Ini Alasan Logis Normalisasi Sungai di DKI Gunakan Beton Bukan Pohon

Penanganan Sungai Ciliwung lewat naturalisasi sungai, dengan banyak pepohonan, sempadan sungai yang tak 'lurus' agar aliran lebih tenang, dan kawasan serapan air yang terbuka, sebenarnya lebih ideal.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 21 Januari 2020  |  13:30 WIB
Ini Alasan Logis Normalisasi Sungai di DKI Gunakan Beton Bukan Pohon
Normalisasi sungai untuk menghindari Jakarta dari banjir. - Pemprovdki

Bisnis.com, JAKARTA - Penanganan Sungai Ciliwung lewat naturalisasi sungai, dengan banyak pepohonan, sempadan sungai yang tak 'lurus' agar aliran lebih tenang, dan kawasan serapan air yang terbuka, sebenarnya lebih ideal.

Hal ini diakui Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bambang Hidayah.

Namun, keterbatasan lahan menjadi faktor utama perubahan desain menjadi lebih kompak, lewat konsep normalisasi.

"Dalam peraturannya Garis Sempadan Sungai (GSS) untuk Sungai Ciliwung panjang sempadan sungai adalah 2 x 15 m, kiri dan kanan sungai. Sementara yang tersedia di DKI Jakarta ini umumnya hanya 2 x 7,5 m," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (21/1/2019).

"Maka, lebar yang terbatas tersebut kami manfaatkan utk kebutuhan pemeliharaan sungai. Untuk pengerukan sungai yang harus rutin dilakukan. Karena sungai Ciliwung ini setiap harinya menampung sedimen yang terbawa dari hulu, sehingga perlu dilakukan pengerukan rutin atau berkala," tambahnya.

Hal ini juga demi menanggapi kritikan terhadap desain normalisasi, yang sempadan sungainya disulap sebagai jalan inspeksi yang bisa dilewati kendaraan.

Oleh sebab itu, dalam desain normalisasi ini fungsi sempadan sungai sebagai ruang terbuka hijau yang menjamin kelestarian dan fungsi sungai, serta menjaga masyarakat dari bahaya bencana di sekitar sungai, dinilai tak optimal.

"Untuk melakukan pengerukan, diperlukan jalan inspeksi untuk alat berat seperti escavator, dumptruck, dan lain-lain," jelasnya.

"Untuk naturalisasi bagus dilakukan, tapi kita butuh [lebar total sungai] 100 meter minimal. Paling tidak satu sungai lebar 100 meter, padahal bentang Sungai Ciliwung itu lebarnya saja cuma 40-50 m di Manggarai," tambahnya.

Bambang menjelaskan bahwa untuk membebaskan lahan untuk desain normalisasi saja, hambatannya begitu berat.

Padahal, proyek ini direncanakan terselenggara sepanjang 33 km, yang diharapkan bisa menambah kapasitas air sepanjang sungai hingga 570 m3/detik.

"Saat ini sudah selesai 16 km, sisanya 17 km menunggu pembebasan lahan oleh Pemda DKI sehingga debit yang bisa dialirkan ±300 m3/detik," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
banjir

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top