Tarif Listrik Dongkrak Inflasi Jakarta

Laju inflasi DKI Jakarta November tercatat 0,14% yang diakibatkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 15% yang dilakukan bertahap dengan rata-rata kenaikan 4,3% per tiga bulan. Kenaikan TDL terakhir pada 1 Oktober yang langsung berdampak pada kenaikan harga sewa rumah dan kontrakan.
Akhirul Anwar
Akhirul Anwar - Bisnis.com 02 Desember 2013  |  16:08 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Laju inflasi DKI Jakarta November tercatat 0,14% yang diakibatkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 15% secara bertahap dengan rata-rata kenaikan 4,3% per 3 bulan. Kenaikan TDL terakhir pada 1 Oktober yang langsung berdampak pada kenaikan harga sewa rumah dan kontrakan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta Nyoto Widodo mengatakan kenaikan tarif listrik tahun ini mengakibatkan laju inflasi tahun berjalan mencapai 7,16% dan secara year on year menembus 7,76%. Namun diperkirakan hingga akhir tahun ini tidak sampai menembus batas psikologi 10%.

“Intinya laju inflasi belum mencapai batas psikologis dua digit sehingga masih terkendali dalam satu dua bulan ini. November kami mengalami inflasi 0,14% lebih tinggi dibandingkan nasional 0,12%,” katanya di kantor BPS DKI, Senin (2/12/2013).

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS DKI Dody Rudyanto menegaskan kenaikan TDL paling terasa pada November kemarin meskipun kenaikannya dilakukan setiap 3 bulan.

Hal itu membuat sewa rumah membengkak sehingga tarif listrik menyumbang inflasi terbesar yakni 0,08%. “Naiknya kan per triwulan tetapi paling terasa November kemarin,” ujarnya.

Komoditas lain yang mempengaruhi harga adalah bahan makanan terkait pasokan bawang merah, bawang putih dan kelapa yang sedikit tersendat.

Secara umum kenaikannya tidak terlalu signifikan sehingga masih bisa dikatakan dalam batas wajar.

Faktor internal berupa depresiasi rupiah juga mulai berpengaruh terhadap harga barang-barang impor di Jakarta, misalnya VCD player, tape radio dan mobil.

Dalam 3 bulan terakhir nilai tukar rupiah terhadap US$ mengalami pelemahan ke kisaran Rp11.500 – 12.000 telah menyumbang kenaikan harga barang dalam skala kecil.

Adapun perkembangan ekspor produk DKI Oktober mencapai US$ 1.056,96 juta meningkat 11,76% dibandingkan bulan sebelumnya.

Pasar utama tujuan ekspor paling besar Asia 40,37% dengan tujuh komoditas unggulan, yakni kendaraan dan bagiannya US$ 62,46 juta , peralatan listrik US$ 16,74 juta, ikan dan udang US$ 12,80 juta, peralatan mekanik US$ 9,81 juta, lemak dan minyak nabati US$ 9,44 juta, plastik dan barang plastik US$ 2,66 juta dan barang rajutan US$1,19 juta. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kenaikan tdl, bps dki jakarta

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top