Sakit Kanker, Calon Doktor Jadi Pengemudi Go-Jek

Seorang guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Pangudi Luhur, Thomas Sutana, meninggalkan pekerjaannya dan beralih menjadi pengemudi Go-Jek.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 19 September 2015  |  07:59 WIB
Sakit Kanker, Calon Doktor Jadi Pengemudi Go-Jek
Ojek online, Go-Jek - Twitter

Bisnis.com, JAKARTA-- Seorang guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Pangudi Luhur, Thomas Sutana, meninggalkan pekerjaannya dan beralih menjadi pengemudi Go-Jek.

Pria 48 tahun ini rela meninggalkan pekerjaannya itu demi mengurus istrinya yang menderita kanker.

"Saya daftar Go-Jek untuk tambah biaya menghidupi keluarga," kata Tana, sapaan akrab Thomas, saat ditemui di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2015).

Kisah Thomas berawal ketika dirinya mengetahui sang istri mengidap kanker stadium 3C sekitar setahun lalu. Awalnya istrinya mengidap kanker rahim.

Setelah sembuh, kanker kembali muncul di bagian otak. Saat ini, katanya, ada kemungkinan kanker menjalar ke paru-paru dan usus besar.

"Saya harus siaga menjaga istri agar penanganannya tak terlambat," ujarnya.

Kondisi istrinya itu membuat Tana memutuskan untuk mengajukan pensiun dini dari profesinya sebagai Guru di SMP dan SMA Pangudi Luhur.

Dia sudah mengabdi di sekolah swasta ternama itu sejak 1996 atau kurang lebih 18 tahun.

Dengan menjadi pengemudi Go-Jek, Tana mengaku bisa memberikan perhatian lebih. Di sela-sela kesibukannya sebagai pengemudi Go-Jek, Tana mengaku selalu menyempatkan diri untuk menengok sang istri. Setiap hari, dia mengambil rata-rata lima pelanggan.

Dia lebih memilih pelanggan dengan jarak tempuh jauh agar uang yang didapatkan langsung banyak. Biasanya, Tana keluar dari rumahnya di daerah Pamulang, Tangerang Selatan, pukul 04.30. Biasanya, penumpang minta diantar ke kawasan perkantoran, seperti Sudirman atau Kuningan.

 "Lumayan sekali narik, tarif normalnya sekitar Rp 90.000," katanya.

Tana yang kini juga mengambil program doktor itu akan kembali ambil penumpang yang jarak tempuhnya jauh. Misalnya, dari Kuningan ke Alam Sutera. Setelah itu, Tana akan kembali ke rumah untuk mengecek kondisi istri sebelum mulai ngojek kembali.

Sebulan Lalu

Tana mengatakan, dirinya baru menjadi pengemudi Go-Jek sekitar sebulan yang lalu. Ramainya pemberitaan soal layanan ojek online itu membuat dirinya tertarik. Tana berulang kali daftar jadi pengemudi melalui pesan singkat. Namun, tak ada jawaban.  

Dia pun menghampiri kantor Go-Jek untuk minta kejelasan lamarannya. Tana pun disuruh untuk mendaftar kembali saat rekrutmen Go-Jek besar-besaran bulan Agustus. Seharian menunggu, Tana pun langsung resmi jadi pengemudi GoJek.

"Bahkan, ada mantan murid saya yang jadi karyawan Go-Jek kaget saat saya daftar," candanya.

Keluar dari pekerjaan yang digemarinya bukanlah hal mudah. Terlebih lagi, selain istri, dirinya juga harus mengurus anak semata wayangnya yang masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar. Untungnya, dia dibantu seorang asisten rumah tangga yang setia ikut keluarganya sejak tujuh tahun silam.

Tana pun mengaku, ada kalanya dirinya marah pada Tuhan. Tapi, membahagiakan istri dan anaknya adalah motivas terbesar Tana untuk terus bekerja dan belajar.

Bahkan, dia merasa Tuhan malah memberinya jawaban yang indah saat dirinya sudah bisa menyerahkan diri sepenuhnya.

"Menjadi pengemudi Go-Jek adalah salah satu rencana indah Tuhan untuk saya dan keluarga."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Go-Jek

Sumber : Tempo

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top