Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kawasan Industri Daerah Penyangga Dituding Jadi Biang Kerok Polusi Jakarta

Puhak BMKG menyampaikan bahwa penyebab polusi di Jakarta tak hanya emisi kendaraan bermotor tapi juga buangan kawasan industri yang berlokasi di daerah penyangga.
Pernita Hestin Untari
Pernita Hestin Untari - Bisnis.com 19 Juli 2022  |  18:14 WIB
Kawasan Industri Daerah Penyangga Dituding Jadi Biang Kerok Polusi Jakarta
Koordinator Sub Bidang Informasi Gas Rumah Kaca BMKG Alberth Christian Nahas menyampaikan bahwa penyebab polusi di Jakarta tak hanya emisi kendaraan bermotor tapi juga buangan kawasan industri yang berlokasi di daerah penyangga - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Koordinator Sub Bidang Informasi Gas Rumah Kaca BMKG Alberth Christian Nahas menyampaikan bahwa penyebab polusi di Jakarta tak hanya emisi kendaraan bermotor tapi juga buangan pabrik atau industri yang berlokasi di sejumlah daerah penyangga.

Alberth menggarisbawahi hasil sebuah studi yang menunjukkan bahwa berkurangnya volume kendaraan saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jakarta tidak mempengaruhi kualitas udara. Menurutnya, hal itu membuktikan bahwa ada sumber polutan lain berperan besar terhadap polusi udara di Ibu Kota.

"Kemarin ada PPKM tapi kok polusi udara kita masih tinggi, karena mungkin kita bisa mengurangi emisi induk dari transportasi, tapi ada emisi lain yang justru meningkat," kata Alberth dalam Bicara Udara Journalist Class 2022 di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (19/7/2022).

Lebih lanjut, Alberth mengungkapkan bahwa kontribusi polusi udara pada wilayah urban ada tiga, yakni transportasi, industri, dan energi. Pasalnya ketiga bidang tersebut mengonsumsi bahan bakar penyebab polusi.

"Jadi selain transportasi biasanya dari sumber energi dan industri. Wilayah seperti Jakarta masalah utamanya kaitannya dengan transportasi kalau macet. Wilayah sekitar Jakarta, kota penyangga itu ada kawasan industri itu merupakan bagian yang berkontribusi [pada polusi]," katanya.

Meskipun demikian, Alberth menegaskan pihaknya tidak bisa membeberkan terkait siapa yang paling berkontribusi dalam masalah polusi udara ini. Terlebih, menurutnya hal tersebut bukan kewenangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Kalau dari BMKG melihat seperti apa, kalau kemarin kondisi kualitas udara memburuk itu tertangkap sinyal, kita mengantisipasi dari mana. Tapi kita dari BMKG bukan kewenangan kita untuk bicara ini salahnya siapa atau dampaknya kalau dampaknya kan ada KLHK [Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan] dan Kemenkes [Kementerian Kesehatan]," ungkapnya.

Adapun, polusi udara masih menjadi masalah di DKI Jakarta. Menurut laporan indeks AQI US, Jakarta menempati posisi kedua dalam daftar dengan kualitas udara terburuk di dunia, pada Selasa (12/7/2022).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga sempat menyinggung bahwa memburuk kualitas udara di Jakarta bukan hanya berasal dari Ibu Kota. Dia kemudian meminta kepala daerah di sekitar Jakarta untuk menindak tegas pihak yang berperan dalam perburukan kualitas udara.

Dia mencontohkan, izin lingkungan PT Karya Citra Nusantara (KCN) dicabut imbas dugaan pencemaran batu bara di kawasan Marunda, Jakarta Utara.

"Kami berharap semua wilayah karena dampak kualitas udara kan bukan hanya dari Jakarta itu ditindak. Kalau perlu lakukan pemberhentian izin operasinya karena mengganggu kesehatan masyarakat. Ini yang kami butuhkan kerja sama seluruh wilayah. Ambil langkah jelas dan tunjuk siapa saja yang menjadi kontributor penurunan kualitas udara di Jawa bagian barat kan bukan hanya Jakarta saja," kata Anies di Plaza Selatan Monumen Nasional (Monas), Rabu (22/6/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dki jakarta polusi udara kualitas udara kawasan industri Anies Baswedan BMKG
Editor : Aprianus Doni Tolok
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top