Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Daging Sapi Beku Ternyata Punya Banyak Keunggulan, Apa Saja?

Selain kualitas yang terjamin, daging beku yang beredar di Tanah Air pun dipastikan telah bersertifikasi halal.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 23 April 2021  |  15:51 WIB
Pembeli memilih daging sapi pada hari pertama Meugang (meugang kecil) jelang Ramadan 1437 hijriah di pasar tradisional Inpres Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Sabtu (4/6). - Antara
Pembeli memilih daging sapi pada hari pertama Meugang (meugang kecil) jelang Ramadan 1437 hijriah di pasar tradisional Inpres Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Sabtu (4/6). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Daging sapi beku belum menjadi pilihan utama untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia. Padahal, daging beku memiliki banyak keunggulan dibandingkan daging segar.

Selain kualitas yang terjamin, daging beku yang beredar di Tanah Air pun dipastikan telah bersertifikasi halal. Founder PT Suri Nusantara Jaya Diana Dewi mengatakan proses pengecekan terhadap kualitas produk daging beku yang diimpor sangat ketat.

"Jika produk yang masuk tidak disimpan dengan suhu tertentu, maka produk tersebut akan re-ekspor. Kehalalan daging beku juga terjamin. Saat masuk ke Indonesia, salah satu persyaratan yang tidak bisa dilewatkan adalah sertifikat halal," kata Diana dalam webinar Klub Jurnalis Ekonomi Jakarta bertajuk "Memasyarakatkan Daging Beku, Upaya Mengurangi Ketergantungan Terhadap Daging Segar", Kamis (22/4/2021).

Dia menuturkan keberadaan daging beku juga dapat menolong industri dalam menjaga kualitas produk olahan. Dengan adanya daging beku, lanjutnya, standardisasi atas kualitas dari produk olahan bisa tercapai.

Namun, dia tak menampik daging beku memang belum terlalu diterima oleh pasar karena dianggap daging sudah lama dan tidak segar sehingga tidak layak.

"Dengan adanya daging beku, pelaku usaha hotel, restoran, dan katering bisa mendapatkan produk yang standarnya sesuai keinginan mereka," jelasnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan Pemprov DKI memiliki memiliki peran dan tanggung jawab besar dalam menyiapkan dan menjaga kualitas daging agar layak dikonsumsi oleh masyarakat. Salah satunya dengan meningkatkan penyediaan stok daging sapi beku.

Terkait stok di masa Ramadan, Ariza menegaskan ketersediaan daging dalam kondisi aman. Berdasarkan data dari PD Dharma Jaya, kata Ariza, stok daging sapi saat ini kurang lebih 838 ton. Sementara itu, kebutuhan daging sapi pada hari besar dan keagamaan nasional, yaitu Ramadhan dan Lebaran kurang lebih 150 ton.

"Mengingat tingginya angka konsumsi DKI Jakarta, maka untuk memenuhi kebutuhan itu, Pemprov DKI membeli daging dari dalam negeri maupun impor," ucapnya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Suharini Eliawati menjelaskan sejumlah keunggulan daging beku dibandingkan daging segar.

Pertama, kandungan nutrisi di daging beku dapat terjaga dalam waktu yang lama. Sementara daging segar cepat hilang. Kedua, daging segar dinilainya cepat membusuk. Ketiga, daging beku memiliki mutu seragam sehingga daging berada dalam kondisi baik dan segar dalam jangka waktu yang lama.

Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Harry Warganegara, mengatakan, konsumsi daging di Indonesia cukup tinggi.
Berdasarkan data dari kementerian terkait, kata dia, kebutuhan daging pada 2020 mencapai 717.150 ton. Di sisi lain, produksi dalam negeri hanya mencapai 422.533 ton.

Harry mengatakan realisasi impor daging beku pada 2020 mencapai 387.506 ton. Jumlah itu terdiri atas daging kerbau beku sebanyak 81.618 ton dan daging sapi beku sebanyak 189.698 ton.

"Untuk daging kerbau, berdikari mendatangkan 24 ribu ton. Sedangkan daging sapi beku sebanyak 1.825 ton," kata Harry.


REKOMENDASI BI

Deputi Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta Suharman Tabrani menjelaskan kebutuhan daging sapi Indonesia dipasok oleh sapi lokal sebanyak 59 persen, sisanya diimpor dalam bentuk daging, sapi hidup, dan daging kerbau.

Selain masalah impor, budaya masyarakat Indonesia yang lebih memilih daging sapi segar turut berkontribusi pada pergerakan harga daging sapi. Data pada 2018 menunjukkan total konsumsi daging sapi dan kerbau mencapai 678.903 ton.

Suharman menyampaikan tiga rekomendasi yang perlu diperhatikan para pemangku kepentingan. Pertama, peningkatan komunikasi kepada masyarakat untuk mengonsumsi daging beku yang berkualitas.

"Kedua, pemantauan risiko keamanan dan kualitas daging beku. Ketiga adalah pembenahan jalur tata niaga aneka daging dan sistem produksi," jelasnya.

Sementara itu, Pemimpin Grup Kredit UMK Bank DKI Wahyudi mengatakan pihaknya berupaya berkontribusi dalam program yang berkaitan dengan pangan. Salah satunya dengan memberikan pembiayaan kepada importir daging sapi beku.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging sapi Pemprov DKI daging impor
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top