Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Alasan Kemenag Cabut Izin Pesantren Milik Pemerkosa Santri

Pencabutan izin pesantren milik pemerkosa santri dilakukan untuk mendukung langkah hukum yang telah diambil kepolisian.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 10 Desember 2021  |  16:48 WIB
Gedung Kementerian Agama - kemenag.go.id
Gedung Kementerian Agama - kemenag.go.id

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) mencabut izin operasional Pesantren Manarul Huda Antapani, Bandung menyusul tindakan pemerkosaan terhadap sejumlah santri oleh pemimpinnya yang berinisial HW

Dirjen Pendidikan Islam M Ali Ramdhani mengatakan pencabutan izin tersebut untuk mendukung langkah hukum yang telah diambil kepolisian.

Sebagai regulator, Kemenag memiliki kuasa administratif untuk membatasi ruang gerak lembaga yang melakukan pelanggaran berat seperti ini.

"Kita telah mengambil langkah administratif, mencabut izin operasional pesantren tersebut," kata Ali di dalam siaran pers seperti dikutip Bisnis, Jumat (10/12/2021).

Terkait dengan hal itu, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Waryono mengungkapkan pihaknya sejak awal telah mengawal kasus ini,  berkoordinasi dengan Polda Jawa Barat dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jawa Barat.

Langkah pertama yang sudah diambil adalah menutup dan menghentikan kegiatan belajar mengajar di lembaga pesantren tersebut.

Kemenag, sambungnya, langsung memulangkan seluruh santri ke daerah asal masing-masing dan membantu mereka mendapatkan sekolah lain untuk melanjutkan belajarnya. Dalam hal ini, Kemenag bersinergi dengan madrasah-madrasah di lingkup Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pesantren
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top