Jakarta, Gotham, & Kesetaraan di Ruang Ketiga

Gotham, kota fiktif yang digambarkan penuh kriminal, mafia, dan korupsi yang telah mengakar, sebenarnya kota yang maju dengan gedung pencakar langit dan infrastruktur modern. Nahas, jurang kesenjangan yang terlampau jauh antara si kaya dengan si miskin, telah merusak segalanya.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  00:42 WIB
Jakarta, Gotham, & Kesetaraan di Ruang Ketiga
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ketika mengunjungi pameran foto dan diskusi fotografi bertajuk 'Ruang Ketiga Jakarta' di Blok G Lantai Dasar Balai Kota DKI Jakarta, Sabtu dan Minggu, 19-20 Oktober 2019 - Bisnis/Aziz R

Bisnis.com, JAKARTA — Gotham, kota fiktif yang digambarkan penuh kriminal, mafia, dan korupsi yang telah mengakar, sebenarnya kota yang maju dengan gedung pencakar langit dan infrastruktur modern. Nahas, jurang kesenjangan yang terlampau jauh antara si kaya dengan si miskin, telah merusak segalanya.

Film Joker (2019) atau Gotham (Serial TV 2014-2019) secara tak langsung menggambarkan sejarah 'kota kegelapan' tersebut sebelum Batman, simbol harapan, pemberantas kejahatan, sekaligus keseimbangan kota, hadir dan lahir dari jantung Gotham City.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan paham bahwa ketimpangan sosial yang terjadi di Ibu Kota perlu intervensi pemerintah. Setidaknya, hal ini sanggup mengurangi kemungkinan Jakarta menjadi Gotham di dunia nyata. Pemanfaatan 'ruang ketiga' menjadi kuncinya.

Dalam hal ini, pameran foto dan diskusi fotografi bertajuk 'Ruang Ketiga Jakarta' di Blok G Lantai Dasar Balai Kota DKI Jakarta, Sabtu dan Minggu, 19-20 Oktober 2019 mampu menggambarkan hal tersebut.

Dalam pameran ini, karya-karya fotografi unik dari berbagai ruang ketiga DKI Jakarta disajikan dengan indah. Mulai dari sisi lain trotoar, taman kota, fasilitas transportasi umum seperti stasiun dan halte, hingga jembatan penyeberangan orang (JPO).

Pembagian ruang kota, merupakan ide yang kerap diusung Anies dalam berbagai kesempatan. Menurutnya, ruang pertama adalah rumah, ruang kedua ada di kantor atau tempat beraktivitas sehari-hari, dan ruang ketiga adalah tempat bertemunya masyarakat.

Ketika mengunjungi pameran, Anies menekankan bahwa ruang ketiga perlu dibangun atas dasar kesetaraan. Ruang ketiga Ibu Kota harus menjadi tempat di mana status sosial bukan masalah, seluruh warga bisa leluasa menikmatinya.

"Ruang publik kita itu masih minim interaksi. Orang berangkat kerja, ada yang naik motor, ada yang naik mobil. Mereka di jalan fokus berkendara, kemudian hanya berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan kantornya," ujar Anies.

"Saya bertanggung jawab atas keadaan ini. Jadi, kita harus merancang kota ini dengan ruang ketiga yang memungkinkan interaksi lintas sosial-ekonomi, terutama ruang-ruang yang terkait dengan transportasi massal, di mana di sana, semua orang setara," tambahnya.

Anies menambahkan, begitu banyak fasilitas yang ada di Jakarta tidak selalu dirancang atau didesain untuk memberikan pengalaman.

"Saya beri contoh tentang trotoar atau tentang jembatan penyeberangan orang. Kita mendorong agar tempat-tempat itu bukan menjadi tempat di mana warga berlalu-lalang rutin. Saya tuliskan di JPO yang ada di Gelora atau yang lain, bahwa, 'Berangkat dan Pulang Kerja Kangan Jadi Perjalanan, Dia Harus Menjadi Pengalaman'. Nah, kalau dia menjadi pengalaman, maka selalu akan memberikan perasaan yang berbeda," ungkap Anies.

Oleh sebab itu, Anies mengapresiasi inisiatif dari adanya pameran foto ini. Menurutnya, hal ini sanggup memberikan perspektif baru bagi masyarakat yang melihat.

"InsyaAllah saya berharap gambar-gambar yang ada di sini tidak pernah dipamerkan di blok G ini. Saya harap ini akan pamerkan di Jalan Kendal, di dekat-dekat stasiun, supaya mendorong warga untuk bisa, satu, merasakan suasana baru, dan yang kedua, bagi teman-teman semuanya kami dalam setiap kali mendorong tidak pernah melewatkan bahwa ini kolaborasi [antara pemerintah dan komunitas]," ungkap Anies.

Turut hadir fotografer senior Arbain Rambey yang memberikan materi terkait fotografi. Dirinya menekankan bahwa Jakarta merupakan tempat spot fotografi tanpa batas dan bisa terus dieksplorasi.

Menurutnya, fotografi dan ruang ketiga Ibu Kota yang semakin baik mampu saling mendukung. Misalnya, pembenahan trotoar yang membuat kabel-kabel udara di atasnya turun ke bawah tanah akan membuat gedung-gedung dan aktivitas di sekitarnya menjafi bidikan yang apik.

Sebaliknya, apabila trotoar ini diokupansi pengendara motor, fotografi juga bisa memberikan pesan tersendiri agar budaya tersebut tak lagi berlangsung. Dirinya bahkan pernah membuat tema lomba foto terkait keindahan dari buruknya kota Jakarta macam ini.

"Sebagai jurnalis, tentu kita suka ruang publik yang berantakan, jadi ada berita dan punya pesan buat pemerintah. Tapi sebagai fotografer yang sekaligus penduduk suatu kota, tentu ruang publik yang baik memberikan kenyamanan di mata maupun di kamera," ujarnya.

Oleh sebab itu, harapannya tentu saja, lewat kesetaraan di ruang publik, kolaborasi antara pemerintah dan berbagai lapisan masyarakat, dan fotografi yang memberikan berbagai sudit pandang menarik untuk masyarakat, Batman tak perlu lahir di Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jakarta, anies baswedan

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top