Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Organda DKI Tolak Perda Batas Usia Maksimal Kendaraan 10 Tahun

Terkait Penerapan Perda No 5/2014 terkait peraturan usia maksimal transportasi 10 tahun yang dilakukan oleh BPTSP DKI dan Dishubtrans DKI mendapat penolakan keras dari pengusaha angkutan umum di Jakarta.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 17 Februari 2016  |  02:59 WIB
Organda DKI Tolak Perda Batas Usia Maksimal Kendaraan 10 Tahun
Angkutan Umum di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Rabu (28/1/2015) - JIBI/Rahmatullah
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Terkait Penerapan Perda No 5/2014 terkait peraturan usia maksimal transportasi 10 tahun yang dilakukan oleh BPTSP DKI dan Dishubtrans DKI mendapat penolakan keras dari pengusaha angkutan umum di Jakarta.

Ketua DPD Organda DKI Shafruhan Sinungan mengatakan pihaknya merasa keberatan dengan penerapan Perda No 5/2014 tentang Transportasi.

Lebih lanjut, dia berharap Pemprov DKI dan DPRD DKI bisa merevisi aturan tersebut. "Khususnya pasal 51 tentang semua bus besar maupun kecil umur maksimalnya 10 tahun. Kami minta diperpanjang," jelasnya, Selasa (16/2/2016).

Dia menuturkan kunci utama bukan usia angkutan, melainkan kualitas uji KIR. Misalnya, kata dia, dari total 80.000 kendaraan umum di Jakarta, 85% berumur di atas 10 tahun. Namun, kondisinya masih laik jalan.

Ada pun, rencana penerapan pembatasan masa pemakaian kendaraan maksimal 10 tahun di Jakarta ini adalah salah satu upaya dari Pemprov DKI untuk mengurangi jumlah kendaraan di Jakarta atasi kemacetan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

organda pembatasan mobil
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top