Januari 2015, Provinsi Banten Alami Deflasi

Badan Pusat Statistik Provinsi Banten menyatakan pada Januari 2015 wilayah ini mengalami deflasi sebesar 0,34% seiring dengan penurunan harga yang signifikan pada tiga komoditi, yaitu bahan bakar minyak, angkutan udara, dan cabe merah.
Muhammad Abdi Amna | 02 Februari 2015 23:20 WIB
Sejumlah daerah penghasil beras seperti Kabupaten Lebak berisiko tinggi dihantam bencana banjir akibat hujan. - Bisnis.com

Bisnis.com, TANGERANG—Badan Pusat Statistik Provinsi Banten menyatakan pada Januari 2015 wilayah ini mengalami deflasi sebesar 0,34% seiring dengan penurunan harga yang signifikan pada tiga komoditi, yaitu bahan bakar minyak, angkutan udara, dan cabe merah.

Syech Suhaimi, Kepala BPS Provinsi Banten, mengatakan harga barang dan jasa kebutuhan pokok masyarakat Banten secara umum mengalami penurunan, terlihat dari turunnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 124,05 pada Desember 2014 menjadi 123,62 pada Januari 2015.

“IHK pada kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami penurunan sangat besar yakni 4,83% memiliki peran sangat dominan atas terjadi deflasi. Sementara peningkatan indeks pada kelompok pengeluaran lainnya berjalan moderat,” ungkapnya kepada Bisnis.com, Senin (2/2/2015).

Adapun indeks harga konsumen pada kelompok pengeluaran lainnya yang mengalami kenaikan a.l bahan makanan 0,71%, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,48%, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,73%, sandang 0,62%, kesehatan 0,17%, serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 1,08%.

Budiharto Setyawan, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, mengatakan kendati pada bulan lalu Banten mengalami deflasi, namun, harga barang volatile foods seperti bahan makanan berisiko mengalami peningkatan pada bulan ini efek dari musim penghujan.

“Ini adalah siklus tahunan. Peningkatan harga barang makanan akan dipengaruhi oleh kemungkinan gagal panen ditingkat petani akibat hujan dan terputusnya jalur distribusi pangan akibat banjir yang melanda sejumlah daerah di Indonesia,” ujarnya.

Oleh karena itu, seluruh stakeholder di Provinsi Banten harus mencermati segala kemungkinan yang dapat memutus rantai pasokan barang. Pemerintah daerah dinilai perlu mengamankan stok barang kebutuhan pokok untuk masyarakat.

Menurutnya, berdasarkan peringatan yang dikeluarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, sejumlah daerah penghasil beras seperti Kabupaten Lebak berisiko tinggi dihantam bencana banjir akibat hujan.

Kendati demikian, tuturnya, berdasarkan data Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Banten, saat ini persediaan beras di Banten masih mencukupi untuk enam bulan ke depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
banten

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top