Solusi Kualitas Udara Bergantung Komitmen Pemprov DKI

Solusi atas kian buruknya kualitas udara Jakarta akan bergantung pada komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 18 Agustus 2019  |  01:07 WIB
Solusi Kualitas Udara Bergantung Komitmen Pemprov DKI
Suasana gedung-gedung bertingkat di Jakarta diselimuti asap polusi. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Solusi atas kian buruknya kualitas udara Jakarta akan bergantung pada komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Koaksi Indonesia menyebutkan, angka Air Quality Index (AQI) di DKI Jakarta adalah sebesar 161, dengan keterangan unhealthy.

Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga menyebutkan sumber polusi ibu kota terbagi menjadi empat, yakni transportasi darat (75 persen), pembangkit listrik dan pemanas (9 persen), pembakaran industri (8 persen), dan pembakaran domestik (8 persen).

Adila Isfandiari, Climate and Energy Researcher Greenpeace Indonesia, menyatakan saat ini perlu dilakukan inventarisasi emisi yang terbesar, dan juga melihat parameter yang digunakan.

“Demikian juga lokasi keberadaan, seperti industri yang kebanyakan berada di luar wilayah DKI Jakarta, apakah langsung berpengaruh ke DKI Jakarta. Bagaimana dengan kendaraan bermotor bernomor polisi di luar DKI seperti Tangerang dan Bekasi yang juga masuk melintas di DKI Jakarta,” katanya melalui keterangan resmi Sabtu (17/8/2019).

Tidak hanya itu, pembangkit listrik yang ada juga berlokasi di luar Jakarta, atau jauh dari pusat kota Jakarta. Keberadaan pembangkit listrik dengan batubara (PLTU) milik PLN itu, tidak hanya terletak di luar kota, tetapi juga jauh dari potensi menyebarkan polusi.

“Oleh karena itu perlu ditilik lagi sumbernya disebabkan oleh apa saja, seperti misalnya pembakaran sampah. Selain itu perlu dipertimbangkan di sini, kebijakan apa yang diambil terkait dengan hal tersebut,” tambahnya.

Azis Kurniawan Manajer Riset dan Pengembangan Koaksi Indonesia dalam kesempatan tersebut mengemukakan, Gubernur DKI yang mengeluarkan Instruksi Gubernur No. 66 tahun 2019 pada awal bulan ini tentang Percepatan Pelaksanaan Pengendalian Kualitas Udara Jakarta, sekaligus juga sudah memerintahkan semua gedung milik Pemerintah Daerah akan dipasangi PLTS Rooftop.

Selain Kementerian ESDM yang telah memasang PLTS Rooftop di seluruh gedungnya, Pemda DKI juga akan segera mengikuti arahan Menteri ESDM tersebut. Targetnya tahun 2022 pemasangan PLTS Rooftop akan selesai di DKI.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Tanpa Timbal Ahmad Safrudin (Puput) mengatakan upaya lain yang perlu dilakukan adalah dengan menekan emisi gas buang dari kendaraan bermotor salah satunya dilakukan melalui uji emisi.

Sebenarnya aturan uji wajib uji emisi yang saat ini menjadi bagian dari Insgub No. 66 tahun 2019, beberapa tahun sebelumnya sudah ada dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

“Yang belum dilaksanakan adalah implementasinya, karena dalam peraturan lama tersebut, dikatakan kendaraan bermotor wajib memenuhi ambang batas emisi gas buang kendaraan; kendaraan bermotor juga wajib menjalani emisi sekurang-kurangnya setiap enam bulan. Sedangkan kendaraan yang lulus uji emisi akan mendapat tanda lulus uji emisi,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
polusi udara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top