Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemprov DKI diimbau konversi lahan mangrove

 
Sekretariat Redaksi
Sekretariat Redaksi - Bisnis.com 28 November 2011  |  19:40 WIB

 

JAKARTA: Proyek pembangunan tanggul raksasa dan peninggian tanggul yang ada di pantai utara Jakarta tidak dapat membebaskan Ibu Kota dari ancaman banjir air laut pasang, jika tidak disertai dengan pengembangan lahan konservasi tanaman mangrove.
 
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia DKI Jakarta Ubaidillah mengatakan teknologi penanganan air laut pasang atau rob di Ibu Kota tidak bisa hanya mengandalkan bangunan tanggul raksasa seperti yang berhasil dibuat di Amsterdam Belanda.
 
"Karakteristik pantai dan laut Jakarta sangat berbeda dengan di Amsterdam Belanda, sehingga pembangunan tanggul laut tidak dapat menjadi solusi mengatasi banjir tanpa dibarengi dengan pengembangan lahan konserfasi tanaman mangrove," katanya hari ini.
 
Menurutnya, pantai utara Jakarta menjadi muara dari 13 sungai dengan tingkat pencemaran yang cukup tinggi, permukaan air lautnya cenderung meningkat sekitar 0,8 cm per tahun dan permukaan tanah di sejumlah daratannya turun hingga sering terjadi genangan air.     
 
Ubaidillah menjelaskan kondisi tersebut tidak dapat hanya diatasi dengan membangun tanggul raksasa yang membentengi air laut sejak dari Cilincing hingga Dadap di dekat perbatasan dengan Tangerang, maupun meninggikan tanggul yang sudah ada.
 
Sebab, lanjutnya, kawasan Pantai Mutiara dengan bangunan propertinya termasuk 4 menara Apartemen Regatta, yang dibangun di atas lahan hasil reklamasi dengan ketinggian 3 meter di atas air laut itu pun sekarang sudah terjamah oleh rob.
 
"Sementara lahan konserfasi tanaman mangrove yang cukup efektif untuk menahan air laut hanya tersisa sekitar 20 hektar di pantai Kapuk, yang manfaatnya sebagian dirasakan oleh kawasan Pantai Indah Kapuk, tidak terkena rob," ujarnya.
 
Dia juga mengungkapkan pembangunan tanggul raksasa yang direncanakan Pemprpov DKI akan menghambat sirkulasi air laut yang dapat mempercepat proses terjadi pendangkalan akibat pengendapan lumpur. 
 
"Fenomena yang menyenangkan bagi pengembang properti yang akan menggarap proyek reklamasi pantai utara Jakarta, tetapi menyusahkan bagi para nelayan karena daerah tangkapan ikanya menjadi semakin jauh," ujarnya. (sut)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top