Jelang 2016, Pengembang Rumah Murah di Banten Percaya Diri

Jelang 2016, Pengembang Rumah Murah di Banten Percaya Diri
Dini Hariyanti | 02 November 2015 16:29 WIB
Proyek perumahan sederhana - Bisnis

Bisnis.com, TANGERANG—Pengembang rumah murah di Provinsi Banten meyakini bisnisnya pada 2016 bakal lebih baik dibandingkan dengan tahun ini.

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Banten Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman (Apersi) Defrian Olyvia mengatakan bisnis pada tahun depan kemungkinan berjalan lebih mulus karena para pengembang telah menyelesaikan berbagai perizinan dan hal teknis lain.

"Pada tahun depan izin usaha sudah dikeluarkan yang sempat terhambat karena regulasi yang simpang siur. Jadi pada 2016 itu pengembang sudah mulai belanja," ucapnya kepada Bisnis, Senin (2/11/2015).

Berbagai perizinan banyak yang terkendala sehingga penerbitannya molor. Dua izin yang paling sering terganjal adalah izin mendirikan bangunan (IMB) dan izin lokasi. Sejak 2014 sampai tahun ini developer sibuk mengurus perizinan dan pengadaan lahan.

Adapun lokasi yang tetap jadi primadona untuk membangun rumah murah di Provinsi Banten tetap Kabupaten Tangerang. Harga dan ketersediaan tanah di wilayah ini paling feasible alias layak digarap ditambah lagi lokasinya relatif lebih strategis ketimbang di luar Tangerang.

"Di Tangerang itu yang diidolakan kabupaten bukan kota. Karena selain di kabupaten harga tanah lebih mahal dan tanahnya penuh belum lagi sudah banyak pengembang besar," ujar Defrian.

Tanah di wilayah Tangerang Raya secara umum tetap menarik di mata pengembang properti. Apabila pengembang rumah murah membidik daerah kabupaten, maka yang skala besar cenderung memilih Kota Tangerang Selatan.

Tangerang terbilang strategis karena dekat dengan Bandara, dilintasi tol Jakarta - Merak, dekat dengan pelabuhan, serta kantung industrinya tumbuh. Belum lagi ditunjang populasi penduduk yang gemuk, pada 2013 populasi Kota Tangerang saja 1,85 juta jiwa.  

Kepala Bank Indonesia Provinsi Banten Budiharto Setyawan sempat mengutarakan perkembangan properti sampai dengan triwulan II/2015 memang terpusat di Tangerang Raya.

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) indeks properti perumahan di Provinsi Banten secara keseluruhan melambat hanya 5,95% (yoy) pada periode itu. Pendorong utama adalah kenaikan biaya produksi bangunan.

“Biaya produksi itu [akumulasi dari] bahan bangunan, upah tenaga kerja, dan kenaikan BBM,” ucap Budiharto.

Secara umum penjualan rumah di Banten pada triwulan kedua tahun ini melambat seiring dengan tingginya perkembangan harga yang tumbuh 4,21% (yoy). Tapi kenaikan harga yang signifikan hanya terjadi pada tipe rumah kecil.

Tag : perumahan
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top