Jakarta, Si Rawa Rentan Banjir yang Memesona Sejak Kerajaan Hindu

Jakarta masih belum mampu lepas dari banjir atau mungkin memang tidak akan pernah lepas dari banjir. Namun, kenapa Jakarta bisa dipilih jadi ibu kota Indonesia bahkan diperebutkan sejak era Kerajaan Hindu di Indonesia ya?
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai - Bisnis.com 06 Januari 2020  |  17:31 WIB
Jakarta, Si Rawa Rentan Banjir yang Memesona Sejak Kerajaan Hindu
Sejarah Jakarta yang sudah banjir sejak era Tarumanegara. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Ingat lagu Kompor Meleduk Benyamin S yang salah satu liriknya adalah Jakarta kebanjiran di Bogor angin ngamuk.

Rumah ane kebanjiran gara-gara got mampet,” menjadi lirik baris keempat lagu seniman Betawi tersebut.

Lagu itu seolah menggambarkan kalau di Bogor lagi angin ngamuk atau hujan bisa membuat Jakarta kebanjiran. Itulah yang terjadi di ibu kota selama ribuan tahun terakhir.

Lalu, jika sudah terjadi sejak lama, kenapa Jakarta tetap menjadi salah satu kota eksis?

Jika dilihat dari sejarah, daerah Jakarta dan sekitarnya atau Jabodetabek yang rentan banjir menjadi daerah favorit sejak zaman Kerajaan Tarumanegara.

Dari Prasasti Tugu dijelaskan kalau kawasan Jakarta sudah dilanda banjir sejak abad ke-4 sampai 5.

Prasasti yang disimpan di Museum Nasional Indonesia itu menceritakan Raja Ketiga Tarumanegara Purnawarman yang memindahkan pusat kerajaan dari Jayasinghapura atau puncak Jasinga [sebelah barat Bogor] ke Sundapura [dekat Bekasi] pada 397 masehi.

Alasan pemindahan pusat kerajaan itu antara lain karena posisi Sundapura dekat dengan pinggir laut alias daerah pesisir. Apalagi di sana juga banyak sungai yang mengalir ke laut. Dengan filosofi air adalah sumber kehidupan, dia pun mendekatkan kerajaan dengan sumber air di sana.

banjir jakarta

Sayangnya, Sundapura yang memiliki banyak sungai itu kerap banjir. Untuk itu, Raja Purnawarman mengatasinya dengan memerintahkan pembangunan kanal di aliran Sungai Gomati [Kali Cakung] dan Sungai Candrabhaga [Kali Bekasi] pada 417 masehi.

Daerah Jakarta dan sekitarnya tetap eksis meskipun berganti era dari kerajaan hindu-buddha menjadi islam.

Hal itu terbukti betapa menggodanya pelabuhan Sunda Kelapa untuk disinggahi para pedagang. Apalagi, para pedagang dari Arab dan China konon sering berdagang di sana.

Ditambah, para pelayar Eropa juga mulai sampai ke daerah Asia Tenggara tersebut.

Tome Pires, seorang penjelajah Portugis, menjadi salah satu alasan Alfonso d’Albuquerque berkunjung ke Sunda Kelapa.

Tome menceritakan kalau ada pelabuhan yang sangat ramai dikunjungi oleh pedagang dari Sumatra, Malaka, Sulawesi, Jawa, bahkan di luar dari pulau-pulau tersebut.

banjir jakarta

Dia mendesripsikan kalau Sunda Kelapa adalah muara yang dilindungi oleh beberapa pulau [Kepulauan Seribu]. Daerah Sunda Kelapa juga memiliki sungai yang bisa disinggahi 10 kapal dengan muatan hingga 100 ton.

Dari situ, Alfonso langsung mengutus Henrique Leme untuk bertemu dengan Raja Sunda. Dalam obrolannya, Alfonso ingin bekerja sama dengan Raja Sunda untuk membangun benteng keamanan di Sunda Kelapa.

Tujuannya, untuk melawan pihak dari Cirebon yang ekspansif. Melihat kerja sama antara Raja Sunda dengan Portugis melalui Alfonso, Kerajaan Demak pun merasa terancam sehingga terjadilah perebutan daerah di Sunda Kelapa tersebut.

Kisah perebutan Sunda Kelapa berlanjut hingga era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendarat di wilayah Jawa. VOC memang berhasil menaklukan Sunda Kelapa yang kala itu sudah berada di wilayah Jayakarta.

banjir jakarta

Setelah kemenangan itu, Jan Pieterszoon Coen pun langsung mendirikan kota di sana dengan nama Batavia. Sayangnya, dari era Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.P Coen sampai AWL Tjarda van Starkenborgh Stachoewer, masalah banjir di Batavia tak bisa diatasi.

Melihat sejarah itu, penulis Amerika Serikat yang sempat bekerja sebagai Staf Kantor Penerangan AS di Jakarta menyoroti keputusan JP Coen yang mendirikan kota di atas rawa-rawa, yakni Batavia alias Jakarta.

"Andaikan dia memilih tempat lain yang lebih tinggi, setidaknya persoalan banjir dapat dikurangi dan tidak memusingkan pemimpin selanjutnya," katanya.

Komentar warga Amerika Serikat itu mungkin benar adanya, sampai saat ini banjir menjadi masalah terbesar Jakarta. Bahkan, sudah 17 gubernur Jakarta yang memimpin belum juga menemukan strategi yang pas untuk mengatasi banjir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Banjir Jakarta

Editor : Surya Rianto
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top