Perumahan Elite PIK Terdampak Kekeringan, Harus Berbagi Air Truk Tangki

Kawasan permukiman elite Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara ikut terdampak musim kemarau panjang tahun ini. 
JIBI
JIBI - Bisnis.com 05 Oktober 2019  |  10:43 WIB
Perumahan Elite PIK Terdampak Kekeringan, Harus Berbagi Air Truk Tangki
Air bersih. - jibi

Bisnis.com, JAKARTA - Kawasan permukiman elite Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara ikut terdampak kekeringan akibat musim kemarau tahun ini. 

Kekeringan membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih dan berharap jaringan air bersih PAM Jaya bisa masuk kawasan tersebut.

“Saya ambil air sampai harus ke rumah mertua di daerah Pluit. Gosok gigi saja pakai air minum karena takut airnya kotor dan asin begitu,” kata seorang warga PIK yang tidak bersedia namanya diberitakan, Jumat (4/10/2019).

Hakim, Ketua RW 7 Pantai Indah Kapuk, mengatakan kalau air tak mengucur dari keran selalu terjadi setiap kemarau sejak lima tahun terakhir. Dia menduga itu karena sumber pengolahan air bersih di kawasan itu yang mengandalkan sumber dari sungai.

"Otomatis kalau musim kemarau semakin lama kan sungai juga semakin kering,” katanya.

Hermanto Doni, Ketua RT 12 RW 7, menerangkan bahwa belakangan pengembang menyalurkan air bersih menggunakan truk-truk tangki. Itu pun sempat airnya keruh dan asin. "Sekarang sudah tidak keruh dan asin lagi tapi memang jumlahnya yang terbatas," katanya.

Ketersediaan air dari pengembang dengan jumlah rumah atau keluarga di kawasan PIK tidak sebanding. Dia menyebut hanya satu sampai empat truk tangki tersedia per kluster per hari. "Jadi harus bagi-bagi berapa liter per rumahnya,” kata Hermanto.

Atur-atur pembagian air bersih oleh warga permukiman elit ini juga diamini Bambang Irwanto, Ketua RT 11. “Sampai-sampai di grup percakapan Whatsapp saya minta list yang mau air dari tangki siapa saja? Yang membutuhkan di RT saya bisa sampai 50 orang,” katanya. 

Walaupun sampai saat ini masalah keterbatasan air ini belum kunjung diselesaikan, mereka mengatakan pengembang tetap bertanggung jawab. Namun jika memang hal ini terus terjadi setiap kemarau dari tahun ke tahun dan tidak ada perubahan, mereka menyampaikan keinginan agar pengembang bekerja sama dengan PDAM.

“Harapan kami kalau memang mereka ga sanggup memberikan air bersih, biarkan pipa PAM masuk. Jadi kami juga dapet air dari PDAM. Investasi yang mereka [pengembang] sudah lakukan untuk pengolahan air bersih ya kami ga ganggu gugat, kami tetap bayar,” kata warga yang pertama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
air bersih, kekeringan

Sumber : Tempo.co

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top