Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ganjil Genap Diprotes Pedagang Pasar, Cemaskan Sayuran Membusuk

Sejumlah pedagang pasar tradisional di DKI Jakarta memprotes penerapan sistem ganjil genap, karena khawatir sayuran membusuk jika tidak terjual dalam hari yang sama.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 15 Juni 2020  |  10:28 WIB
Pintu masuk Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Bisnis - Arief Hermawan P
Pintu masuk Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah pedagang pasar tradisional di DKI Jakarta memprotes penerapan sistem ganjil genap, karena khawatir sayuran membusuk jika tidak terjual dalam hari yang sama.

Mulai hari ini, Senin (15/6/2020), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan sistem ganjil genap di 153 pasar tradisional untuk mengatur rotasi pedagang pasar secara bergantian.

Para pedagang belum terbiasa dengan sistem itu sehingga banyak protes pada hari pertama pelaksanaan ganjil genap di pasar tradisional tesebut.

Kantor berita Antara melaporkan pedagang sayur Pasar Perumnas Klender, Jakarta Timur, memprotes Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Arief Nasrudin soal pemberlakuan sistem ganjil genap operasional kios sebab khawatir dagangan mereka busuk.

Pernyataan itu disampaikan kepada Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Arief Nasrudin saat meninjau pemberlakuan sistem ganjil-genap yang dimulai Senin (15/6/2020) pagi ini.

"Kalau sistemnya ganjil-genap, seperti tomat, daun bawang dan sayur-sayuran lainnya otomatis busuk Pak, tidak ada yang mau beli," kata pedagang sayur Sri Pujiati (42).

Menurut Sri pembatasan operasional pedagang membuat separuh dari total 1.000 lebih pedagang hanya diperbolehkan tiga kali berdagang dalam sepekan.

Sementara dagangan sayur mayur yang distok pedagang harus dijual pada hari yang sama agar tetap segar saat dikonsumsi pembeli.

Pedagang lainnya Ismah (49) menginginkan operasional pedagang tetap diberlakukan secara normal setiap hari.

"Enggak apa-apa, saya juga patuh kok sama protokol kesehatan, pakai masker, face shield, cuci tangan," katanya.

Pedagang juga mempertanyakan fakta terkait 18 rekan seprofesi mereka yang dinyatakan positif Covid-19 usai agenda pemeriksaan kesehatan beberapa pekan lalu.

"Sebab yang saya tahu, 18 pedagang itu negatif Covid-19. Mereka hanya reaktif saja. Gara-gara kabar itu pembeli jadi sepi pak," katanya.

Menanggapi pernyataan itu Arief mengatakan seluruh pedagang harus patuh pada pemberlakuan ganjil genap.

"Mungkin di awal-awal akan kurang nyaman, tapi kebijakan ini untuk menjaga kita semuanya," kata Arief.

Sistem ganjil genap disesuaikan antara nomor kios pedagang dengan tanggal, kios dengan nomor ganjil buka pada tanggal ganjil dan kios pada tanggal genap dibuka pada tanggal genap.

Sementara lapak pedagang yang tidak memiliki kios diberikan jarak masing-masing satu meter agar tidak berimpitan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dki jakarta Pasar Tradisional pd pasar jaya New Normal

Sumber : Antara

Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top