Kasus Stunting di Jakarta 25%, Begini Penjelasan Anies

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya untuk mengentaskan permasalahan stunting atau gizi buruk di Ibu Kota.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 16 September 2018 15:41 WIB
Gubernur DKI Anies Baswedan memberi sambutan dalam Deklarasi Komitmen dan Kampanye Nasional Pencegahan Stunting di Silang Monas Sisi Barat, Jakarta Pusat, Minggu (16/9). - Dok. Humas Pemprov DKI

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya untuk mengentaskan permasalahan stunting atau gizi buruk di Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan bahwa gizi merupakan faktor paling penting dalam masa pertumbuhan anak. Kasus kekurangan gizi di Indonesia, khususnya di Jakarta, merupakan permasalahan mendasar yang perlu segera ditangani dengan baik.

Bentuk pencegahan penyakit kekurangan gizi memerlukan keterlibatan dari berbagai pemangku kepentingan dan masyarakat. Dengan demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berharap kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dapat terus dilakukan agar bisa mengentaskan masalah ini.

“Jakarta menyambut baik dan mendukung Kampanye Nasional Pencegahan Stunting. Masalah stunting ini adalah satu dari sekian banyak deretan masalah ketimpangan. Jadi, kita ingin dari pemerintah pusat juga ada dukungan, kita bereskan sama-sama faktor yang menyebabkan kemiskinan lintas generasi. Jika hari ini di Jakarta ada 27% kasus stunting, untuk berikutnya lagi, Jakarta sudah bebas stunting,” ujar Anies dalam Deklarasi Komitmen dan Kampanye Nasional Pencegahan Stunting di Silang Monas Sisi Barat, Jakarta Pusat, Minggu (16/9/2018).

“Sama-sama kita seriuskan, nanti akan ada program-program bersama dengan lintas kedinasan. Kita ingin memastikan bahwa intervensi gizi sensitif itu bisa secara serius kita tuntaskan,” ujar Anies lagi.

Menurutnya, prevalensi stunting di perkotaan memang lebih rendah dibanding di pedesaan. Adapun jumlah prevalensi penderita gizi buruk di perkotaan jumlahnya mencapai 32%, sedangkan pedesaan mencapai 42%.

Dia berharap tumbuh perilaku dan kesadaran dari dalam keluarga terutama para orang tua terhadap makanan sehat dan bergizi untuk anak-anak, khususnya dalam 1.000 hari pertama kehidupannya. 

“Angka ini harus kita kurangi dan, harusnya di Jakarta sudah tidak ada lagi anak yang stunting. Para orangtua harus lebih serius melihat makanan dan asupan yang diberikan kepada anak-anak, terutama di 1.000 hari pertama kehidupan, karena di situlah sebenarnya kuncinya,” tambah Anies.

Seperti diketahui, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan ia lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Kondisi ini disebabkan oleh tidak tercukupinya asupan kebutuhan gizi anak.

Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Stunting juga bisa terjadi akibat asupan gizi saat anak masih di bawah usia dua tahun tidak tercukupi.

Tag : stunting
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top