Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Organda DKI: Demo Angkot Tanah Abang Ditunggangi Kepentingan Politik

Ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengaku bingung dengan demo sopir angkot yang dilakukan di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 29 Januari 2018  |  20:11 WIB
Organda DKI: Demo Angkot Tanah Abang Ditunggangi Kepentingan Politik
Mobil angkutan umum diparkir menutup jalan Jatibaru, Tanah Abang, sebagai bentuk protes terkait kebijakan Pemprov DKI yang menutup jalan untuk kendaraan di depan Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Senin (29/1). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA–Ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengaku bingung dengan demo sopir angkot yang dilakukan di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Dia berpikir tuntutan para sopir sudah diakomodasi oleh Pemerintah, khususnya Dishubtrans DKI, ketika melakukan demonstrasi di depan Balai Kota minggu lalu.

"Organda pusing karena tuntutan sopir berubah-ubah. Kemarin katanya sudah ditanggapi, ternyata sekarang minta Jalan Jatibaru dibuka. Kalau begini saya malah curiga demo angkot dutunggangi kepentingan politik," katanya ketika dihubungi Bisnis hari ini Senin (21/1/2018).

Dia mengatakan ada lima trayek angkot dengan jurusan Tanah Abang, yaitu M08, M10, M09, M09A, dan M11. Jika ditotal jumlah kendaraan mencapai 1.170 unit. Menurutnya, salah satu perwakilan angkot M08 sebenarnya enggan ikut demo, tetapi dipaksa oleh sekelompok pihak.

Dengan demikian, Shafruhan menilai langkah Pemprov DKI untuk menutup jalan Jatibaru Raya untuk kendaraan, baik pribadi maupun angkutan umum, justru berdampak positif bagi para sopir dan pemilik angkot. Pasalnya, jumlah angkot dan ribuan kendaraan umum lain dijamin membuat situasi di Tanah Abang makin macet.

"Anda bayangkan saja, kalau naik angkot dari pintu keluar stasiun sampai keluar Tanah Abang itu bisa memakan waktu sampai satu jam. Itu sama saja buang-buang waktu, bahan bakar, dan energi. Sewa juga tak terlalu banyak sehingga banyak angkot ngetem," imbuhnya.

Untuk itu, dia meminta agar pengusaha atau sopir angkot tak usah melakukan mogok atau bahkan demo sampai menutup jalan raya. Selain rugi karena tak mendapat sewa, kegiatan tersebut malah berdampak negatif bagi masyarakat. Salah satu contohnya bus Transjakarta Tanah Abang Explorer yang stop beroperasi sepanjang Senin (29/1/2018).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

angkot
Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top