Layanan Darurat 119 Bakal Terima Pengaduan KDRT

Pemprov DKI Jakarta mengembangkan layanan gawat darurat 119 atau Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (PGDT) untuk melaporkan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
News Editor | 02 Desember 2013 16:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta berencana mengembangkan layanan gawat darurat 119 atau Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (PGDT), menyusul maraknya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialami perempuan dan anak di Ibu Kota.

"Kita mau kembangkan layanan 119 supaya bukan hanya menerima keluhan sakit, rumah sakit atau rawat inap, tetapi juga bisa jadi tempat melapor kasus-kasus KDRT," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (2/12/2013).

Menurut dia, sejak pertama kali dioperasikan, yakni 1 Maret 2013, layanan 119 hanya dapat memberikan informasi terkait pelayanan gawat darurat, seperti ketersediaan ruang rawat inap, ICU, ICCU, NICU dan PICU.

"Selama ini, kasus-kasus KDRT, seperti pemukulan atau kekerasan seksual terhadap ibu dan anak dilaporkan dulu ke puskesmas kecamatan, kemudian baru diteruskan ke polisi," ujar Basuki.

Oleh karena itu, dia menuturkan, para operator layanan gawat darurat tersebut akan dilatih oleh Komisi Nasional (Komnas) Perempuan sehingga dapat melayani pengaduan kasus KDRT.

Ahok mengatakan Komnas Perempuan sudah bersedia memberikan pelatihan kepada para operator layanan 119 sehingga mampu melayani aduan yang disampaikan oleh korban KDRT.

"Pengembangan layanan ini dimaksudkan supaya warga, terutama korban KDRT, bisa lebih mudah mengingat nomor yang dapat dihubungi kalau-kalau terjadi sesuatu. Makanya, nomor ini kita bikin hanya tiga nomor," tutur Basuki.

Dia menambahkan jika rencana tersebut berhasil, maka selanjutnya layanan 119 juga akan diintegrasikan dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar dan PB) DKI Jakarta.

Sumber : Antara

Tag : ahok, kdrt, darurat
Editor :

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top