Polusi Udara Jakarta, Megawati: Kan Malu Ya…

Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri turut menyoroti polusi udara yang mengkhawatirkan di DKI Jakarta.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  12:15 WIB
Polusi Udara Jakarta, Megawati: Kan Malu Ya…
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Senin (29/7/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri turut menyoroti polusi udara yang mengkhawatirkan di DKI Jakarta.

Menurut Megawati, Pemerintah Daerah DKI Jakarta harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna mencari solusinya.

"Kan malu ya, katanya udah paling tinggi lho," ujarnya dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (28/8/2019) malam.

Dia menerangkan bahwa ide-ide sudah banyak muncul, dari mobil berbahan bakar bensin digantikan ahan bakar gas hingga listrik. Maka pemerintah pusat dan daerah harus segera memutuskan kebijakan dan pelaksanaannya.

"Harus bisa mengimbangi, polusi (udara di Jakarta) juga."

Pada 11 Agustus 2019, misalnya, kualitas udara menurut Air Quality Index (AQI) pada angka 171 --- angka terendah sejauh ini. Levelnya sudah merah yang berarti tidak sehat.

Berdasarkan pemantauan AirVisual, kualitas udara DKI Jakarta beberapa kali menjadi yang terburuk di dunia. Pemakaian mobil listrik diharapkan bisa mengurangi emisi hingga 30 persen.

Dinas Lingkungan Hidup Jakarta menilai 75 persen penyebab polusi udara di Jakarta adalah transportasi, sisanya industri dan domestik. Itu sebabnya pengurangan polusi fokus pada transportasi.

Megawati menjelaskan kalaupun nanti Jakarta tidak lagi menjadi Ibu Kota RI masalah polusi harus tetap diselesaikan.

Ketua Umum PDIP itu lantas mengatakan ketika menjabat Presdien RI pada 2001-2004, dia pernah meminta dilakukan studi soal jumlah kendaraan di Jakarta pada 2025 berikut panjang jalan yang dibutuhkan.

"Ternyata tidak akan bisa menyusul panjang jalan dengan jumlah kendaraan," tuturnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
megawati, pdip, polusi jakarta

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top