MRT Jakarta Perketat Penilaian Faktor Keselamatan Kerja untuk Kontraktor

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta memperketat penilaian faktor keselamatan kerja (safety work) kepada kontraktor yang ikut dalam pembangunan fisik proyek.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 16 Februari 2018  |  17:25 WIB
MRT Jakarta Perketat Penilaian Faktor Keselamatan Kerja untuk Kontraktor
Pekerja menyelesaikan pembangunan konstruksi mass rapid transit di Jakarta, Senin (8/1). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta memperketat penilaian faktor keselamatan kerja (safety work) kepada kontraktor yang ikut dalam pembangunan fisik proyek.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim hal tersebut dilakukan untuk menjamin proses konstruksi berjalan sesuai rencana dan tidak terjadi kecelakaan kerja di lapangan. Selain keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pihaknya juga menerapkan skema penilaian secara spesifik.

"Kami berlakukan skema penilaian kontraktor berdasarkan demerit points [pengurangan nilai]. Penilaian ini berlaku untuk semua kontraktor yang mengikuti pembangunan di fase I koridor I," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (16/2/2018).

Dia menuturkan skema penilaian menggunakan demerit points sudah dilaksanakan sejak Maret 2017. Secara singkat, demerit points bisa diartikan sebagai bentuk penalti atau pengurangan nilai apabila kontraktor melakukan kesalahan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan kontraktor a.l. keselamatan pekerja di lapangan, kerapihan dan kesesuaian hasil pekerjaan dengan desain, serta keamanan di lokasi pembangunan.

Menurut Silvia proses konstruksi pembangunan fisik MRT Jakarta harus dijaga ketat dan penuh kedisiplinan. Jika hal itu dapat dilakukan maka aksn membuahkan hasil yang rendah insiden kecelakaan dan berlangsung relatif aman.

Jika kontraktor tidak bekerja secara hati-hati, demerit points yang ditetapkan oleh manajemen MRT dapat berkurang. Silvi menuturkan itu tak hanya berimbas pada penilaian saat pembangunan saja, tetapi untuk masa mendatang.

"Semakin banyak demerit points yang dilanggar membuat nilai rapor mereka jelek. Ini tentu menjadi penilaian kami saat mereka melakukan bidding [penawaran lelang] untuk fase II atau proyek lainnya," imbuhnya.

Meski hasil akhir pekerjaan yang dilakukan konstraktor cukup rapi dan sesuai desain, MRT Jakarta bisa tak meloloskan mereka untuk ikut serta dalam proyek di masa depan karena rapor merah demerit points.

Karena itu, Silvia  meminta kontraktor untuk memastikan dan mengedepankan faktor keselamatan serta keamanan kerja kepada sub-kontraktor hingga pekerja di lapangan.

"Kami tidak main-main soal safety works. Skema demerit points ini sifatnya jangka panjang atau long term effect," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mrt

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top