Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pro-Kontra Batu Alam Monas vs Aspal Sirkuit Formula E

Kepala Seksi Pelayanan UPK Monas Irfal Guci menekankan bahwa bagaimana pun batu alam di pelataran Monas memiliki kekuatan hukum untuk dipertahankan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 17 Februari 2020  |  13:08 WIB
Suasana pembangunan Plaza Selatan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Senin (20/1/2020). Pemprov DKI Jakarta melakukan revitalisasi kawasan Monas dengan menebang kurang lebih 190 pohon untuk dibangun plaza yang akan dilengkapi dengan fasilitas publik yang ditargetkan selesai pada Februari 2020. - Antara
Suasana pembangunan Plaza Selatan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Senin (20/1/2020). Pemprov DKI Jakarta melakukan revitalisasi kawasan Monas dengan menebang kurang lebih 190 pohon untuk dibangun plaza yang akan dilengkapi dengan fasilitas publik yang ditargetkan selesai pada Februari 2020. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Ajang balap mobil listrik Formula E di Jakarta dipastikan berlangsung sesuai jadwal, namun perdebatan terkait permanen atau tidaknya aspal sirkuit masih belum mencapai kesepakatan. Terutama, berkaitan dengan penanganan batu alam atau cobblestone di kawasan pelataran Monas. Kelebihan dan kekurangan dari pilihan yang ada, menyajikan dilema tersendiri.

Kepala Seksi Pelayanan UPK Monas Irfal Guci menekankan bahwa bagaimana pun batu alam di pelataran Monas memiliki kekuatan hukum untuk dipertahankan.

"Monas itu baik tugu maupun kawasannya adalah cagar budaya. Itu batu candi [cobblestone] yang punya kekuatan lebih. SK gubernur 475 [tahun 1993] lampiran nomor 17 dan 19 menyebut bahwa Monas kawasan cagar budaya," ujarnya kepada Bisnis, Senin (17/2/2020).

Oleh sebab itu, terkait hal ini, Irfal berpegang pada UU No 11/2010 bahwa cobblestone Monas merupakan warisan budaya bersifat kebendaan yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

Pengamat Tata Kota Nirwono Joga mengungkap dilema bahwa pengelupasan aspal selepas perlombaan justru mengesankan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tak memikirkan pembangunan berkelanjutan.

"Misal setelah pengaspalan hotmix cobblestone, setelah penyelenggaraan Formula E aspal dibongkar, mau dibuang, disimpan, atau di kemanakan aspal tersebut?" ungkapnya kepada Bisnis, Senin (17/2/2020).

Terlebih, belum tentu tahun depan penyelenggaraan Formula E kembali membangun sirkuit tersebut di Monas atau di lain lokasi di mana pengaspalan akan dilakukan lagi.

"Ini justru tidak ramah lingkungan dan cara ini malah cenderung pemborosan anggaran kalau setiap tahun nanti harus mengaspal sirkuit Formula E di lain lokasi dan membongkar kembali aspal tersebut setelah selesai perlombaan," tambahnya.

Permanen Butuh Upaya Lebih

Sebelumnya, wacana agar sirkuit Jakarta E-Prix yang akan berlangsung pada 6 Juni 2020 ini tak permanen diungkap Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho.

Cobblestone Monas akan dilapisi dahulu dengan membran atau geotekstile, baru ditumpuk layer hotmix. Perlakuan ini pun dikhususkan pada lintasan di tengah atau di pelataran Monas saja.

Menanggapi hal ini, Nirwono menekankan apabila Pemprov DKI Jakarta serius membuat sirkuit Formula E sebagai aset sport tourism, seharusnya dipikirkan secara matang dahulu di mana sirkuit seharusnya berada agar eksekusi konstruksinya optimal.

"Karena langkah mengaspal hotmix di atas cobblestone justru menunjukkan cara penanganan konstruksi yang sama sekali tidak ramah lingkungan, tidak berkelanjutan, dan jelas tidak go green," katanya.

Selaku perwakilan pihak pelaksana pembangun infrastruktur sirkuit, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Dwi Wahyu Daryoto mengungkap masih terbuka dua opsi yang memungkinkan untuk dilakukan.

Yakni mengangkat cobblestone kemudian mengaspal secara permanen atau seperti kata Hari, melapisi cobblestone dengan lapisan pengaman, kemudian ditumpuk aspal.

Dari sisi efektivitas pengerjaan, pelapisan lebih mudah dan cepat. Roma, Berlin, dan Paris, menggunakan metode ini dalam membangun infrastruktur 'city circuit' di kawasan jalan berlapis batu alam. Terlebih, pembongkaran total cobblestone butuh waktu lebih lama.

Pilihan awal Jakpro hingga kini masih ada di pelapisan sebagian cobblestone, tepatnya di area-area di mana jalur trek, tribun, pit, dan paddock berada. Teknologi terkini dirasa mampu membuat lapisan aspal sementara itu bisa segera dilepas setelah event, sehingga cobble stone akan kembali seperti semula.

Namun, Dwi sendiri cenderung menginginkan aspal sirkuit lebih baik permanen, bagaimana pun metodenya. Pertimbangan pertama, karena cobblestone yang kini ada, sebenarnya sama saja seperti aspal yang tidak menyerap air.

Oleh sebab itu, Dwi menekankan aspal justru lebih ramah untuk warga disabilitas yang akan berkunjung ke pelataran Monas.

"Nah, ini artinya kontribusi kita juga kalau misalnya nanti tidak dikelupas. Ini untuk fasilitas teman-teman kita yang disable, untuk menikmati Monas dengan lebih nyaman," ujarnya dalam diskusi Formula E di bilangan Cikini, Jumat (14/2/2020).

Selain itu, apabila sirkuit bisa dipermanenkan, maka kemungkinan penyelenggaraan ajang balap lain terselenggara di Monas pun terbuka.

Hal ini karena fasilitas kelengkapan sirkuit seperti barrier, pagar penonton, atau infrastruktur pelindung sirkuit lain sudah menjadi aset Jakpro yang bisa dioptimalkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

monas Formula E Championship
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top