Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Demam Berdarah Selalu Menjangkiti Warga, Apa yang Harus Dilakukan?

Bisnis.com, JAKARTA--Kehadiran nyamuk aedes aegypti sebagai vektor penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD), selalu ada setiap tahun dan sulit diberantas. Padahal berbagai upaya memberantasnya terus dilakukan. Siapakah yang salah?"Tidak ada yang
Rahmayulis Saleh
Rahmayulis Saleh - Bisnis.com 21 Juli 2013  |  10:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Kehadiran nyamuk aedes aegypti sebagai vektor penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD), selalu ada setiap tahun dan sulit diberantas. Padahal berbagai upaya memberantasnya terus dilakukan. Siapakah yang salah?

"Tidak ada yang bisa disalahkan. Bukan salah masyarakat, bukan salah pemerintah. Memang keadaan alam yang membuatnya selalu muncul. Musim penghujan yang diperkirakan selesai sampai April lalu, ternyata hingga Juli ini masih turun," kata Dokter John Marbun, Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan Masyarakat Dinkes DKI Jakarta, Jumat (19/7/2013).

Menurut dia, tidak perlu saling menyalahkan, tetapi yang terpenting adalah kerja sama lintas sektor antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Penyakit DBD yang diakibatkan oleh nyamuk aedes aegypti masih menjadi problem utama di banyak negara tropis seperti Indonesia. Saat ini Indonesia menempati posisi kedua di dunia setelah Brasil, dan di urutan teratas di Asean dengan angka insiden DBD tertinggi.

Menurut data Kementerian Kesehatan, pada 2012 jumlah kasus DBD mencapai 70.000 kasus, dengan angka kematian 70 orang, (tingkat kefatalan kasus/CFR sebesar 1%).

Di Jakarta sendiri, pada 2012 tercatat sebanyak 6.669 kasus dengan 5 kematian. Angka ini meningkat pada 2013. Hingga 15 Juli, tercatat sebanyak 5.731 kasus di DKI Jakarta, dengan 14 kematian (CFR 0,24%).

"Cuaca tahun ini cukup berbeda dengan pola tahun-tahun sebelumnya. Diperkirakan musim hujan terjadi hingga Agustus. Saat musim hujan ini nyamuk aedes aegypti akan cepat berkembang biak. Karena itu perlu kesadaran seluruh masyarakat dalam memperhatikan lingkungannya karena DBD adalah urusan setiap orang," ungkap John.

Dia mengatakan lokasi yang rawan terhadap berkembangnya DBD adalah pemukiman, sarana pendidikan, tempat umum, seperti mal, pasar, dan lainnya, perkantoran, sarana ibadah, dan juga sarana kesehatan.

Selain itu, tempat-tempat buatan manusia seperti vas bunga, gentong, ember, ban bekas, atau apapun yang dapat menampung air, menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti.

"Nyamuk yang habitatnya senang berada di tempat-tempat yang lembab dan gelap ini, perlu darah untuk mematangkan telurnya. Karena itu mereka hidup dekat dengan manusia. Mereka menghisap darah sambil memasukkan virus dengue ke tubuh manusia," ujarnya.

Oleh karena itu, perlu langkah dalam menghambat perkembangbiakan nyamuk ini sehingga penyebaran penyakit DBD dapat dicegah dan dikendalikan.

John menuturkan pemerintah sudah membuah Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dengan dukungan kader-kader PKK, dengan nama Juru Pemantau Jentik (Jumantik), bersama masyarakat dengan aplikasi disesuaikan daerah masin-masing.

DI Jakarta, gerakan PSN dilakukan seminggu sekali selama 30 menit, untuk mencegah jentik nyamuk berkembang biak.

Gerakan PSN mencakup 3M Plus, yaitu kegiatan menguras, menutup, dan mengubur, serta menghindari gigitan nyamuk, memantau semua wadah air yang dapat menjadi tempat jentik nyamuk berkembang. 

"Jika masyarakat secara rutin melakukan kegiatan 3M sekali. Seminggu, kegiatan ini mampu menekan insiden penyakit DBD," ujar John.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dki dbd demam berdarah nyamuk aedes aegypti
Editor :

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top