Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Konsumsi Masyarakat Ibu Kota Diragukan Pulih, Begini Kata Kadin

Kadin DKI Jakarta pesimistis lantaran belum terjadi pergerakan yang signifikan pada ekonomi Ibu Kota, kecuali di bidang konsumsi dan farmasi
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 31 Agustus 2020  |  18:59 WIB
Sejumlah pekerja berjalan usai bekerja dengan latar belakang gedung perkantoran di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Pemprov DKI Jakarta akan memberikan sanksi berupa mencabut perizinan kepada perusahaan yang tetap beroperasi di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kecuali delapan sektor yang memang diizinkan. - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Sejumlah pekerja berjalan usai bekerja dengan latar belakang gedung perkantoran di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Pemprov DKI Jakarta akan memberikan sanksi berupa mencabut perizinan kepada perusahaan yang tetap beroperasi di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kecuali delapan sektor yang memang diizinkan. - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi DKI Jakarta pesimistis tingkat konsumsi masyarakat pada semester II/2020 pulih kembali kendati mulai menunjukkan tren perbaikan, khususnya di sektor kuliner.

Hal itu diungkapkan Ketua Kadin DKI Jakarta Diana Dewi saat ditanya ihwal proyeksi konsumsi masyarakat DKI Jakarta pada semester II/2020 dan tahun berikutnya.

“Saya masih pesimis belum terjadi pergerakan yang signifikan, cuma perekonomian khususnya di bidang konsumsi dan farmasi itu saja yang terjadi pertumbuhan tetapi di sektor lain belum ada pertumbuhan,” kata Diana melalui sambungan telepon pada Senin (31/8/2020).

Dia beralasan perekonomian di DKI Jakarta sempat turun hingga 60 persen akibat pandemi Covid-19. Dengan demikian, terjadi pelambatan yang signifikan pada tingkat konsumsi masyarakat.

“Seperti yang sering saya sampaikan penurunan ekonomi di DKI sampai ke 60 persen,” ujarnya.

Angka itu diperoleh dari survei yang dilakukan setiap dua bulan sekali kepada 9.000 anggota aktif Kadin yang terdiri dari UMKM dan korporasi.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta memproyeksikan pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada 2020 bakal minus 0,5 persen sebagai buntut dari krisis pandemi Covid-19.

“Proyeksi kami secara konservatif kemarin pada 2020 masih positif, ini kami baru dapat informasi dari BPS pertumbuhannya minus 8,2 persen di mana di kuartal I dan kuartal II masih positif lima persen tetapi secara keseluruhan pada 2020 dengan tim Indef melakukan proyeksi pertumbuhan ekonomi ini menjadi minus 0,5 persen,” kata kepala Bappeda DKI Nasruddin Djoko Surjono dalam unggahan video Youtube Pemprov DKI Jakarta.

Keterangan itu disampaikan dalam rapat pimpinan gubernur ihwal perkembangan revisi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah atau RPJMD DKI 2017-2022 pada 7 Agustus 2020 lalu. Video baru diunggah pada Jumat (14/8/2020).

Dia menjelaskan bahwa angka konservatif tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang juga diperkirakan berada pada kisaran itu. “Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi pada 2021 bakal naik menjadi 5,05 persen dan menjadi 5,85 persen pada 2022,” ujarnya.

Ihwal realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta, menurut dia, diproyeksikan sebesar Rp47 hingga Rp58 triliun. “Lalu realisasi APBD pada 2021 senilai Rp69 triliun dan Rp73 hingga Rp75 triliun pada 2022,” kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dki jakarta konsumsi covid-19
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top