Panen Sebabkan Deflasi, Manajemen Pasokan Jadi Kunci

Kendati pada September 2019 DKI Jakarta mengalami deflasi sebesar 0,04% (m-t-m), ketersediaan pasokan perlu menjadi perhatian agar target sasaran inflasi sebesar 3,5% 1% tercapai di akhir tahun.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  01:22 WIB
Panen Sebabkan Deflasi, Manajemen Pasokan Jadi Kunci
Pedagang merapikan telur di Pasar Senen, Jakarta, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati pada September 2019 DKI Jakarta mengalami deflasi sebesar 0,04% (m-t-m), ketersediaan pasokan perlu menjadi perhatian agar target sasaran inflasi sebesar 3,5% ± 1% tercapai di akhir tahun.

Sebab, apabila mengacu periode 2018, DKI Jakarta pun mengalami tren penurunan pada pertengahan tahun hingga mencapai puncaknya, yakni deflasi pada bulan September 2018 (-0,13%). Namun, tiga bulan berikutnya, inflasi terus melonjak, yakni 0,28% pada Oktober 2018; 0,30% pada November 2018; dan 0,60% pada Desember 2018.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Hamid Ponco Wibowo menjelaskan bahwa pada tahun ini, DKI Jakarta mengalami hal serupa. Sampai dengan September 2019, laju inflasi tercatat sebesar 2,51% (y-t-d), mirip dengan September 2019 ketika itu berada di angka 2,07% (y-t-d).

Pada September, tekanan inflasi lebih rendah dibandingkan dengan bulan Agustus yang mencatat inflasi sebesar 0,17% (mtm). Perkembangan ini melanjutkan tren penurunan yang terjadi sejak bulan Juni 2019. Turunnya tekanan inflasi dipengaruhi oleh deflasi pada kelompok pengeluaran Bahan Makanan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan hal serupa. Dari tujuh kelompok pengeluaran yang diteliti, kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu kelompok bahan makanan (-1,47%). Dengan sumbangan deflasi terbesar meliputi cabai merah (-0,067%); daging ayam ras (-0,064%); bawang merah (-0,024%); dan telur ayam ras (-0,02%).

Ponco menilai bahwa deflasi yang bersumber dari subkelompok bumbu-bumbuan ini sejalan dengan membaiknya pasokan, seiring panen yang terjadi di beberapa daerah penghasil.

"Selain itu, terdapat tambahan pasokan cabai hasil lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui contract farming yaitu di wilayah Ciangir, Banten. Untuk komoditas bawang merah, pasokan dari Brebes dan Jawa Barat sudah mulai masuk ke Pasar Induk Kramat Jati," tambahnya.

Oleh sebab itu, Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan Regional Bank Indonesia DKI Jakarta Diana Permatasari menambahkan ketercukupan pasokan akibat panen bawang merah, cabai, serta panen gadu padi pada bulan September perlu dimanajemen dengan baik.

"Saran untuk pemprov adalah menjaga ketersediaan pasokan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan liburan akhir tahun," ungkap Diana kepada Bisnis, Rabu (2/10/2019).

Kepala Hubungan Masyarakat PD Pasar Jaya Amanda Gita Dinanjar sepakat bahwa pihaknya akan membantu pemprov memenuhi kebutuhan pasokan.

"Saat ini kita terus pertahankan ketersediaan pasokan, karena sebentar lagi akan masuk masa penghujan. Faktor penghujan banyak berpengaruh, khususnya gagal panen dan jalur distribusi yang bisa terputus," jelasnya kepada Bisnis, Rabu (2/10/2019).

Komitmen Pasar Jaya untuk menjaga ketersediaan akan terus ditingkatkan lewat penambahan mesin Controlled Atmosphere Storage (CAS) untuk cabai atau bawang, dan mesin Cold Storage (CS) untuk daging.

Pasar Jaya pun telah mengajukan penyertaan modal daerah (PMD) ke APBD DKI Jakarta tahun 2020 sebesar Rp12,94 miliar. Hal ini demi menambah penyebaran mesin CAS telah mencapai 7 unit dengan kapasitas 15 ton dan mesin CS 8 unit dengan kapasitas 20 ton milik Pasar Jaya di seantero Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Jakarta, Inflasi

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top