paramadina.

Diikuti oleh 100 (seratus) orang peserta yang terdiri atas perwakilan pejabat struktural, petinggi BUMD DKI Jakarta, dan Kepala Satuan Tingkat Kecamatan, serta pendamping wirausaha Pemprov DKI Jakarta.

Seminar bertema Social and Ecological Market Economy (Ekonomi Berbasis Pasar, Sosial, dan Ekologi) ini menghadirkan Marcus Marktanner, Ahli Ekonomi Pasar Sosial dari Kennesaw State University, Amerika Serikat dan Sri Haryati, Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta.

Anies Baswedan menyebut tema workshop ini sejalan dengan pemikiran pendiri bangsa, Mohammad Hatta yaitu Ekonomi Pancasila.

Yakni ekonomi yang bukan hanya mementingkan efisiensi pasar agar pertumbuhan ekonomi tercipta, tetapi juga memperlihatkan konsep keadilan sosial sebagaimana tujuan NKRI berdiri yang termaktub dalam UUD 1945.

“Adil itu aspeknya pengambil kebijakan. Bagaimana mengambil kebijakan yang menimbulkan pertumbuhan ekonomi, tetapi menghadirkan keadilan, dan sekarang kita hidup di bumi yang punya keterbatasan daya tampungnya. Karena itu, [harus] berkeadilan dan berkelanjutan. Itulah sebabnya tema workshop ini Social Ecological Market Economy. Market-nya dalam bentuk pertumbuhan kesejahteraan. Sosialnya untuk keadilan, ekologinya untuk keberlangsungan,” ungkap Anies.

Anies menjelaskan lebih lanjut bahwa upaya menyusun kebijakan yang hanya berdasarkan satu aspek saja, itu mudah. Namun, apabila ketiga aspek tersebut disusun secara beriringan, terdapat ilmu dan pengalaman yang harus dipelajari secara khusus.

Karena itulah, Anies berharap setelah workshop, para peserta dapat melihat kembali kebijakan-kebijakan yang selama ini berjalan dan menyesuaikannya agar tercipta pertumbuhan ekonomi yang beriringan dengan keadilan sosial, dan keberlangsungan lingkungan hidup.

“Kita berharap, cita-cita saya, harapan saya di Jakarta ini menjadi contoh sebuah sistem di mana kebijakan-kebijakannya mendasarkan pada prinsip tiga tadi. Berorientasi pertumbuhan ekonomi pasar. Berorientasi keadilan sosial. Dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan hidup. Itu bukan sesuatu yang mudah, tapi InsyaAllah kita semua bisa melakukannya bersama-sama," ujarnya.

Menurut Anies, kebijakan yang fokus pada pertumbuhan ekonomi pasar memiliki kelemahan kurang memperhatikan keadilan dan keberlangsungan, sehingga menuai masalah di kemudian hari. Oleh sebab itu, Anies meminta jajarannya serius berdiskusi dan jangan menjadikan workshop seremonial belaka.

"Kita berharap nanti di tempat bapak ibu sekalian [bekerja], review lagi apakah kebijakan-kebijakan kita sudah berdasarkan pada tiga prinsip ini. Caranya dimulai dengan belajar ini,” pinta Anies.

Direktur KAS untuk Indonesia dan Timor Leste, Jan Senkyr dalam sambutannya mengatakan bahwa konsep ekonomi pasar sosial dan ekologi telah sukses diterapkan di Jerman lebih dari tujuh puluh tahun dan menjadi panutan bagi banyak negara lain.

Oleh karena itu, KAS berkomitmen untuk mendiseminasikan konsep ekonomi pasar sosial selain pendidikan demokrasi dan supremasi hukum sebagai program kegiatan utamanya.

KAS bekerja di lebih dari 100 (seratus) negara dan telah bekerja sama dengan pemerintah Indonesia selama 50 (lima puluh) tahun. Partnership dengan Universitas Paramadina dilaksanakan sejak tahun 2012 dan telah menghasilkan 8 (delapan) postgraduate course tentang ekonomi pasar sosial.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
anies baswedan

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top